Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #46

H+6 | Semburat Merah

Rasanya basah. Wajahku basah oleh air mata. Mulutku kaku karena terlilit kain. Dan, hatiku sakit akibat mendengar cerita mengerikan yang baru saja dituturkan Gara.

Betapa teganya dia dan keluarganya. Mereka membunuh seorang anak. Anak yang hanya ingin mengambil apa yang menjadi haknya. Anak yang hanya ingin terbebas dari penderitaan panjang bersama adiknya. Setelah semua yang keluarga Naratama perbuat pada nenek dan ibunya, emas bahkan tidak cukup untuk membayar penderitaan yang mereka alami. Tapi, Gara malah membunuh anak itu.

Lebih buruk lagi, setelah dia mati, mereka tidak membiarkan mayatnya dimakamkan secara utuh, mereka merusak tubuhnya yang sudah tidak berdaya, sudah tidak bisa melawan. Betapa tidak adil. Usai bertahan melewati hidup yang sulit, anak itu menemui jalan buntu dan jasadnya hanya dianggap seperti seonggok daging oleh keluarga Naratama. Sementara selama belasan tahun, adiknya terus mencari dan mencari, hanya untuk melihat keluarga Naratama bisa melanjutkan hidup seolah-olah peristiwa itu tidak pernah terjadi.

Aku berteriak. Histeris. Meski mulutku dibekap, aku berteriak. Menyuarakan kemarahanku. 

“Kenapa kau marah?” Pertanyaan dingin itu meluncur dari mulut Gara. Pria brengsek yang masih bisa duduk santai di atas kasur. 

“HMPHH! HMPPH!” Aku berteriak tertahan di balik kain.

“Yah, kau terdengar lebih buruk dengan kain itu. Akan aku lepaskan.” Gara bangkit dan menarik kasar kain itu.

“BAJINGAN! IBLIS! KAU PANTAS MATI! KAU DAN KELUARGAMU AKAN MENERIMA GANJARANNYA!”

“Hei! Hei! Pelan-pelan, pembuluh darahmu bisa pecah jika berteriak sekencang itu.”

Ada suara ketukan pintu. Aku memutar kepala menghadap pintu yang ada di belakangku. Gara membukanya, Mutia muncul di ambang pintu. 

“Gara? Apa ada masalah, sayang?”

“Tidak, Bu. Dia hanya sedikit emosional.” Gara bergeser, memperlihatkan diriku pada Mutia. “Apa semuanya sudah siap?”

“Sebentar lagi. Berhati-hatilah dengan perempuan itu.” Pintu kembali ditutup usai aku mendapat delikan tajam dari Mutia.

Gara bersedekap, kini dia kembali berdiri di depanku. “Kau sepertinya tidak memahami inti dari ceritaku barusan, Reina. Tidakkah kau melihat bahwa keluargaku–”

“Apa?! Bahwa keluargamu itu iblis kejam yang mencuri harta orang lain dan membunuh cucunya?!”

Gara menelengkan kepalanya. Aku yakin dia sedang marah. Tapi, dia menghela napas, lalu tersenyum sinis kepadaku.

“Bukan. Ini mengenai loyalitas keluargaku. Bukankah sudah jelas kami bisa dipercaya. Dengar….” Gara mendekatkan wajahnya ke depan wajahku. Dia tersenyum padaku, kali ini senyuman yang berbeda, senyuman yang sama yang sering dia tampilkan. Senyuman merayu. Entahlah, dia mungkin hanya memasangnya sebagai topeng. “Ini semua tidak akan terjadi jika kau tidak mencari-cari hal yang jelas sudah kami sembunyikan. Aku yakin, setelah semua yang terjadi pada keluargamu, kau selalu menginginkan keluarga sempurna. Kamilah keluarga yang kau cari, Reina. Aku, Ayah, Ibu, Kak Alia, dan Kak Dipa. Kami tepat di depan matamu. Kau bisa hidup bahagia bersama kami. Kau hanya perlu menerima kami, dan mengabaikan masa lalu kami.”

Menerima. Aku ingat pernah membaca kalimat itu di salah satu surel Mata-mata Biru. 

Menerima seseorang berarti bersedia berbagi, berbagi kebahagiaan dengannya. Menerima seseorang berarti bersedia menanggung, menanggung penderitaannya. Menerima seseorang berarti mengabaikan, mengabaikan kekurangannya. Menerima seseorang berarti memaafkan, memaafkan kesalahan-kesalahannya.

Aku menatap Gara lagi. 

Apakah aku bersedia menerima keluarga Naratama? Awalnya, ya. Merekalah keluarga impian yang selama ini aku cari. Sekarang, tidak. Tidak setelah aku tahu apa yang mereka lakukan pada kakak Mata-mata Biru. Menerima Keluarga Naratama sama halnya dengan menerima api yang membakar adikku. Kakak Mata-mata Biru sama dengan Ranti. Dia adalah saudara seseorang, anak seseorang, dan cucu seseorang. Bagi keluarganya dia berharga. Sama berharganya seperti Ranti dimataku.

“Tidak,” kataku akhirnya, dengan suara bergetar.

“Apa?” Gara berlagak pekak.

Lihat selengkapnya