Mata-Mata Biru

Marsilea Alida
Chapter #16

H+1 | Keluarga Tujuh Orang

Pigura besar yang dipajang di atas televisi itu menampilkan tujuh anggota keluarga Naratama. Sepertinya potret mereka ini diambil puluhan tahun yang lalu. Semua orang masih tampak muda, Gara dan saudaranya masih anak-anak, rambut Om Arya dan Tante Mutia belum beruban, mendiang kakek dan nenek Gara juga masih ada di dalam potret itu.

Kakek Gara, Ardas Naratama, yang duduk di tengah-tengah menarik perhatianku. Gara sangat mirip dengan kakeknya. Aku bisa membayangkan Gara menua dengan wajah seperti itu. Yang berbeda hanyalah tatapan mereka. Gara kecil yang duduk di pangkuan kakeknya tampak tersenyum lebar, menampilkan gigi-giginya yang ompong. Sedangkan kakek Ardas tampak garang. Beliau menegakkan dagu dan menghunuskan tatapan tajam. Jika beliau masih hidup, mungkin aku akan segan memandang beliau.

Di sebelah kakeknya, ada nenek Gara, Santika Naratama. Beliau tampak sangat mencolok dengan pakaian melayu berwarna kuning pastel, lengkap dengan selendang yang tersampir di siku. Ada tumpukan kalung emas yang tergantung di leher beliau. Namun, emas-emas itu tak mengintimidasiku, karena beliau menyandingkannya dengan senyuman lembut. Kalau beliau masih hidup, mungkin aku akan cukup berani bertanya seberapa berat itu.

Sayangnya, kakek dan nenek Gara sudah lama meninggal. Aku tidak punya kesempatan untuk bertatap muka dengan mereka. Gara hanya bisa memperkenalkanku pada mereka ketika kami memperingati kematian nenek Santika beberapa bulan lalu.

“Kakek dan nenekmu itu orang seperti apa?” tanyaku pada Gara yang tengah duduk di sebelahku.

Kami sedang membuat daftar rencana persiapan pernikahan. Hanya berdua di ruang keluarga. Keluarga Gara sudah kembali ke bangunan depan. Aku belakangan menyadari bahwa keluarga Naratama selalu kembali ke kamar mereka setelah makan malam. Malam sebelumnya juga begitu. Mereka tidur cepat. Sepertinya itu kebiasaan mereka.

“Nenek orang yang tegas, tapi hanya ke orang tuaku, kalau ke cucunya, beliau selalu memanjakan kami. Nenek tidak berkata tidak padaku. Setiap aku mau membeli sesuatu, walau ibuku melarang, beliau akan diam-diam membelikannya untukku. Bagiku Nenek seperti malaikat.

“Kalau Kakek, aku tidak punya banyak kenangan dengan beliau. Beliau meninggal saat umurku masih tujuh tahun.” Gara memandang ke kejauhan. “Ayah bilang kalau Kakek mendidik anaknya dengan keras. Beliau pandai dalam mengambil keputusan penting dan selalu mengambil langkah beresiko. Berbeda jauh dengan ayahku yang lebih kalem.”

“Begitu, ya?” kutatap kembali pigura besar itu, sebelum beralih memindai pigura-pigura lain di ruang keluarga ini.

Lihat selengkapnya