MATAHARI TENGAH HARI

Prasetya
Chapter #5

BAB 5 Awal Karier dan Godaan Kekuasaan

BAB 5

Awal Karier dan Godaan Kekuasaan

Damar Jati lulus kuliah pada pertengahan tahun 1990 dengan predikat yang cukup memuaskan, dan setelah melalui serangkaian ujian penerimaan pegawai negeri yang cukup ketat, ia diterima bekerja di kantor pemerintahan daerah, ditempatkan di bagian yang mengurus perizinan dan tata ruang sebuah posisi yang, meski terdengar teknis dan tidak terlalu bergengsi, ternyata menjadi pintu masuk pertamanya ke dalam dunia birokrasi yang penuh dinamika, jauh lebih rumit daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya, bahkan setelah bertahun-tahun mendiskusikannya secara teoritis di FKS.

Pernikahannya dengan Tasya dilangsungkan setahun kemudian, pada awal 1991, dalam sebuah upacara yang memadukan tradisi Jawa dari pihak Damar dengan gaya yang lebih modern dari pihak keluarga Tasya sebuah kompromi yang, meski membutuhkan banyak diskusi dan penyesuaian dari kedua belah pihak, pada akhirnya berjalan dengan hangat, dihadiri baik warga desa lereng Gunung Kawi yang datang jauh-jauh menaiki beberapa truk yang disewa bersama-sama, maupun kalangan bisnis dan pejabat kenalan keluarga Tasya.

Hari-hari Pertama di Kantor

Minggu-minggu pertama Damar bekerja di kantor pemerintahan daerah dipenuhi dengan proses adaptasi yang tidak mudah. Ia harus belajar memahami birokrasi yang berlapis-lapis, prosedur yang kadang terasa berbelit-belit tanpa alasan yang jelas, dan yang paling menantang, budaya kerja yang sudah lama terbentuk di antara para pegawai senior budaya yang, ia sadari perlahan-lahan, tidak selalu sejalan dengan idealisme yang selama ini ia bawa dari dunia diskusi kampus.

Atasan langsungnya, seorang kepala seksi bernama Pak Slamet Hariyono yang oleh bawahannya biasa dipanggil Pak Har untuk membedakan dengan Slamet lain di kantor itu adalah seorang pegawai senior yang sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun, dikenal cukup baik hati kepada bawahannya, tapi juga dikenal cukup pandai “memainkan sistem” demi kelancaran urusan-urusan yang kadang berada di area abu-abu antara yang benar-benar sesuai prosedur dan yang sekadar dianggap “lumrah” dalam budaya kerja setempat.

“Kamu ini lulusan mana tadi, Damar?” tanya Pak Har di hari pertama Damar bekerja, sambil menyeruput kopi yang selalu tersedia di mejanya sepanjang hari.

“Ilmu Pemerintahan, Pak. Dari universitas di kota ini.”

“Bagus, bagus. Idealis, ya, biasanya anak-anak lulusan begitu. Nanti juga kamu akan belajar, dunia kerja beda sama yang diajarkan di bangku kuliah.” Pak Har tertawa kecil, tidak bermaksud merendahkan, tapi kata-kata itu tetap terngiang di kepala Damar sepanjang hari itu, seolah menjadi semacam peringatan tentang apa yang akan ia hadapi ke depannya.

Perkenalan dengan “Sistem yang Berjalan”

Tidak butuh waktu lama bagi Damar untuk mulai memahami maksud kata-kata Pak Har. Dalam beberapa bulan pertama bekerja, ia mulai menyaksikan sendiri bagaimana proses perizinan yang seharusnya berjalan sesuai prosedur baku, sering kali “dipercepat” atau “dipermudah” bagi pemohon-pemohon tertentu yang bersedia memberikan “tanda terima kasih” kepada oknum-oknum pegawai yang mengurus berkas mereka sebuah praktik yang, meski tidak pernah diucapkan secara terbuka sebagai suap, dipahami semua orang di kantor itu sebagai bagian tak terpisahkan dari cara kerja sehari-hari.

Suatu hari, seorang pemilik usaha kecil datang mengurus izin usaha, membawa berkas yang menurut penilaian Damar sudah lengkap dan sesuai persyaratan. Tapi ketika berkas itu sampai di meja seorang pegawai senior lain bernama Pak Kusworo, prosesnya tiba-tiba tersendat, dengan berbagai alasan teknis yang terasa dibuat-buat kurang satu stempel di sini, tanda tangan yang kurang jelas di situ, hal-hal kecil yang bisa saja diselesaikan dalam hitungan menit jika memang ada niat baik untuk membantu.

Damar, yang kebetulan duduk tidak jauh dari meja Pak Kusworo, menyaksikan sendiri bagaimana pemilik usaha kecil itu, setelah berkali-kali bolak-balik tanpa hasil, akhirnya dengan wajah pasrah menyelipkan amplop tebal ke dalam map berkasnya sebelum menyerahkannya kembali dan seketika itu juga, semua “masalah teknis” yang sebelumnya menghambat, entah bagaimana caranya, langsung terselesaikan dalam hitungan hari.

Lihat selengkapnya