BAB 8
Reformasi 1998
Bulan Mei 1998 datang membawa suasana yang tidak pernah dibayangkan Damar Jati akan ia saksikan sepanjang hidupnya. Krisis ekonomi yang sudah berlangsung hampir setahun, ditambah kemarahan yang terpendam lama terhadap berbagai ketimpangan dan praktik korupsi yang mengakar di berbagai lapisan pemerintahan, akhirnya meledak menjadi gelombang demonstrasi mahasiswa yang semakin hari semakin besar, menyebar dari Jakarta ke berbagai kota di seluruh negeri, tidak terkecuali kota tempat Damar dan keluarganya tinggal.
Setiap hari, radio dan televisi yang kini sudah dimiliki keluarga Damar berkat kondisi ekonomi mereka yang relatif lebih stabil dibanding banyak keluarga lain menyiarkan kabar demonstrasi mahasiswa yang menuntut turunnya Presiden Soeharto, disertai laporan-laporan tentang bentrokan antara aparat dan demonstran yang semakin sering terjadi. Kantor tempat Damar bekerja pun mulai menerapkan jam kerja yang tidak menentu, kadang dipulangkan lebih awal karena kekhawatiran keamanan, kadang harus siaga karena instruksi mendadak dari atasan yang juga kebingungan menghadapi situasi yang berubah cepat setiap harinya.
Kekhawatiran tentang Ferry
Di tengah kekacauan yang semakin memuncak, Damar mulai mendengar kabar yang membuat dadanya tercekat laporan-laporan tentang kerusuhan di berbagai kota yang secara khusus menyasar warga keturunan Tionghoa, toko-toko dan rumah-rumah mereka dijarah dan dibakar, disertai kekerasan yang mengerikan terhadap banyak korban yang sama sekali tidak terlibat dalam pergolakan politik yang sedang terjadi.
Ingatan Damar segera melayang kepada Ferry, teman kosnya dulu semasa kuliah pemuda pendiam keturunan Tionghoa dari Surabaya yang selalu bersedia membantu tanpa banyak berkomentar, yang kini, sepengetahuan Damar dari komunikasi mereka yang masih terjalin sesekali, telah menikah dan membuka sebuah toko elektronik kecil di kota yang sama tempat Damar tinggal.
Damar segera menghubungi Ferry lewat telepon, suaranya bergetar menahan kekhawatiran. “Ferry, kamu dan keluarga baik-baik saja? Aku dengar kabar yang mengerikan dari berbagai kota.”
Suara Ferry di seberang telepon terdengar tegang, jauh berbeda dari nada tenangnya yang biasa. “Sejauh ini masih aman, Mar. Tapi tetangga-tetangga sudah mulai was-was. Ada rumor katanya di beberapa kelurahan mulai ada yang menandai rumah-rumah tertentu. Aku tidak tahu apa itu benar atau cuma rumor yang bikin panik, tapi aku sudah suruh istriku dan anak-anak untuk siap-siap kalau harus mengungsi.”
Mendengar itu, Damar merasakan sesuatu yang bercampur antara kemarahan dan ketakutan yang mendalam kemarahan terhadap ketidakadilan yang bisa membuat seseorang menjadi sasaran kekerasan hanya karena identitas etnisnya, dan ketakutan bahwa hal seperti itu, yang dulu hanya ia dengar sebagai cerita kelam dari Mbah Sastro tentang tahun 1965, kini benar-benar terjadi lagi di depan matanya, kepada seorang sahabat yang selama ini ia kenal baik.
“Ferry, dengar aku,” kata Damar tegas. “Kalau situasi memburuk, bawa keluargamu ke rumahku. Aku dan Tasya akan pastikan kalian aman di sana. Jangan ragu, jangan sungkan.”
Malam-malam Mencekam
Selama beberapa hari berikutnya, kota tempat Damar tinggal mulai merasakan langsung dampak dari kerusuhan yang meluas. Beberapa toko di pusat kota dilaporkan dijarah, meski skalanya tidak sebesar yang terjadi di Jakarta. Damar, bersama beberapa tetangga dan tokoh masyarakat di lingkungannya, berinisiatif membentuk semacam ronda malam sukarela, bukan untuk terlibat dalam kekerasan apa pun, melainkan untuk menjaga keamanan lingkungan mereka dari kemungkinan penjarahan atau kekacauan yang bisa merembet dari daerah lain.
Suatu malam, ketika situasi semakin mencekam dengan kabar-kabar yang simpang siur tentang kerusuhan yang mendekati kawasan tempat toko Ferry berada, Ferry akhirnya menelepon Damar dengan suara panik. “Mar, ada kerumunan orang mulai berkumpul tidak jauh dari toko kami. Aku takut, Mar. Aku tidak tahu harus bagaimana.”
Tanpa berpikir panjang, Damar segera mengambil mobilnya, meninggalkan Tasya yang cemas bersama Bayu di rumah, dan melaju menuju rumah Ferry yang terletak tidak jauh dari toko elektroniknya. Perjalanan itu terasa mencekam jalan-jalan yang biasanya ramai kini sepi mencekam, sesekali terlihat kerumunan orang di kejauhan dengan suara teriakan yang tidak jelas asalnya, membuat jantung Damar berdebar kencang sepanjang perjalanan.