BAB 1
Kota yang Asing
Bus yang membawa Damar Jati dari terminal kecamatan menuju Malang berhenti terlalu sering untuk ukuran orang yang tidak sabar, tapi bagi Damar sendiri, setiap kali bus berhenti menjemput penumpang baru di pinggir jalan, ia justru mendapat kesempatan menatap lebih lama pemandangan yang perlahan berubah di luar jendela sawah yang semakin jarang, digantikan bangunan-bangunan yang semakin rapat, jalan aspal yang semakin ramai oleh kendaraan bermotor yang jumlahnya jauh melebihi apa pun yang pernah ia lihat di desa maupun di kota kecamatan tempat SMA-nya berada.
Ketika bus akhirnya memasuki terminal kota, disambut suara klakson bersahutan, pedagang asongan yang menyodorkan dagangan lewat jendela, dan bau knalpot yang bercampur dengan aroma makanan dari warung-warung kaki lima, Damar Jati merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: rasa kecil. Bukan kecil dalam arti fisik, melainkan kecil dalam arti seorang anak desa yang tiba-tiba disadarkan betapa luasnya dunia yang selama ini hanya ia baca lewat buku-buku dan dengar lewat cerita orang-orang yang pernah merantau.
Ia turun dari bus dengan tas kain yang sama yang ia bawa sejak meninggalkan desanya, kini terasa lebih berat di pundaknya bukan karena isinya bertambah banyak, melainkan karena beban yang ia rasakan menghadapi kota yang begitu asing ini seorang diri.
Kos Sederhana
Alamat kos yang ia tuju didapatkan dari seorang kenalan jauh Mbah Sastro dulu seorang pensiunan guru bernama Pak Wongso yang menyewakan beberapa kamar sederhana di belakang rumahnya, tidak jauh dari kampus tempat Damar berencana mendaftar kuliah. Pak Wongso, yang sudah cukup uzur tapi masih tegap berjalan, menyambut Damar dengan ramah begitu mendengar nama Sastrodiharjo disebut.
“Sastrodiharjo dari desa lereng Kawi? Innalillahi, saya dengar kabar beliau sudah berpulang. Turut berduka cita, Nak,” katanya, menuntun Damar ke kamar kecil di bagian belakang rumahnya hanya cukup untuk sebuah dipan kayu, meja belajar sederhana, dan lemari pakaian yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa bagian. “Dulu, waktu saya masih mengajar di kecamatan, saya beberapa kali berurusan dengan beliau soal murid-murid dari desanya yang butuh keringanan biaya. Orangnya keras, tapi adil. Jarang ada pejabat desa seperti itu.”
Damar hanya mengangguk, merasakan kembali gelombang kerinduan yang belum sepenuhnya reda sejak kepergian kakeknya setahun lalu. “Terima kasih sudah mau menerima saya di sini, Pak.”
“Tidak masalah, Nak. Kamu bisa tinggal di sini asal rajin bayar sewa dan tidak bikin ribut,” kata Pak Wongso, tertawa kecil. “Kamar mandi di belakang, dipakai bersama tiga anak kos lain. Dapur juga bersama, tapi kalau mau masak sendiri, silakan beli bahannya sendiri-sendiri.”
Wajah-wajah Baru
Malam pertamanya di kos itu, Damar berkenalan dengan tiga penghuni lain yang tinggal di kamar-kamar sebelahnya. Yang pertama, Slamet Riyadi yang oleh teman-temannya biasa dipanggil Yadi untuk menghindari kebingungan dengan nama pahlawan nasional adalah mahasiswa tingkat tiga jurusan hukum, asal Madiun, yang caranya bicara cepat dan penuh lelucon membuat suasana kos yang tadinya terasa asing bagi Damar perlahan mencair.
Yang kedua, seorang pemuda pendiam bernama Ferry, keturunan Tionghoa dari Surabaya, yang jarang bicara kecuali ditanya langsung, tapi selalu bersedia membantu tanpa banyak berkomentar entah itu meminjamkan buku catatan, atau sekadar menunjukkan arah jalan bagi Damar yang masih buta arah di kota barunya.
Yang ketiga, seorang perempuan bernama Ratih, mahasiswi jurusan sastra, satu-satunya penghuni perempuan di kos itu tinggal di kamar yang aksesnya terpisah dari kamar-kamar laki-laki, tapi tetap makan bersama di dapur pada jam-jam tertentu, sehingga tanpa disengaja menjadi bagian dari lingkaran pertemanan kecil yang terbentuk di kos sederhana itu.
“Kamu dari desa mana, Mar?” tanya Yadi malam itu, ketika mereka semua berkumpul di dapur sambil menyeduh kopi tubruk yang uapnya mengepul hangat di tengah dinginnya malam kota pegunungan itu.
“Dari lereng Gunung Kawi,” jawab Damar. “Desa kecil, mungkin kalian belum pernah dengar namanya.”