Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #43

H+6 | Pengakuan

Jarum jam pendek mulai mendekati angka satu. Sudah lebih dari setengah jam sejak keluarga Naratama meninggalkanku di kamar ini. Selama mereka pergi, aku sudah berulang kali mencoba melepaskan diri. Kedua tanganku sampai terasa begitu perih karena aku terus menariknya. Jeratan tali mereka begitu kencang. 

Saat aku berusaha melepaskan jerat–entah untuk keberapa kalinya–aku mendengar pintu kamar dibuka. Aku sontak menggeliat.

“HMMPH! HMMPH!!” pekikku putus asa. 

“Lakukan sesuai rencana kita. Biar aku yang berjaga di sini.” Gara berhenti di ambang pintu dan bicara pada keluarganya.

“Seharusnya Dipa saja. Kau yakin tidak akan melepaskan perempuan itu?” tanya Arya.

“Biarkan saja dia, Ayah. Aku tidak mau duduk di sana untuk mendengar teriakan Reina. Dia berisik sekali.”

“Gara, berhati-hatilah,” pesan Mutia.

Gara membalas, dengan suara lembut sialannya, “Ya, Bu. Pastikan diri kalian aman saat mempersiapkannya. Itu akan sedikit berbahaya.” Suara yang sama yang menipuku selama ini.

Pintu ditutup kembali. Gara berjalan ke depanku. Darahku berdesir seiring ia memangkas jarak. Aku takut. Jelas-jelas aku mendengar lewat perbincangan mereka, Gara dan keluarganya sedang berkomplot untuk merencanakan sesuatu. Sesuatu yang berbahaya, untukku.

Lihat selengkapnya