Mawar Di Atas Darah

A.A.Pusung
Chapter #2

Bab 2 Senyum di Atas Gelas Kristal

Jovan Atmaka tidak suka terlihat lemah. Sejak kecil, ia dibesarkan dengan keyakinan bahwa seorang Atmaka harus selalu tampak berdiri lebih tinggi daripada orang lain, bahkan ketika tubuhnya ingin duduk, ketika pikirannya mulai goyah, atau ketika ada sesuatu yang terasa tidak beres di balik keningnya.

Maka ketika kepalanya mulai terasa berat malam itu, Jovan memilih tersenyum.

Ia tetap berdiri di samping Mireya, menerima ucapan selamat dari tamu-tamu yang datang bergantian. Tangan kanannya masih menggenggam tangan Mireya, sementara tangan kirinya sesekali menyentuh pelipis, seolah gerakan kecil itu bisa mengusir rasa pening.

“Kamu benar-benar baik-baik saja?” tanya Mireya pelan.

Jovan menoleh. Senyumnya masih terpasang, tetapi matanya tampak sedikit lebih redup daripada beberapa menit sebelumnya.

“Aku sudah bilang, hanya agak pusing.”

“Mau duduk sebentar?”

“Dan membuat semua orang berpikir calon suamimu tumbang sebelum pesta selesai?” Jovan tertawa kecil. “Tidak, terima kasih. Reputasiku belum seburuk itu.”

Mireya menatapnya dengan lembut.

“Reputasi tidak akan memelukmu kalau kamu jatuh.”

Jovan menatap Mireya lebih lama. Tatapannya sempat melunak, lalu kembali waspada. Perhatian Mireya menyenangkannya, sampai perhatian itu membuatnya merasa rapuh.

“Kamu ini terlalu baik,” katanya akhirnya.

Mireya tersenyum kecil. “Itu keluhan?”

“Bukan. Peringatan.”

“Untuk siapa?”

“Untuk dunia.” Jovan mendekatkan wajahnya sedikit, suaranya turun menjadi bisikan. “Orang sebaik kamu mudah dimanfaatkan.”

Mireya diam beberapa detik.

Di sekitar mereka, suara tawa dan musik masih memenuhi ballroom. Lampu-lampu kristal tetap berkilau. Para tamu tetap tersenyum.

“Aku tidak selemah itu,” kata Mireya pelan.

Jovan tersenyum.

“Aku tahu.”

Senyumnya tetap ada, tetapi tatapannya tidak ikut mengiyakan.

Celestia Wibisana datang membawa segelas air putih. Di belakangnya, Odelia mengikuti dengan wajah cemas seperti seseorang yang baru saja diberi tugas menyelamatkan negara, padahal hanya mengambil air.

“Ini,” kata Celestia sambil menyerahkan gelas kepada Jovan. “Minum dulu. Kalau kamu pingsan, aku tidak mau ikut mengangkat. Gaunku terlalu mahal untuk kegiatan kemanusiaan berat.”

Jovan tertawa pendek. “Kamu selalu menyenangkan, Celestia.”

“Aku tahu. Sayangnya belum ada yang memberiku penghargaan resmi.”

Mireya tersenyum melihat mereka. Jovan menerima gelas itu dan meneguk sedikit air. Ia tampak ingin berkata sesuatu, tetapi tiba-tiba berhenti. Rahangnya mengeras sebentar.

Mireya memperhatikan perubahan kecil itu.

“Jovan?”

“Tidak apa-apa.” Ia menaruh gelas ke meja terdekat. “Mungkin hanya kurang makan.”

Celestia mengangkat alis. “Kurang makan? Di pesta dengan makanan sebanyak ini?”

“Aku sibuk.”

“Orang kaya punya cara aneh untuk menyiksa diri,” gumam Odelia tanpa sadar.

Semua menoleh kepadanya.

Odelia langsung pucat. “Maksud saya… sibuk itu memang menyiksa, Pak.”

Celestia menahan tawa.

Jovan hanya tersenyum tipis. “Asistenmu menarik, Mireya.”

Odelia menunduk kaku. “Terima kasih, Pak. Saya biasanya tidak begini kalau tidak panik.”

“Kalau panik saja sudah begini, saya penasaran kalau santai.”

“Odelia kalau santai biasanya tidur,” kata Celestia.

Mireya tertawa kecil. Suasana sempat mencair.

Ketika Jovan kembali menyentuh pelipisnya, tawa itu perlahan hilang dari wajah Mireya.

“Kamu harus duduk,” katanya, kali ini lebih tegas.

Jovan membuka mulut hendak menolak, tetapi Mireya sudah menggenggam lengannya dengan lembut.

“Sebentar saja. Tidak ada yang akan menganggapmu lemah.”

Celestia menambahkan, “Kalau ada yang menganggap begitu, bilang saja itu bagian dari konsep acara. Pesta pertunangan dengan adegan dramatis.”

Jovan menatap Celestia datar. “Kamu seharusnya tidak diberi mikrofon malam ini.”

“Aku juga berpikir begitu. Tapi semesta masih menyayangimu.”

Mireya membawa Jovan ke salah satu kursi di sisi ruangan yang tidak terlalu ramai. Beberapa tamu melihat sekilas, lalu kembali pada percakapan masing-masing. Dalam pesta seperti itu, orang-orang baru benar-benar peduli kalau sesuatu sudah menjadi skandal.

Irene Valeria memperhatikan dari meja keluarga. Wajahnya tenang, tetapi matanya mengikuti setiap gerakan Mireya.

Di sampingnya, Bramasta Wiraloka sedang berbicara pelan dengan Maura Sasmita. Wajah Bramasta tampak tidak senang melihat Jovan duduk terlalu lama.

“Dia kenapa?” tanya Bramasta.

“Sepertinya hanya pusing,” jawab Maura.

“Sepertinya?”

Maura menatapnya dengan tenang. “Saya bukan dokter, Pak Bramasta. Kalau Bapak ingin jawaban pasti, kita butuh seseorang dengan stetoskop, bukan pengacara.”

Bramasta meliriknya tajam. Maura tetap tenang.

“Pastikan tidak ada wartawan yang membesar-besarkan ini,” kata Bramasta.

“Tentu.”

Maura memandang ke arah Gavin dan Livia. Gavin sejak tadi tidak berhenti memperhatikan Jovan. Ia mengamati seperti wartawan yang merasa ada sesuatu yang terlewat.

Livia menyadarinya.

“Jangan bilang kamu mau membuat berita besar dari calon pengantin pria yang pusing.”

“Belum tentu hanya pusing.”

“Wah. Selamat. Kamu baru saja naik tingkat dari wartawan menjadi dukun pesta.”

Gavin tidak menanggapi. Ia menatap Jovan yang kini duduk dengan tubuh sedikit condong ke depan. Mireya berdiri di sampingnya, bicara pelan, wajahnya penuh kekhawatiran. Tangan perempuan itu menyentuh bahu Jovan dengan hati-hati.

Gavin memperhatikan beberapa detik sebelum membuka buku catatannya.

Jovan mulai pusing setelah toast.

Livia melirik catatan itu.

“Kamu benar-benar menulis itu?”

“Ya.”

“Kalau nanti ternyata dia hanya masuk angin, aku akan tertawa sampai besok pagi.”

“Silakan.”

“Dengan keras.”

“Silakan.”

“Di depan Leonard.”

Gavin akhirnya menoleh. “Itu ancaman?”

“Itu janji profesional.”

Di sisi ruangan, Mireya membungkuk sedikit di depan Jovan.

“Mau kupanggilkan dokter hotel?” tanyanya.

“Tidak perlu.”

“Jovan.”

“Aku bilang tidak perlu.”

Nada suara Jovan sedikit lebih tajam dari sebelumnya. Mireya terdiam. Jovan menyadarinya. Ia menghela napas, lalu menyentuh tangan Mireya.

“Maaf. Aku hanya tidak suka semua orang melihatku seperti ini.”

“Tidak ada yang melihatmu seperti apa pun.”

“Mireya.” Jovan tersenyum lemah. “Di ruangan ini, semua orang melihat semua orang.”

Mireya tidak bisa membantah. Ia duduk di kursi sebelah Jovan. Ia mengambil serbet kecil dan menyekanya pelan di kening Jovan yang mulai sedikit berkeringat.

Jovan memejamkan mata sejenak.

“Kamu selalu tahu cara membuat orang merasa diurus,” katanya.

“Karena aku tahu rasanya tidak diurus.”

Mata Jovan terbuka perlahan. Ia menatap Mireya, tetapi tidak langsung menjawab.

Sebelum ia sempat berkata apa-apa, suara perempuan dari arah belakang membuat Mireya menoleh.

“Manis sekali.”

Priska Halim berdiri beberapa langkah dari mereka. Gaunnya merah gelap, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan senyumnya tipis tanpa keramahan. Ia cantik dengan cara yang keras. Tatapannya membuat orang sulit berpaling.

Jovan langsung menegakkan tubuh.

“Priska.”

Mireya berdiri perlahan. Wajahnya tetap lembut, meski beberapa tamu mulai memperhatikan mereka.

“Terima kasih sudah datang,” kata Mireya.

Priska menatapnya.

“Kamu benar-benar bisa mengatakan itu tanpa tersedak?”

Celestia yang berada tidak jauh segera berjalan mendekat, wajahnya berubah waspada. Odelia mengikuti, meski dari ekspresinya ia tampak ingin berada di tempat lain, mungkin di dapur, mungkin di planet lain.

Jovan berdiri. “Tidak sekarang, Priska.”

Priska tertawa kecil. “Tentu. Tidak sekarang. Karena sekarang malam bahagiamu, kan? Malam ketika semua orang pura-pura lupa bahwa beberapa bulan lalu kamu masih mengirim pesan padaku.”

Beberapa tamu mulai berbisik.

Mireya menurunkan pandangannya sebentar. Bukan seperti orang marah, tetapi seperti orang yang berusaha menahan malu.

Jovan meraih lengan Priska. “Kita bicara di luar.”

Priska menarik tangannya. “Jangan sentuh aku seolah aku barang lama yang bisa kamu simpan di gudang.”

Odelia berbisik kepada Celestia, “Ini mulai seperti sinetron jam sembilan.”

Celestia menjawab tanpa menoleh, “Kalau kamu komentar satu kali lagi, kita bisa jadi figuran korban.”

Odelia langsung diam.

Gavin dan Livia melihat kejadian itu dari kejauhan.

Lihat selengkapnya