DOR!
DOR!
DOR!
Suara dentuman keras itu membelah keheningan malam, memecah sunyi di pinggiran kota yang wajahnya telah hancur lebur akibat konflik berkepanjangan. Debu-debu puing gedung berterbangan di udara, bercampur erat dengan bau amis darah yang menyengat tajam hingga menusuk indra penciuman.
Di balik tumpukan reruntuhan beton yang sudah tak berbentuk lagi, seorang pria berdiri tegak. Napasnya teratur, terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang baru saja menghabisi tiga nyawa manusia hanya dalam hitungan detik.
Tangannya bergerak pelan meraba bahu kanannya. Darah segar merah tua merembes keluar, membasahi kain kemeja hitam mahal yang ia kenakan. Namun, tak ada satu pun kerutan kekecewaan atau rasa sakit yang terlukis di wajahnya. Ekspresinya tetap datar, sedingin es abadi di puncak pegunungan tertinggi Italia.
"Bos! Mereka terus berdatangan dari arah barat! Jumlah mereka banyak!" Suara tegas terdengar dari alat komunikasi kecil di telinganya, beradu dengan deru angin kencang yang menderu.
Pria itu, yang di dunia bawah tanah hanya dikenal dengan sebutan Bos, hanya mendengus pelan. Nama aslinya, Arkan Rizky Al-Fayed, hampir tak pernah lagi terdengar disebut orang. Di Italia, ia adalah Raja yang berkuasa mutlak. Namun di sini, di tanah asing yang penuh gejolak ini, ia adalah Malaikat Maut yang ditakuti oleh kawan maupun lawan.
"Habisi mereka semua. Jangan sisakan satu pun saksi mata yang hidup," jawab Arkan dengan suara berat, parau, dan berwibawa. Tak ada nada ragu sedikit pun di sana.
"Baik, Bos. Kau tunggu di tempat aman, aku dan pasukan lain akan memutar arah untuk menghalau mereka," balas suara dari seberang.
Arkan hanya mengangguk samar, matanya terpejam sesaat saat rasa nyeri yang tajam menjalar dari bahu ke seluruh tubuh bagian atas.
Bagi Arkan, kekerasan adalah bahasa yang paling ia pahami dan kuasai sejak masih kecil. Setiap kali ia menarik pelatuk senjata, ada kepuasan gelap yang menjalar di hatinya. Baginya, dunia ini kejam, tempat di mana hanya sosok yang paling kuat dan paling sadislah yang berhak bertahan hidup.
Arkan mencoba melangkahkan kaki menuju titik evakuasi yang telah ditentukan, namun langkahnya tiba-tiba terhuyung dan limbung. Pandangannya yang tajam mulai mengabur, berbayang-bayang. Ternyata peluru yang mengenainya bukanlah peluru biasa. Ada rasa panas yang membakar hebat, menyebar cepat melalui aliran darahnya hingga ke seluruh persendian. Racun? Atau mungkin ia memang telah kehilangan terlalu banyak darah?
Ia akhirnya jatuh berlutut di sebuah gang sempit yang gelap dan sepi, lalu bersandar lemas pada dinding bata yang kasar dan dingin. Di tengah kesadarannya yang mulai memudar, kilasan masa lalu tiba-tiba menghantam kepalanya dengan keras. Bayangan tangan ibunya yang selalu menggenggam ikat pinggang atau potongan kayu, rasa perih yang tak pernah hilang dari punggungnya sejak ia masih kecil, serta teriakan-teriakan penuh kebencian yang hingga kini masih bergema di telinganya.
"Wanita... Semuanya sama saja. Penipu. Pengkhianat. Penyakit," desis Arkan di sela giginya yang mengatup rapat. Kebencian mendalam itu adalah satu-satunya hal yang mampu membuatnya tetap terjaga saat kesadarannya perlahan mulai direnggut paksa.
Namun, di tengah keheningan yang mencekam itu, suara langkah kaki terdengar mendekat. Bukan langkah berat sepatu bot militer yang biasa ia dengar, melainkan langkah-langkah ringan yang berjalan penuh hati-hati.
Arkan berusaha keras mengangkat kembali senjatanya, namun tangannya terasa seberat timah. Sebuah berkas cahaya kecil dari senter menyorot tepat ke wajahnya yang penuh luka dan debu.
Arkan menyipitkan mata, berusaha beradaptasi dengan cahaya itu sambil bersiap memberikan perlawanan terakhirnya. Namun, sosok yang berdiri di hadapannya sama sekali bukan seorang tentara musuh.
Di sana, berdiri seorang gadis. Ia mengenakan jubah berwarna gelap, dengan kain putih bersih yang menutupi sebagian besar wajahnya hingga hanya menyisakan sepasang mata yang terbuka lebar. Cadar itu berkibar pelan tertiup angin malam yang dingin.
"Anda terluka cukup parah," ucap suara itu lembut, namun terselip ketegasan yang tak bisa ditawar. Ia berbicara dalam bahasa internasional yang fasih, dengan nada bicara dan aksen yang begitu asing bagi telinga Arkan.
"Jangan... Mendekat!" geram Arkan dengan sisa tenaganya, tangan kanannya masih gemetar berusaha menodongkan pistol ke arah sosok itu.
Gadis itu tidak mundur selangkah pun. Ia justru bergerak maju, lalu berjongkok tepat di depan Arkan dengan tenang, seolah mengabaikan moncong senjata yang kini mengarah tepat ke jantungnya.
"Saya seorang dokter. Jika Anda tidak membiarkan saya menghentikan pendarahan ini sekarang juga, saya pastikan Anda tidak akan melihat matahari terbit besok," ucap gadis itu tegas.
Arkan tertegun, seolah terhipnotis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh kekerasan dan kepalsuan, ia menatap sepasang mata yang sama sekali tidak memancarkan ketakutan, kebencian, nafsu, atau pun ambisi. Mata di balik cadar itu begitu jernih, begitu tenang... persis seperti permukaan telaga yang damai di tengah gurun pasir yang ganas.
Pandangan Arkan semakin menggelap. Detak jantungnya melambat drastis. Sebelum kesadarannya benar-benar runtuh dan hilang sepenuhnya, hal terakhir yang ia rasakan adalah sentuhan tangan lembut yang terbungkus sarung tangan medis. Rasa dingin dari obat yang dioleskan ke bahunya terasa begitu nyata, sebuah sentuhan yang sangat kontras dan berbeda dari tangan ibunya yang dulu selalu penuh amarah dan rasa sakit.
Dan saat itulah, hati sang Bos—yang selama puluhan tahun terkunci rapat di balik benteng es dan kebencian—bergetar pelan untuk pertama kalinya.
*
*
Aroma antiseptik yang tajam dan khas langsung menusuk indra penciuman Arkan jauh sebelum ia benar-benar membuka matanya. Sensasi panas membakar yang tadi ia rasakan di bahu kini berubah menjadi rasa nyut-nyutan konstan yang berdenyut perlahan, menandakan bahwa rasa sakit itu nyata dan masih ada. Ia mencoba menggerakkan jemarinya, merasakan tekstur kasar dari kain sprei di bawah telapak tangannya—jauh berbeda dari seprai sutra mewah yang biasa ia gunakan.
Kelopak matanya terbuka perlahan, langsung disambut oleh pemandangan langit-langit kusam dengan kipas angin tua yang berputar pelan berisik. Seketika, naluri bertahan hidup dan insting seorang pemimpin pasukan mengambil alih kesadarannya. Tanpa pikir panjang, Arkan mencoba bangkit dengan gerakan cepat, namun rasa sakit yang luar biasa seolah menghantam seluruh rongga dadanya begitu ia mengangkat tubuh.
"Arrgh... Damn it!" geramnya tertahan, gigi-giginya saling mengatup kuat menahan perih.
"Jangan dipaksakan. Luka Anda baru saja dijahit, Tuan."