Senin, 24 Agustus 2026
Pagi ini aku sengaja bangun jam 6 pagi untuk membantu Tante Mutia menyiapkan sarapan. Tante Mutia memasak menu sarapan yang berbeda-beda. Untuk Om Arya dan beliau sendiri, Tante Mutia membuat ubi rebus dan kopi. Buah segar untuk Kak Alia, dan sup ayam bawang untuk Kak Dipa. Aku menyiapkan sendiri menu sarapan untukku dan Gara, yaitu roti panggang. Bukan roti panggang biasa, itu adalah roti panggang yang dibuat dari roti tawar Djaya Bakery yang dibeli Gara kemarin. Aku tidak sabar menunjukkannya pada Gara.
“Pagi, Reina.” Om Arya yang pertama masuk ke dapur. Beliau tampak rapi dengan kemeja coklat tua dan celana kain berwarna putih gading. Di lengannya, Om Arya mengapit gulungan koran.
Aku mengangguk. “Pagi, Om.”
“Pagi….” Sapaan yang terdengar serak itu berasal dari Kak Alia. Dia tiba di dapur sambil mengucek matanya.
“Bu?! Apa sup ayam bawangku ada?!” Namun, hawa kantuk yang dibawa Kak Alia lenyap seketika disusul oleh kemunculan Kak Dipa yang tampak segar. Dia sepertinya habis mandi, karena rambut mullet-nya basah.
Kami semua sudah duduk di meja makan, keluarga Gara menyantap makanan mereka, kecuali aku, karena aku menunggu Gara, dan yang kutunggu masih belum menunjukkan batang hidungnya. Duduk sendirian di antara keluarga Naratama membuatku merasa canggung.
“Jadi, Reina, kau mau main golf hari ini?” Om Arya yang pertama mengeluarkan suara setelah beberapa saat hening.
“Iya, Om.”
“Pasti menyenangkan. Om sangat ingin ikut, sayang sekali Om harus pergi pagi-pagi ke acara pembukaan lapangan tenis teman Om di Kota J.”
“Tenang saja, Rei. Kita pasti akan bersenang-senang hari ini,” timpal Kak Dipa. Dia tersenyum lebar ke arahku.
Aku mengangguk sekali, lalu menatap pintu kamar Gara. Kenapa dia masih belum keluar? Gara bukan tipe orang yang bangun kesiangan. Dia terbiasa berolahraga di pagi hari dan sangat tertib soal jam tidur. Tidak biasanya dia bangun lambat.
Kak Dipa yang duduk di kursi di seberangku, sadar dengan tingkahku. Dia tiba-tiba menelengkan kepalanya dan menghalangi pandanganku. “Kau cari apa? Gara?” tanyanya sambil menyeringai.
“Iya, Kak. Kenapa dia belum bangun, ya?”