Kasus kejahatan Keluarga Naratama tentu saja menjadi berita yang ramai diperbincangkan. Apalagi setelah kabar soal mereka memalsukan kematian Santika, tersebar.
Berita soal anak dari perempuan Belanda yang tidak diakui Ardas Naratama juga ikut tersebar. Itu adalah informasi yang sangat rahasia, tetapi tetap saja bocor akibat kelicikan pihak media. Entah darimana mereka mendapatkan cerita itu.
Pada akhir bulan September, kasus itu akhirnya masuk ke tahap persidangan. Keluarga Naratama menyewa banyak kuasa hukum. Mereka diam seribu bahasa dan tidak mau mengakui perbuatan mereka.
Walau nyatanya jenazah Evan dalam makam Santika sudah bisa menjadi bukti yang sangat kuat dan DNA Gara bahkan ditemukan di mayat itu, kuasa hukum mereka masih bisa berkelit dengan berbagai alasan; ada rival bisnis, pembalasan dendam pihak Keluarga Van den Bosch, dan segala bentuk sanggahan lainnya.
Jadi, semua orang menginginkan keterangan dariku. Karena aku mendengar langsung pengakuan Gara dan akulah yang menemukan tempat persembunyian Santika. Aku tidak bangga untuk itu, aku harus menghadapi tekanan berat dalam persidangan. Saat giliranku bersaksi kuasa hukum keluarga Naratama selalu melemparkan pertanyaan yang kasar dan menyinggungku.
Sabda juga melalui hal yang sama. Dia menjadi saksi kunci lagi untuk Evan. Berbeda denganku, Sabda sangat luwes selama proses persidangan. Dia bisa menjawab semua pertanyaan kuasa hukum keluarga Naratama dengan lugas. Bagaimanapun dia memang sudah menunggu lama untuk bisa menyuarakan kesaksiannya. Persidangan adalah hari-hari yang dinanti Sabda, dia telah siap untuk membela Evan.
Aku tidak pernah hadir di persidangan kecuali untuk kebutuhan bersaksi. Rasanya aku tidak sanggup melihat wajah Gara lagi. Rasanya masih begitu menyesakkan untuk berbagi udara dalam sebuah ruangan yang sama dengan Gara. Sehingga, setelah proses persidangan berakhir, aku memilih menyaksikan proses putusan melalui layar televisi. Karena kasus itu viral, persidangannya bahkan sampai ditayangkan lewat siaran langsung di televisi.