BAB 4
Cinta dan Pilihan Hidup
Surat terakhir dari Retno datang di awal tahun 1989, lebih pendek dari surat-surat sebelumnya, dengan nada yang meski tetap hangat, terasa seperti penutup dari sebuah bab yang sudah lama sebenarnya mereka berdua sadari akan berakhir cepat atau lambat.
Mar,
Aku dengar dari teman-teman, kamu sekarang sibuk sekali dengan forum diskusimu. Aku senang dengar itu, kamu jadi orang yang aku kenal sejak SMA yang selalu punya pertanyaan besar tentang dunia.
Aku sendiri, bulan depan akan bertunangan dengan seorang teman kuliah di sini. Namanya Bramantyo, orangnya baik, satu almamater denganku. Aku pikir kamu perlu tahu ini dari aku langsung, bukan dari orang lain.
Terima kasih untuk semua kenangan kita, Mar. Aku tidak menyesali satu pun momen kita berdua. Semoga kamu menemukan apa yang kamu cari.
Retno
Damar membaca surat itu berulang kali di kamar kosnya, merasakan campuran perasaan yang sulit diuraikan bukan patah hati yang menghancurkan, melainkan semacam kesedihan tenang, seperti menutup halaman terakhir sebuah buku yang pernah begitu berarti, tapi yang ceritanya memang sudah selesai dengan caranya sendiri.
Ia membalas surat itu beberapa hari kemudian, dengan doa tulus untuk kebahagiaan Retno, dan sebuah ucapan terima kasih yang sama tulusnya terutama untuk malam ketika Retno mendorongnya bicara jujur kepada Mbah Sastro soal kesehatannya, sebuah nasihat yang memberinya kesempatan berharga untuk mendengar wasiat terakhir kakeknya sebelum benar-benar terlambat.
Kedekatan yang Tumbuh Perlahan
Sejak kunjungan ke kampung kumuh dan keputusan FKS menolak dana ayahnya, Tasya semakin sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan forum, meski tidak secara resmi menjadi anggota. Ia mulai ikut membantu kegiatan-kegiatan sosial FKS dengan caranya sendiri bukan lagi lewat uang, melainkan lewat tenaga dan waktu, mengajar membaca anak-anak di kampung yang pernah mereka kunjungi, atau membantu menerjemahkan dokumen-dokumen berbahasa asing yang kadang dibutuhkan forum untuk referensi diskusi.
Kedekatan antara Damar dan Tasya tumbuh perlahan, tanpa keduanya benar-benar menyadari kapan tepatnya pertemanan mereka mulai terasa lebih dari sekadar rekan diskusi. Yadi, yang selalu jeli memperhatikan dinamika di sekitarnya, adalah orang pertama yang secara terang-terangan menyindir hal itu.
“Kamu ini kalau lihat Tasya, matamu beda, Mar,” katanya suatu malam, sambil menyeruput kopi tubruknya di dapur kos seperti biasa. “Jangan bilang kamu tidak sadar.”
Damar tersenyum kikuk, tidak sepenuhnya menyangkal. “Aku cuma menghargai dia, Yadi. Dia tulus, beda dari yang aku kira awalnya.”
“Terus kenapa tidak bilang langsung ke dia?”
Damar terdiam, memikirkan berbagai pertimbangan yang selama ini ia simpan sendiri bukan hanya soal perasaannya, tapi juga soal jarak sosial yang begitu lebar antara dirinya dan Tasya, soal bagaimana keluarga besar Tasya, khususnya ayahnya, mungkin akan memandang seorang anak petani dari lereng gunung yang bahkan menolak bantuan dana mereka untuk forum diskusinya.
“Ada banyak hal yang harus dipikirkan, Yadi. Bukan cuma soal perasaan.”