Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #40

2025

Di penghujung tahun 2025, aku akhirnya berpikir aku harus menyerah. Aku mendatangi Bapak dan Ibu untuk mengatakan bahwa aku telah kalah dari keluarga Naratama.

“Aku sudah melakukan semampuku, Pak. Aku rasa sudah saatnya aku kembali ke kehidupan normal, dan melupakan semua ini,” ujarku hari itu dengan kepala tertunduk dalam, rasanya aku ingin menangis. 

Menyerah pada Evan berarti aku akan menyerahkan diriku dilahap rasa bersalah seumur hidup. Evan tidak pernah menyerah padaku. Dia merawatku meski aku terus sakit, dan dia juga menghilang setelah berusaha membebaskanku dari panti asuhan. Menjalani kehidupan normal sedangkan Evan terbelenggu di suatu tempat, adalah pengkhianatan terbesar yang bisa aku lakukan.

Ibu menenangkanku. “Benar, Sabda. Kau harus kembali menjalani hidup normal. Setidaknya, kau sudah berusaha. Evan tidak akan membencimu.”

“Tapi, aku sudah berjanji, Bu….” Aku tersekat, akhirnya aku menangis juga. “Bagaimana bisa aku melanggar janjiku. Aku berjanji untuk mencarinya.”

Jika Ibu merangkulku, Bapak memilih diam menatapku untuk waktu yang lama. Membiarkanku menangis di hadapannya. 

“Sabda.” Namun, kemudian Bapak memanggilku dengan nada tegas. “Apa kau sudah mengikuti Algara Naratama?”

Aku mendongak. “Untuk apa? Dia tidak ada di malam kejadian, kan?”

“Sudahlah!” Ibu mengibaskan tangan ke arah Bapak. “Apa kau ingin menyuruhnya pergi menguntit lagi?! Dia sudah cukup menderita dengan semua ini.”

“Bukan. Aku hanya bertanya. Kalau saja dia juga bisa menemukan bukti dari Algara. Bagaimana menurutmu, Sabda?”

Akhirnya, aku memutuskan untuk menyelidiki Gara. Dia hampir tidak pernah muncul dalam catatan Bapak. Nama Alagara Naratama hanya disebut sekali. Bahwa dia tidak ada di malam Evan menghilang karena dia berada di asrama. Jika anggota keluarga Naratama yang lain punya bukti untuk alibi mereka, maka Gara sama sekali tidak memilikinya.

Setelah terus membaca urutan kejadian pada hari Evan menghilang, aku menemukan sesuatu yang aneh. Aku heran kenapa Gara tidak diajak berlibur padahal seharusnya saat itu sedang libur semester? Alia memang tidak sekolah formal, tapi ada Dipa di sana, dia libur sekolah makanya dia bisa menginap lama di rumah itu.

Kala aku bertanya kenapa Bapak tidak menyelidiki alibi Gara, Bapak menjawab, “Entahlah, sepertinya kami terlalu fokus pada orang-orang yang benar-benar ada di sana saat kami datang. Ada lima orang dengan kegiatan mencurigakan pada malam saat kakakmu menghilang, itu lebih penting daripada menyelidiki orang yang jelas-jelas tidak ada.”

Lihat selengkapnya