MATAHARI TENGAH HARI

Prasetya
Chapter #9

EPILOG Setelah Terik Reda

EPILOG

Setelah Terik Reda

Beberapa bulan setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri, kota tempat Damar Jati dan keluarganya tinggal perlahan-lahan kembali menemukan ritmenya, meski luka-luka yang ditinggalkan krisis dan kerusuhan tidak sepenuhnya hilang begitu saja. Toko-toko yang dulu dijarah mulai dibangun kembali, meski beberapa pemiliknya memilih tidak pernah kembali membuka usaha di kota itu, memilih pindah ke tempat lain yang mereka anggap lebih aman.

Ferry sekeluarga, setelah tinggal beberapa minggu di rumah Damar dan Tasya, akhirnya memutuskan untuk membangun kembali toko elektroniknya di lokasi yang sama sebuah keputusan yang tidak mudah, tapi yang ia ambil dengan alasan sederhana yang disampaikannya kepada Damar suatu sore, ketika mereka berdua membantu membersihkan puing-puing yang tersisa dari kerusuhan.

“Kalau aku pindah karena takut, Mar, aku akan terus takut ke mana pun aku pergi,” katanya, mengelap keringat di dahinya. “Aku ingin anak-anakku tumbuh tahu, kami tidak pergi karena diusir. Kami tetap tinggal karena ini juga tanah air kami.”

Damar mengangguk, merasa haru mendengar keteguhan sahabatnya itu sebuah keteguhan yang, entah kenapa, mengingatkannya pada cara Mbah Sastro dulu bertahan menjaga desanya di tengah zaman yang penuh kecurigaan, tanpa pernah benar-benar meninggalkan tempat yang telah membesarkannya.

Kabar dari Desa

Di tengah proses pemulihan itu, Damar juga menyempatkan diri pulang ke desa kelahirannya untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, membawa serta Tasya dan Bayu yang kini sudah berusia tiga tahun, ingin memperkenalkan mereka lebih dekat dengan tanah leluhur yang selama ini hanya mereka dengar lewat cerita.

Bimo menyambut mereka dengan haru, wajahnya kini menunjukkan tanda-tanda usia yang mulai bertambah, meski semangatnya masih sama seperti dulu. Ia bercerita bahwa desa mereka, meski sempat goyah oleh gelombang krisis dan godaan menjual tanah kepada makelar-makelar dari kota, berhasil bertahan berkat inisiatif beberapa warga termasuk Bimo sendiri yang membentuk semacam koperasi kecil untuk saling membantu di masa-masa sulit, terinspirasi dari cerita-cerita yang pernah mereka dengar tentang cara Mbah Sastro dulu mengelola gotong royong di desa.

“Kami menamainya Koperasi Sastrodiharjo, Mar,” kata Bimo, tersenyum bangga. “Biar warga selalu ingat, semangat itu datang dari mana.”

Lihat selengkapnya