Maukah Kamu Duduk di Sebelahku?

Hari Prasetyo
Chapter #1

Bab 1 - Seleksi Terakhir

"Eri, cepat masuk, gantian sama Rudi!"


"Siap, Coach."


Aku melihat ke atas, mataku langsung menyipit.

Belum mulai main saja, keringat sudah menetes dari leherku begini.


Yuda bersiap mengambil tendangan bebas. Anak-anak mulai mengambil posisi.

Aku mendekat lalu membisikkan sesuatu ke telinganya. "Yud, nanti bolanya setinggi dada. Agak didorong saja, jangan tinggi-tinggi."


"Halah, Er. Cuma latihan kok, sudah berasa final Liga Champions."


Aku balik ke kotak penalti sambil mengacungkan jempol.

Yuda mengambil ancang-ancang. Tangannya diangkat.

Peluit berbunyi.

Bola melambung setinggi dada, persis seperti yang kubilang. Tim lawan makin menempel ketat. Aku melepaskan diri. Kakiku menyambar bola sebelum turun ke tanah.

Bola meluncur keras masuk di sudut atas gawang.


Anak-anak lain langsung bertepuk tangan.

Aku berjongkok mengikat tali sepatu. Meski belinya cuma di Pasar Bantul, tapi lumayan juga.


Timku kembali menyerang. Aku dan Yuda melakukan umpan satu-dua. Gawang sudah di depan mata. Andre bersiap menutup ruang tembak. Aku lekas mengoper balik ke arah Yuda. Bahu Andre menghantamku. Aku jatuh dan berguling di tanah. Dari sela rumput, kulihat jala gawang kembali bergetar.


Yuda mendekatiku lalu mengulurkan tangannya. Kusambut dan langsung berdiri. "Gol yang keren, Yud," kataku.


Di sebelahku, Andre membanting botol minumnya, lalu berteriak ke telinga Dani yang tadi membiarkan aku berdiri bebas.


Coach meniup peluit.

"Istirahat lima menit!"


Aku berjalan ke pinggir lapangan sambil mengambil botol minum. Yuda ikut duduk di sebelahku.


"Peluangmu lolos seleksi makin gede, Er."


Aku meneguk minuman sambil menggeleng.

"Wah, masuk akademi Bantul United itu berat, Yud. Aku enggak mau mikir sejauh itu dulu." Air dingin ini terasa sejuk di tenggorokan. "Dari satu kelurahan, yang diambil cuma satu." Mataku tertuju ke Andre.


Yuda mengikuti arah pandangku, lalu menepuk pundakku.

"Jangan pesimistis."


Latihan kembali dimulai.

Andre membawa bola melewati Bayu, lalu Arif. Setelah berhasil lolos, dia langsung menendang di depan gawang.

Tidak keras-keras amat, tapi bolanya bisa bersarang di pojok gawang.

Kok bisa, ya ...


Tangan Andre menyisir rambutnya yang berkilau. Mungkin pakai Gatsby wax yang warna merah.

Cewek-cewek yang pulang sekolah di pinggir lapangan langsung menjerit-jerit.


Permainan dimulai kembali. Yuda sudah diganti. Rudi masuk lapangan.

Bola bergulir dari bekku. Taufik mengoper kepadaku.

Di depanku sudah ada Andre. Makin jelas! Sialan, sepatunya baru lagi. Adidas Predator yang tak kalah mengilap dari rambutnya.


Kugulirkan bola melewati celah kedua kakinya, lalu langsung berlari sebelum Andre memutar badan.


"Cepat, Er!" teriak Rizki.


Dua pemain belakang sudah menghadang.

Baik ... sekarang akulah Steven Gerrard dari Bantul.


Posisi sudah siap menendang.

Tiba-tiba kakiku seperti tersangkut.

Badan menghantam tanah. Rumput kering masuk ke mulut. Pahit.


Si Andre menjegal kakiku. Aku langsung bangun dan mendorong pundaknya. Dia membalas dengan mencengkeram seragamku.

Teman-teman berusaha memisahkan. Andre menjauh. Sudut bibirnya terangkat sebelah, sedangkan matanya menatapku lurus-lurus.

Lihat selengkapnya