PROLOG
Matahari Tengah Hari
Malang, 1985.
Kereta yang membawanya dari timur berhenti dengan suara panjang yang terdengar seperti keluhan.
Damar Jati turun dengan sebuah tas kain di tangan kanan dan sebuah buku tua di dalam tasnya.
Ia berdiri beberapa saat di peron.
Orang-orang bergerak cepat di sekelilingnya. Ada mahasiswa dengan jaket kampus, pedagang yang menawarkan makanan, buruh yang memanggul barang, perempuan-perempuan yang berjalan tergesa, dan suara kendaraan yang datang dari luar stasiun.
Damar memandang semuanya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Inilah kota.
Bukan desa tempat ia mengenal hampir setiap wajah. Bukan jalan tanah yang ia lalui sejak kecil. Bukan rumah dengan halaman yang pada sore hari dipenuhi suara ayam, anak-anak, dan percakapan orang-orang tua.
Di kota, setiap orang seperti sedang mengejar sesuatu.
Dan Damar belum tahu apa yang sedang ia kejar.
Ia hanya tahu satu hal.
Ia ingin kuliah.
Di dalam tasnya terdapat beberapa lembar pakaian, sedikit uang, surat-surat yang diperlukan untuk mendaftar, dan buku tua peninggalan Mbah Sastro.
Buku itulah yang paling sering disentuhnya selama perjalanan.
Bukan karena ia membutuhkannya untuk kuliah.
Bukan pula karena isinya mudah dipahami.
Ia membawanya karena buku itu seperti membawa suara seseorang yang sudah tidak ada.
Suara Mbah Sastro.
"Jangan takut kepada dunia, Mar."
Damar masih mengingat kalimat itu.
"Tapi jangan pula merasa sudah menguasainya."
Dulu ia menganggapnya sebagai nasihat seorang tua kepada cucunya.
Sekarang, ketika berdiri di tengah kota yang tidak mengenalnya, kalimat itu terasa berbeda.
Lebih berat.
Lebih dekat.
Damar memasukkan kembali buku itu ke dalam tas.
Ia kemudian berjalan keluar dari stasiun.
---
Kos yang ditemukannya berada di sebuah gang sempit.
Kamarnya kecil. Sebuah ranjang kayu, meja sederhana, kursi, lemari yang pintunya tidak bisa tertutup rapat, dan jendela yang menghadap ke tembok rumah sebelah.
Pemilik kos mengatakan bahwa kamar itu cukup untuk mahasiswa.
Damar tersenyum.
Baginya, kamar itu bukan sekadar cukup.
Kamar itu adalah awal.
Ia duduk di tepi ranjang dan membuka tas.
Buku tua itu dikeluarkannya.
Sampulnya sudah kusam.
Sudut-sudutnya mulai terkelupas.
Damar membolak-balik beberapa halaman tanpa benar-benar membacanya.
Kemudian ia berhenti pada sebuah kalimat yang pernah digarisbawahi Mbah Sastro.
Manusia paling mudah berubah ketika mendapatkan tiga hal: uang, kedudukan, dan kekuasaan.
Damar tersenyum kecil.
"Kalau begitu, aku belum perlu takut."
Ia belum punya uang.