Sepertinya aku berangkat kesiangan tapi bel masuk belum juga berbunyi.
Di meja sebelah, tas Yuda tidak ada. Tadi perasaan aku masih melihatnya di sini. Aku mencari-cari sebentar.
Nah, itu dia. Yuda malah duduk di sebelah Esti.
"Yud, kenapa kok pindah?" Aku menepuk pundaknya.
"Eh, Riz. Ayo ikut aku fotokopi buku," ajak Yuda. Dia beranjak lalu keluar kelas bersama Rizki, tanpa menoleh lagi padaku.
Aku masih melihat mereka sampai keluar kelas.
"Ndra, ada apa, to?”
Candra sedang mengobrol dengan Wahyu.
Tidak ditanggapi. Serius? Apa bercanda ini?
Aku melihat sekeliling. Hampir semua teman laki-laki ternyata keluar kelas. Mereka duduk di kursi panjang dekat pintu. Beberapa mengobrol sambil tertawa. Padahal sebentar lagi bel masuk.
Aku menengok lewat kaca jendela. Mereka tampak mengobrol dengan Andre yang baru datang.
Bel masuk berbunyi.
Satu per satu mereka masuk kelas. Suara mereka sengaja dikeraskan. Meja dipukul-pukul. Teriakan bersahutan seperti suara monyet. Aku kembali ke tempat duduk. Rasanya belum terbiasa duduk sendirian begini.
Waktu istirahat, aku berpapasan dengan Yuda di depan kelas.
“Yud.”
Dia terus berjalan. Aku mengejarnya.
“Kenapa, Yud?” Yuda tidak menoleh.
“Apa aku ada salah?" Dia menepis tanganku.
“Yud, ngomong!”
Dia mempercepat langkah.
Kenapa sekarang dia jadi begitu?
Aku balik ke kelas. Kursi di sebelahku masih kosong.
Kubuka buku matematika, kubolak-balik halamannya. Aljabar. Siapa yang butuh tahu x itu berapa? Kenapa harus ada 2x - 2b begini? Huruf kok dikurangi huruf. Menghitung sisa uang ibu dari belanja kan lebih gampang dibayangkan. Pelajaran macam apa ini?
Kucoret-coret angka di pinggir halaman, makin keras, sampai kertasnya hampir bolong.
Laras berdiri di samping mejaku sambil memegang botol minum.
"Kamu kenapa, Er?" tanyanya.
"Enggak kenapa-kenapa, Ras."
"Ini. Minum aja. Belum kuminum, kok."
Aku menggeleng.
Novi dan Irma mendekat, berdiri di belakang Laras. "Kamu enggak apa-apa, Er?" tanya Irma.
Aku menggeleng lagi.
Kursi Yuda kutarik, kurapatkan ke kursiku. Dua kursi kujejer, lalu aku rebah.
Laras tidak salah. Aku saja yang sedang tidak ingin ditanya-tanya.
Tas kutaruh menutupi muka.
Gelap. Cuma gelap! Entah sudah berapa lama. Sampai ada yang menyentuh sepatuku. Laras lagi.
"Kenapa to, Ras. Aku enggak apa-apa."
"Gurunya sudah datang."
Aku langsung bangun. Kursi kudorong ke tempatnya, baju kurapikan, tas kutaruh lagi di bawah meja. Laras sudah balik ke meja sebelah.
"Kalau masih ngantuk ... Mau saya bawakan bantal?" tanya Pak Darsono.
Anak-anak langsung tertawa.
Aku menunduk, menutupi muka dengan tangan.
Masih dua jam pelajaran lagi. Lama. Lama banget.
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.
Suara anak-anak bercampur jadi satu. Ada yang tertawa, bel sepeda berbunyi berkali-kali, lalu terdengar teriakan dari depan.