MATAHARI TENGAH HARI

Prasetya
Chapter #3

BAB 3 Uang, Kerja, dan Kelas Sosial di Kota

BAB 3

Uang, Kerja, dan Kelas Sosial di Kota

Memasuki tahun kedua kuliahnya, Damar Jati mulai memahami bahwa kesenjangan yang pernah ia amati semasa SMA antara dirinya, Bimo, dan anak-anak seperti Hendra dan Gunawan ternyata hanyalah bayangan kecil dari kesenjangan yang jauh lebih besar dan lebih kompleks yang ia temui di kota. Di desa, kesenjangan itu masih bisa diukur dengan hal-hal sederhana: siapa yang punya sawah lebih luas, siapa yang bisa membeli pupuk lebih banyak. Di kota, kesenjangan itu berlapis-lapis, tersembunyi di balik gedung-gedung megah, mobil-mobil mengkilap, dan cara bicara orang-orang yang terdengar begitu percaya diri karena tidak pernah harus mempertanyakan dari mana uang untuk makan besok akan datang.

Toko buku tempat Damar bekerja paruh waktu terletak di kawasan yang cukup ramai dilalui mahasiswa dari berbagai latar belakang, dan dari balik meja kasir, Damar punya kesempatan mengamati langsung bagaimana kelas sosial memengaruhi hampir setiap aspek kehidupan mahasiswa di kota itu dari buku-buku apa yang mampu mereka beli, hingga cara mereka menghabiskan waktu luang.

Pertemuan yang Tak Terduga

Suatu sore, ketika Damar sedang menata rak buku baru yang datang dari distributor, seorang pemuda berpakaian rapi dengan jam tangan yang berkilau memasuki toko, ditemani dua orang temannya yang tampak sama modisnya. Damar hampir tidak mengenali wajah itu lebih berisi, potongan rambutnya mengikuti gaya kota yang sedang tren sampai pemuda itu sendiri yang terkejut lebih dulu.

“Damar? Damar Jati?”

Damar menoleh, dan butuh beberapa detik sebelum ia benar-benar mengenali sosok di depannya. “Gunawan?”

Keduanya berjabat tangan dengan canggung, tertawa kecil mengingat betapa anehnya bertemu teman lama dari SMA di sebuah toko buku kecil di kota yang begitu besar. Gunawan, yang kini kuliah di jurusan manajemen di sebuah universitas swasta ternama, bercerita bahwa ayahnya sang camat baru saja dipindahtugaskan ke kota itu sebagai pejabat di tingkat yang lebih tinggi, sehingga keluarganya sekarang menetap di sana.

“Kamu kerja di sini?” tanya Gunawan, menatap sekeliling toko dengan pandangan yang, meski tidak dimaksudkan merendahkan, tetap terasa sedikit canggung bagi Damar yang berdiri di balik meja kasir dengan seragam kerja sederhana.

“Iya, paruh waktu. Sambil kuliah Ilmu Pemerintahan,” jawab Damar, berusaha menjawab dengan nada biasa, meski ia menyadari ada jarak yang terbentang di antara mereka berdua yang tidak ada dulu semasa SMA atau mungkin, jarak itu memang selalu ada, hanya saja dulu tidak seterasa sekarang.

“Wah, keren juga. Nanti jadi pejabat kayak bapakku dong?” kata Gunawan, tertawa ringan, tidak bermaksud menyinggung, tapi kata-kata itu tetap menyentuh sesuatu di dalam diri Damar sebuah kesadaran bahwa bagi Gunawan, menjadi pejabat adalah jalur hidup yang wajar dan mudah dibayangkan, sementara bagi Damar sendiri, jalur semacam itu terasa jauh lebih rumit, penuh pertanyaan tentang integritas yang harus dijaga, sebagaimana yang selalu diajarkan Mbah Sastro.

“Belum tahu, Wan. Masih coba cari jalan sendiri dulu,” jawab Damar sederhana.

Setelah Gunawan dan teman-temannya membeli beberapa buku dengan cara membayar yang begitu ringan, tanpa perlu menghitung-hitung seperti kebanyakan mahasiswa lain yang sering menawar atau memilih buku bekas mereka berpamitan, dengan Gunawan berjanji akan mengajak Damar “main-main kapan-kapan”, sebuah janji yang keduanya sama-sama tahu kemungkinan besar tidak akan pernah benar-benar terealisasi, mengingat dunia yang mereka jalani kini sudah begitu berbeda arahnya.

Bimo, dari Kejauhan

Malam itu, sepulang kerja, Damar menulis surat panjang kepada Bimo, menceritakan pertemuannya dengan Gunawan siang itu bukan dengan nada iri atau sedih, melainkan dengan nada refleksi yang sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil, kebiasaan mengamati dan mempertanyakan alih-alih langsung menghakimi.

Lihat selengkapnya