Berdasarkan Catatan Amelia (1925-1958)
Semua masalah ini disebabkan oleh cinta seorang perempuan muda. Namanya Amelia Van den Bosch. Amelia adalah putri tunggal seorang aristokrat Belanda yang lahir pada tahun 1925. Ia gadis cantik dengan rambut kuning pucat dan mata biru. Amelia menjalani masa kanak-kanak yang menyenangkan karena menjadi anak tunggal dari orang tua yang kaya raya. Mr. dan Mrs. Van den Bosch memiliki banyak tanah di Kota S, tempat Mr. Van den Bosch bekerja.
Ketika ia beranjak remaja, Amelia mulai menunjukkan kegemaran pada tanaman bunga. Di belakang rumah mereka, Mr. Van den Bosch membuatkan taman kecil yang ditanami berbagai jenis bunga lokal. Supaya ada yang merawat tanaman Amelia, mereka mencarikan tukang kebun yang berpengalaman.
Saat itulah seorang pria muda bernama Ardas datang menawarkan diri. Tidak ada yang tau asal usulnya. Ardas hanya mengatakan bahwa dia berasal dari Pulau B, dan menyeberangi lautan untuk mencari pekerjaan. Tak disangka, Ardas orang yang sangat pintar mengurusi bunga-bunga. Bunga yang Ardas rawat tumbuh dengan subur dan indah. Sehingga Mr. Van den Bosch mengabaikan asal usul Ardas karena putrinya, Amelia, senang dengan hasil kerja Ardas.
Setiap kali pulang dari sekolah atau punya waktu luang, Amelia selalu menyempatkan diri duduk minum teh sambil menatap bunga-bunganya. Di taman itu, Ardas menanamkan melati dan mawar dan sedap malam dan anggrek. Lama-lama, mata Amelia tak lagi hanya mengarah pada bunga-bunga saja, dirinya yang sudah remaja dan memiliki hasrat cinta, mulai mengalihkan pandang pada sosok Ardas yang selalu berlalu lalang di taman bunganya.
Ardas mungkin tidak memiliki rambut pirang, kulit porselen, atau mata biru. Pemuda itu berkulit kecoklatan, hanya memakai pakaian lusuh, berkeringat, kotor, namun dia punya senyuman lembut. Kadang-kadang, ketika melewati taman, tatapan Ardas tak sengaja bertemu dengan tatapan Amelia, lalu pemuda itu akan tersenyum seraya menunduk hormat. Sesuatu yang jarang Amelia lihat dari para pemuda bermata biru yang sombong yang suka mengangkat dagu mereka ketika berpapasan dengan Amelia.
Lambat laun, bunga-bunga menjadi tidak menarik lagi, ketika Ardas ada di taman. Amelia makin sering mengajak Ardas bicara. Merasa sang Nona membuka hati padanya, sikap segan Ardas juga perlahan luntur. Perasaan mereka bermekaran lebih cepat daripada bunga-bunga di taman itu.
Tahun 1941, saat Amelia berumur 16 tahun, tawaran perjodohan mulai berdatangan untuknya. Namun, kasih sayang terpendam Amelia pada Ardas membuat Amelia menolak semua itu, dengan berbagai alasan. Dia belum berani mengakui hubungannya dan Ardas karena takut pada orang tuanya. Bagaimanapun, mereka berasal dari kasta yang berbeda, Amelia seorang nona, sementara Ardas hanya pekebun rendahan.
Tawaran berulang kali tidak bisa terus ditolak, seorang pemuda Belanda akhirnya bisa sampai ke hadapan Amelia. Takut Ardas akan meninggalkannya, Amelia berusaha membuktikan kesetiaannya dengan mengajak pemuda berkulit putih itu mengobrol di taman. Amelia bahkan tidak mendengar perkenalan namanya, karena di taman, ia hanya terpaku pada sosok Ardas yang sedang menyayangi bunga-bunganya. Memupuk mereka, menyirami, menyanyikan senandung sembari tersenyum.
Namun, pria Belanda itu tidak mau diam. Amelia pun menanyakan sebuah pertanyaan pamungkas. Pertanyaan yang jika dijawab salah oleh pria itu, maka Amelia akan menolaknya saat itu juga.
“Tuan, jika aku adalah salah satu bunga di taman ini, bunga seperti apakah aku?”
Pria Belanda itu tertawa menggelegar, suara itu seperti ejekan bagi Amelia, dan pria itu malah makin membuat Amelia geram karena jawabannya.
“Untuk apa membandingkan kecantikanmu dengan bunga-bunga ini?” ucap pria Belanda itu. Matanya mengarah pada Ardas. “Apalagi jika bungamu dirawat oleh pribumi seperti dia. Menjijikkan.”
Amelia menatap Ardas dengan perasaan getir. Ardas tidak memahami perbincangan mereka dalam bahasa Belanda. Namun, di tempatnya, di tengah bunga-bunga itu, Ardas mendongak, menatap Amelia. Dan, dia justru tersenyum, senyum sopan yang selalu Ardas tunjukkan untuk Amelia.
Usai mengantar pemuda itu pulang bersama orang tuanya, Amelia berlari mendatangi Ardas di taman bunganya. Amelia menatap Ardas dengan beribu harapan. Amelia kemudian bertanya dengan suaranya yang lembut beraksen Belanda, mengucap bahasa Melayu dengan patah-patah. “Jika aku serupa bunga-bunga di taman ini, bunga seperti apakah aku, Ardas?”