MATAHARI TENGAH HARI

Prasetya
Chapter #2

BAB 2 Dunia Kampus dan Organisasi

BAB 2

Dunia Kampus dan Organisasi

Ajakan singkat Bagus Wirawan malam itu ternyata bukan basa-basi belaka. Seminggu kemudian, Damar Jati menerima secarik kertas yang diselipkan Yadi ke bawah pintu kamarnya undangan tertulis tangan untuk menghadiri pertemuan rutin sebuah kelompok diskusi mahasiswa yang menamakan diri Forum Kajian Sosial, disingkat FKS, yang menurut Yadi sudah berdiri sejak beberapa tahun sebelumnya dan dikenal sebagai salah satu kelompok diskusi paling serius di kampus, meski tidak seheboh organisasi-organisasi mahasiswa yang lebih terang-terangan berafiliasi dengan partai atau golongan tertentu.

“Kamu beruntung, Mar,” kata Yadi sambil menyerahkan kertas itu. “Bagus itu bukan orang sembarangan. Dia jarang ngajak orang baru langsung, biasanya orang-orang yang mau gabung FKS harus lewat proses pendekatan dulu berbulan-bulan.”

Damar menerima undangan itu dengan perasaan campur aduk antara penasaran dan sedikit gugup, mengingat pengalaman terakhirnya mencoba menengahi konflik di SMA dulu, yang meski berakhir dengan hasil yang cukup baik, tetap meninggalkan bekas peringatan tertulis di catatan sekolahnya.

Ruang Diskusi di Rumah Kayu

Pertemuan FKS diadakan bukan di lingkungan kampus, melainkan di sebuah rumah kayu tua milik salah satu dosen senior yang bersimpati pada kegiatan diskusi mahasiswa, terletak di sebuah gang sempit tidak jauh dari kampus. Ruangan yang dipakai untuk diskusi hanya berupa ruang tamu sederhana dengan tikar pandan digelar di lantai, mengingatkan Damar sedikit pada serambi rumah Mbah Sastro, meski suasana dan pembicaraan di dalamnya benar-benar berbeda.

Malam pertama Damar hadir, ruangan itu sudah dipenuhi sekitar dua puluh mahasiswa dari berbagai angkatan dan jurusan, duduk melingkar, dengan Bagus Wirawan berada di salah satu sudut, bukan di posisi yang menonjol sebagai pemimpin, melainkan berbaur seperti anggota biasa lainnya sebuah kebiasaan yang, Damar kemudian tahu, memang sengaja diterapkan FKS agar tidak ada satu sosok pun yang terlalu mendominasi jalannya diskusi.

Di antara wajah-wajah baru itu, Damar mulai mengenal beberapa nama yang kelak akan menjadi bagian penting dari kehidupannya selama bertahun-tahun ke depan.

Herlambang, mahasiswa jurusan ekonomi kelahiran Kliwon, punya cara bicara yang berapi-api dan penuh keyakinan, sering menjadi yang pertama angkat bicara dalam setiap topik, membawa semangat yang menular tapi kadang membuatnya terlalu cepat mengambil kesimpulan sebelum mendengarkan seluruh sudut pandang. Sartika, mahasiswi jurusan hukum kelahiran Pon, justru kebalikannya selalu berhati-hati sebelum berbicara, sering menjadi orang yang mempertanyakan asumsi-asumsi yang dianggap sudah pasti benar oleh anggota lain, membuat diskusi jadi lebih dalam meski kadang memperlambat jalannya pertemuan. Sukoco, mahasiswa jurusan teknik kelahiran Legi, jarang bicara panjang lebar, tapi setiap kali ia angkat bicara, isinya selalu praktis dan berorientasi pada solusi, jarang terjebak dalam perdebatan yang terlalu abstrak.

Damar sendiri, sebagaimana kebiasaannya sejak kecil, lebih banyak mendengarkan pada pertemuan-pertemuan pertamanya, mencoba memahami dinamika kelompok itu sebelum memutuskan kapan dan bagaimana ia akan ikut bersuara.

Ideologi-ideologi yang Bertabrakan

Semakin sering Damar menghadiri pertemuan FKS, semakin ia menyadari bahwa dunia mahasiswa jauh lebih rumit daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Di dalam forum yang sama, ia mendengar perdebatan sengit antara mereka yang percaya bahwa pembangunan ekonomi yang pesat adalah jalan satu-satunya menuju kesejahteraan rakyat, dengan mereka yang berpendapat bahwa pembangunan semacam itu, tanpa disertai pemerataan yang jujur, hanya akan memperlebar jurang antara yang kaya dan yang miskin persis seperti yang pernah ia amati sendiri semasa SMA lewat perbandingan hidupnya dengan Hendra dan Gunawan.

Ia juga mendengar perdebatan tentang peran agama dalam kehidupan bernegara sebagian mahasiswa yang religius berpendapat bahwa nilai-nilai agama harus menjadi fondasi utama kebijakan publik, sementara sebagian lain, termasuk beberapa yang juga taat beragama secara pribadi, berpendapat bahwa negara harus tetap netral demi menjaga keberagaman yang ada di dalamnya.

“Menurutmu bagaimana, Mar?” tanya Sartika suatu malam, ketika perdebatan tentang topik itu memanas dan seseorang tiba-tiba menoleh ke arah Damar yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.

Damar terdiam sejenak, mengingat kembali percakapan-percakapan panjangnya dengan Mbah Sastro dan Kyai Marzuki bertahun-tahun lalu tentang Islam yang tumbuh dari tanah Jawa, tentang bagaimana keduanya bisa berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan.

Lihat selengkapnya