Maret 2027
Bus berdesing nyaring. Aku bangkit bersama penumpang lainnya menuju pintu keluar. Halte Taman Kota menyambutku di luar. Matahari bersinar terik sore ini, meski tidak terlalu panas, karena angin berhembus lembut memberi kesejukan.
Di akhir pekan, Taman Kota sangat ramai. Aku lupa apakah dulu seperti itu, karena sudah dua tahun berlalu sejak terakhir kali aku ke sini, bersama Gara. Dan, sudah belasan tahun sejak aku datang bersama keluargaku yang masih lengkap.
Taman Kota makin indah. Mereka menambah banyak koleksi tanaman berbeda. Bunga-bunga, pohon, rerumputan. Ada berbagai spot berfoto yang cantik. Mereka bahkan punya kolam! Aku bersemangat saat melihatnya. Kolam itu diisi banyak ikan koi yang bercorak indah.
Kebanyakan pengunjungnya adalah satu keluarga. Ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki. Ayah, ibu, nenek, dan dua anak kembar perempuan. Ayah, anak perempuan, dan satu anak laki-laki. Beberapa lengkap, beberapa berlebih, beberapa rumpang, tetapi mereka semua–setidaknya–tampak bahagia. Aku menatap gerombolan itu lewat sambil menikmati waktuku di bangku kosong yang berpayung dahan-dahan panjang pohon di belakangnya.
Sebenarnya aku sedang menunggu seseorang, dia belum tiba. Padahal aku pikir aku sudah terlambat tadi.
“Hari yang panas, bagus untuk sepotong es krim.” Sebuah es krim batang berwarna kuning disodorkan ke depanku.
Saat aku mendongak, aku mendapati Sabda berdiri setengah membungkuk di sebelahku.
“Terima kasih.” Aku mengambil es krim itu. Rupanya rasa nanas. Asam yang membuat bergidik, tapi terasa segar.
Sabda mengambil tempat di sebelahku, agak berjarak. Aku di pojok kiri, dia di pojok kanan. Dalam genggaman tangan kirinya, dia juga membawa es krim batang, warna ungu, mungkin rasa anggur?
“Aku kira kau tidak akan datang,” kata Sabda setelah mengambil satu gigitan di es krimnya.
Aku mengangkat kedua bahuku. “Hari ini aku libur. Tidak tahu mau melakukan apa. Karena kau bilang ingin bertemu di Taman Kota, aku rasa itu ide bagus untuk sedikit mencari udara segar.”
Sabda mengangguk sekali. “Jadi, bagaimana kabarmu, apakah semuanya baik?”
“Semua berjalan seperti biasanya. Entah itu baik atau buruk. Tapi, pekerjaanku semakin bertumpuk. Untungnya tidak ada telepon wartawan lagi. Itu melelahkan," keluhku.
“Kalau semua berjalan sesuai pada tempatnya, berarti itu kabar baik.”