Bab 1
Pesta Pertunangan
Hotel Aruna Mahesa malam itu terlihat seperti tempat yang sengaja dibangun untuk membuat orang lupa bahwa dunia di luar sana tidak selalu indah. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ballroom. Meja-meja bundar tertata rapi dengan taplak putih, rangkaian bunga mawar, dan lilin kecil yang menyala tenang di tengahnya. Musik gesek mengalun pelan, mengisi sela-sela percakapan para tamu yang datang dengan pakaian terbaik, senyum terbaik, dan kebohongan terbaik yang mereka punya.
Di dekat pintu masuk, sebuah papan besar berdiri dengan tulisan elegan:
Pertunangan Jovan Atmaka & Mireya Anggasta
Di bawah tulisan itu, foto keduanya terpajang dalam bingkai berwarna emas. Jovan berdiri dengan setelan hitam mahal, senyumnya percaya diri, dagunya sedikit terangkat seperti laki-laki yang terbiasa memenangkan banyak hal. Di sampingnya, Mireya mengenakan gaun putih gading dan tersenyum lembut ke arah kamera. Senyumnya tidak berlebihan dan tidak tampak dibuat-buat. Setidaknya malam itu, tidak ada yang mempertanyakannya.
“Mereka cocok sekali, ya,” bisik seorang tamu perempuan kepada temannya.
“Cocok?” Temannya tersenyum kecil. “Lebih tepatnya mahal sekali. Dari bunga sampai es batu di gelas sepertinya punya harga diri lebih tinggi dari kita.”
Keduanya tertawa pelan, lalu segera menutup mulut saat seorang pelayan lewat membawa nampan minuman.
Malam itu memang bukan sekadar pesta pertunangan. Ini adalah pertemuan dua nama besar. Keluarga Atmaka dikenal lewat bisnis properti, hotel, dan beberapa perusahaan yang namanya jarang dibicarakan di depan publik. Sementara keluarga Anggasta, meski tidak sebesar dulu, masih punya sisa kehormatan lama yang cukup untuk membuat orang menoleh ketika nama mereka disebut.
Di tengah semua kemewahan itu, Mireya Anggasta berdiri sebagai pusat perhatian tanpa perlu berusaha menariknya. Ia mengenakan gaun putih lembut dengan potongan sederhana—tidak terlalu mewah, tetapi juga jauh dari biasa. Rambutnya disanggul rendah, sementara beberapa helai dibiarkan jatuh di sisi wajah. Anting kecil di telinganya berkilau setiap kali ia menoleh.
Yang membuat orang memandangnya lebih lama bukanlah gaun atau perhiasannya, melainkan cara Mireya tersenyum. Ada kelembutan di sana. Entah kenapa, Celestia selalu merasa Mireya terlalu pandai menyimpan sesuatu.
“Selamat ya, Mireya,” ucap seorang tamu perempuan paruh baya sambil menggenggam kedua tangannya. “Akhirnya kamu bahagia juga.”
Mireya menunduk sopan. “Terima kasih, Tante. Doakan saja semuanya lancar.”
“Jovan laki-laki baik. Kamu beruntung.”
Untuk sepersekian detik, tangan Mireya berhenti bergerak. Senyumnya tetap sama.
“Iya,” jawabnya lembut. “Saya beruntung.”
Di sisi lain ballroom, Jovan Atmaka sedang berbicara dengan beberapa rekan bisnis ayahnya. Ia tampak menikmati perhatian. Cara ia tertawa, cara ia menepuk bahu orang lain, cara ia berdiri dengan satu tangan masuk ke saku celana, semuanya menunjukkan bahwa ia bukan tipe orang yang biasa berada di belakang.
Malam ini seharusnya tentang mereka berdua. Jovan tampak seperti orang yang merasa seluruh ruangan memang disediakan untuknya.
“Jovan,” panggil Bramasta Wiraloka, ayahnya, dari dekat meja keluarga. “Jangan terlalu lama dengan tamu bisnis. Ini pesta pertunanganmu, bukan rapat pemegang saham.”
Jovan tertawa. “Justru karena ini pesta pertunangan, Pa. Semua orang penting ada di sini. Sayang kalau hanya dipakai untuk makan kue dan pura-pura terharu.”
Bramasta menatap anaknya datar.
Di sampingnya, Widuri Santika, ibu Jovan, menyentuh lengan suaminya dengan halus. “Biarkan saja. Jovan sedang bahagia.”
“Bahagia boleh,” gumam Bramasta. “Tapi jangan terlalu percaya diri. Orang yang terlalu percaya diri biasanya lupa melihat lantai.”
Jovan mendengar itu dan tersenyum tipis.
“Tenang, Pa. Aku tidak pernah jatuh tanpa alasan.”
Kalimat itu terdengar biasa bagi siapa pun yang lewat. Dari kejauhan, Mireya sempat menoleh. Hanya sebentar. Lalu ia kembali tersenyum kepada tamu di hadapannya.
Di dekat meja minuman, Celestia Wibisana memperhatikan sahabatnya sambil menghela napas kecil. Ia mengenakan gaun biru gelap, rambutnya dibiarkan tergerai, dan di tangannya ada segelas mocktail yang belum banyak berkurang.
“Mireya memang luar biasa,” katanya kepada Odelia Cakrawati yang berdiri di sebelahnya. “Dari tadi disalami orang, dipeluk orang, diberi nasihat pernikahan oleh orang yang mungkin pernikahannya sendiri retak, tapi dia tetap senyum.”
Odelia, asisten pribadi Mireya, menatap Mireya dengan wajah kagum sekaligus lelah.
“Kalau saya jadi Mbak Mireya, mungkin dari tadi sudah pura-pura pingsan.”
Celestia menahan tawa. “Kamu baru satu jam berdiri sudah mau pingsan?”
“Satu jam di pesta orang kaya itu seperti tiga hari kerja biasa, Mbak. Senyumnya harus hemat energi.”
Celestia tertawa kecil. “Jangan bilang begitu di depan keluarga Atmaka.”
“Saya masih sayang pekerjaan.”
Keduanya terdiam ketika Mireya mendekat.
“Kalian membicarakan aku?” tanya Mireya dengan nada ringan.
Odelia langsung menegakkan tubuh. “Tidak, Mbak. Kami membicarakan… dekorasi.”
Celestia meliriknya. “Dekorasi?”
“Iya. Dekorasi manusia. Maksud saya, tamu-tamunya semua rapi.”
Mireya tertawa pelan. Tawanya lembut dan tidak mencari perhatian. Cukup untuk membuat Celestia ikut tersenyum.
“Kamu kelihatan lelah,” kata Celestia kepada Mireya.
“Sedikit.”
“Sedikit versi kamu itu biasanya artinya sudah hampir roboh.”
Mireya menggeleng. “Aku baik-baik saja.”
“Orang yang selalu bilang baik-baik saja biasanya paling tidak baik-baik saja.”
Mireya menatap Celestia sejenak. Ada kehangatan di matanya, tetapi juga sesuatu yang sulit dijelaskan. Sesuatu yang cepat sekali lewat sebelum sempat diberi nama.
“Aku hanya ingin malam ini berjalan lancar,” katanya.
Celestia menggenggam tangan Mireya. “Akan lancar. Kamu pantas bahagia.”
Mireya menunduk. Senyumnya mengecil.
“Semoga.”
Sebelum Celestia sempat menjawab, suara gelas jatuh terdengar dari sisi ruangan. Pecahannya menyebar di lantai marmer. Seorang pelayan muda tampak panik. Wajahnya pucat, tangannya gemetar saat berusaha meminta maaf kepada tamu yang bajunya sedikit terkena percikan minuman.
“Maaf, Pak. Maaf sekali, saya tidak sengaja.”
Tamu pria itu mendengus kesal. “Kalau tidak bisa kerja, jangan kerja di acara seperti ini.”
Beberapa orang menoleh. Suasana di sekitar mereka menjadi canggung. Mireya segera berjalan mendekat.
“Tidak apa-apa,” katanya lembut kepada pelayan itu. “Kamu terluka?”
Pelayan itu terkejut. “Ti-tidak, Bu. Saya hanya—”
“Biar dibersihkan dulu,” lanjut Mireya. Ia mengambil serbet dari meja terdekat dan memberikannya kepada pelayan. “Hati-hati dengan pecahan kaca. Jangan pakai tangan kosong.”
Tamu pria itu masih tampak tidak puas. “Nona Mireya, bajuku terkena minuman.”
Mireya menoleh kepadanya. “Saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Nanti pihak hotel akan membantu membersihkannya. Tapi untuk sekarang, izinkan dia membersihkan pecahan gelas dulu agar tidak ada yang terluka.”
Nada suara Mireya tetap lembut. Tidak meninggi. Tidak menyalahkan. Cukup tegas untuk membuat pria itu menutup mulut.
Beberapa tamu yang melihat kejadian itu saling berbisik kagum.
“Baik sekali dia.”
“Tidak heran Jovan memilihnya.”
“Perempuan seperti itu langka.”
Celestia memperhatikan dari kejauhan. Ia ikut tersenyum, meski tatapannya belum benar-benar lepas dari Mireya. Celestia sudah terlalu lama mengenal Mireya untuk meragukan bahwa sahabatnya memang bisa sangat baik.
Kadang Celestia merasa ketenangan Mireya terlalu sempurna.
Odelia menghela napas lega. “Mbak Mireya kalau menghadapi orang marah kok tetap anggun, ya?”
Celestia meliriknya. “Kamu kalau menghadapi orang marah bagaimana?”
“Saya biasanya ikut minta maaf meski tidak salah, lalu menyesal sepanjang malam.”
“Itu bukan strategi. Itu penyakit hati baik.”
Odelia mengangguk serius. “Berarti saya perlu cuti.”
Di sisi lain ruangan, dua orang jurnalis berdiri tidak terlalu jauh dari panggung kecil. Mereka bukan tamu utama, tetapi mendapat izin meliput acara karena nama Atmaka selalu menarik perhatian publik.
Gavin Raditya memegang buku catatan kecil, meski sejak tadi ia lebih banyak mengamati daripada menulis. Di sampingnya, Livia Renata mengambil beberapa foto dengan ponsel sambil mengunyah permen mint.
“Jangan terlalu serius begitu,” kata Livia. “Ini pesta pertunangan, bukan lokasi kriminal.”
Gavin tetap menatap ke arah Mireya. “Kamu tidak pernah tahu. Di acara orang kaya, kadang pembunuhan karakter terjadi sebelum makan malam.”
Livia menoleh. “Kamu ini diundang liputan atau membawa awan gelap pribadi?”