Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #42

H+6 | Jerat

Sabtu, 29 Agustus 2026

Sakit. Rasanya kepalaku sangat sakit. Tubuhku terasa kaku. Aku tidak mampu bergerak. 

Saat aku membuka mata, cahaya yang sangat terang menyilaukan mataku. Aku merasa sangat lelah, aku ingin tidur. Tapi, aku tidak bisa, karena aku ingat apa yang baru saja terjadi. 

Nenek Santika, Gara, dan keluarganya. Mereka dimana?! Aku ingin bangkit, namun tubuhku terasa berat. Setelah kuperhatikan lamat-lamat, rupanya tubuhku telah tertambat di sebuah kursi. Tanganku terikat di belakang kursi itu, sedangkan kakiku diikat dalam posisi menyilang. Bicara, aku berusaha bicara. Tetapi tidak ada suara. Mulutku ternyata dibekap dengan sebuah kain berwarna hitam. 

Plak!

Saat aku mulai panik, suara tamparan keras itu menyentakku. Bukan aku yang ditampar, melainkan orang lain. Aku mendongak, dan aku menemukan semua anggota keluarga Naratama tengah berdiri di hadapanku. Kecuali satu orang yang aku temukan tadi, Santika.

Rupanya sekarang aku berada di kamar tamu.

“Arya, kenapa kau memukul Gara?” Mutia bergeser menutupi tubuh Gara. Bukan Tante Mutia. Aku tidak mau lagi memanggil orang-orang ini dengan panggilan hormat. 

“Ini semua perbuatannya! Kenapa dia membawa gadis yang penasaran ke sini! Aku kira kau sebelumnya sudah bilang akan menikahi gadis bodoh, yang keluarganya cacat, sehingga dia tidak perlu mengurusi urusan keluarga kita! Tapi, kenapa gadis sialan ini bisa tahu rahasia kita?!” Arya tampak dilingkupi kemarahan. Dia juga bukan lagi Om Arya yang aku kenal tenang dan bijaksana. Sekarang ia tampak seperti monster mengerikan. “Apa kau lupa kenapa nenekmu mendekam di ruangan bawah tanah yang pengap dan gelap itu, hidup seperti orang mati?! Itu karena kau! Karena kau membunuh anak bermata biru itu, Gara!”

Aku kesulitan bereaksi terhadap apa yang baru saja aku lihat dan dengar. Tenggorokanku terasa seperti menelan batu besar, aku ingin menangis. Perasaan benci, takut, marah, semuanya bercampur di saat yang sama.

Gara. Gara membunuh Kakak Mata-mata Biru?! Tapi, bagaimana bisa? Bukankah Mata-mata Biru bilang Gara tidak ada di rumah ini saat kakaknya menghilang?

“Aku tidak tahu dia akan sadar soal Nenek. Karena tidak biasanya Nenek muncul seperti itu,” jawab Gara. Rasanya aku ingin sekali berteriak dan meminta penjelasan atas semua ini padanya. Namun, mulutku dibekap.

“Nenek demensia,” sahut Dipa, dia satu-satunya orang yang tampak tenang. “Dia lupa kau pernah membunuh seseorang. Sekarang dia seperti hidup di masa lalu. Dia bahkan mengira kau adalah Kakek. Karena kau mirip dengan Kakek. Di hari kita bermain golf, dia berhasil keluar melalui pintu rahasia di lemari kamarku. Dia hampir mendobrak pintu saat aku masuk ke kamar. Nenek menggertak dan bilang aku harus menangkap perempuan itu, yang bermain golf dengan kita. Reina. 

Lihat selengkapnya