BAB 7
Krisis 1997
Anak pertama Damar Jati dan Tasya lahir pada awal 1995, seorang putra yang mereka beri nama Bayu Kawindra Bayu untuk mengenang angin yang selalu berembus di lereng Gunung Kawi, Kawindra sebagai penghormatan kepada tempat kelahiran ayahnya. Kelahiran itu membawa kebahagiaan yang sempat meredakan ketegangan yang dirasakan Damar sejak peristiwa proyek kawasan industri Pak Wibowo setahun sebelumnya, meski bayang-bayang kewaspadaan dari pihak-pihak berkepentingan besar terhadap dirinya tidak pernah benar-benar hilang.
Dua tahun berjalan dengan relatif tenang, meski Damar tetap menjalani hari-harinya dengan kehati-hatian ekstra, sadar betul bahwa namanya sudah tercatat dalam ingatan orang-orang berpengaruh sebagai sosok yang “sulit diajak kerja sama”. Ia terus menjalankan tugasnya dengan integritas yang sama, meski kini dengan pendekatan yang lebih matang memilih pertarungan mana yang layak ia perjuangkan habis-habisan, dan mana yang cukup ia jaga agar tidak sampai merugikan pihak-pihak yang lemah tanpa harus selalu berkonfrontasi terbuka.
Namun, memasuki pertengahan tahun 1997, sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar dinamika kantor mulai bergolak sesuatu yang akan mengguncang seluruh negeri, dan pada akhirnya, menguji semua prinsip yang telah dibangun Damar sepanjang hidupnya dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rupiah yang Runtuh
Berita tentang jatuhnya nilai tukar rupiah mula-mula terasa jauh bagi kebanyakan orang di kota tempat Damar bekerja sesuatu yang mereka dengar lewat radio dan surat kabar, terjadi di Jakarta dan pusat-pusat keuangan besar, belum sepenuhnya terasa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Tapi dalam hitungan bulan, dampak itu mulai merambat ke mana-mana, tidak terkecuali ke kota kecil tempat Damar dan keluarganya tinggal.
Harga-harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik, mula-mula perlahan, kemudian semakin cepat seiring rupiah yang terus melemah terhadap dolar. Barang-barang impor, termasuk bahan baku untuk berbagai industri lokal, menjadi jauh lebih mahal. Perusahaan-perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor mulai kesulitan, dan yang paling menyakitkan, mulai melakukan pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran untuk bertahan.
Di kantor Damar sendiri, dampak krisis mulai terasa lewat lonjakan drastis jumlah pengaduan dan permohonan yang masuk pemilik usaha kecil yang bangkrut dan harus mengurus penutupan izin usaha mereka, investor yang membatalkan proyek-proyek yang sebelumnya sudah direncanakan, hingga warga yang mengadu karena harga tanah yang mereka jual untuk bertahan hidup tiba-tiba anjlok jauh di bawah nilai yang mereka harapkan.
Damar Jati, sebagai kepala seksi yang bertanggung jawab atas urusan perizinan dan tata ruang, mendapati dirinya berada di garis depan menghadapi gelombang krisis itu bukan sebagai pengambil kebijakan besar yang bisa mengubah arah ekonomi nasional, melainkan sebagai pegawai yang setiap hari harus berhadapan langsung dengan wajah-wajah putus asa yang datang ke kantornya, mencari solusi atas masalah yang sesungguhnya berada jauh di luar kendalinya sebagai pegawai daerah.
Kembalinya Bayang-bayang Lama
Di tengah kekacauan itu, sebuah kabar mengejutkan datang: proyek kawasan industri terpadu milik Pak Wibowo Tanujaya, yang dulu disetujui dengan skema kompensasi yang telah diperjuangkan Damar, ternyata ikut terpuruk akibat krisis. Pak Wibowo, yang sebagian besar modalnya berasal dari pinjaman dalam bentuk dolar, mendadak menghadapi beban utang yang membengkak berkali-kali lipat akibat pelemahan rupiah, memaksanya menghentikan sementara sebagian besar pembangunan proyek itu.
Yang lebih mengejutkan, beberapa bulan kemudian, Pak Wibowo sendiri, melalui perantara, kembali menghubungi Damar bukan lagi dengan sikap superior dan penuh perhitungan seperti pertemuan pertama mereka bertahun-tahun lalu, melainkan dengan nada yang jauh lebih putus asa.
“Pak Damar, saya butuh bantuan Anda,” katanya, ketika mereka bertemu di kantor Damar, penampilannya yang dulu selalu necis kini tampak lelah dan kusut. “Proyek saya di ambang kebangkrutan total. Kalau ini sampai gagal, bukan cuma saya yang rugi ribuan pekerja yang sudah terlibat proyek ini, dan warga yang sudah direlokasi dengan janji pekerjaan di kawasan industri ini, semua akan kehilangan harapan mereka.”
Damar mendengarkan dengan perasaan yang campur aduk sebagian dari dirinya masih menyimpan kewaspadaan terhadap taktik-taktik Pak Wibowo di masa lalu, tapi sebagian lain menyadari bahwa krisis yang sedang terjadi ini benar-benar berada di luar kendali siapa pun, termasuk seorang pengusaha besar sekalipun.