Pintu balkon itu terbuka sedikit. Tidak lebar, tetapi juga tidak tertutup. Celah sempit itu cukup untuk membiarkan angin dingin masuk ke ballroom dan membuat tirai putih di dekat pintu bergerak pelan.
Mireya berdiri beberapa langkah dari pintu.
“Jovan?” panggilnya lagi.
Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat beberapa tamu menoleh. Musik masih mengalun, hanya saja kini terdengar seperti datang dari ruangan lain. Terlalu lembut. Terlalu jauh.
Celestia bergerak mendekati Mireya.
“Mungkin dia di luar,” katanya pelan.
“Mestinya dia menjawab.”
Odelia berdiri di belakang mereka dengan wajah pucat.
“Mungkin Pak Jovan sedang telepon?”
Celestia meliriknya. “Di balkon saat hujan?”
Odelia menelan ludah. “Saya cuma mencoba berpikir positif, Mbak. Walau kelihatannya pikiran positif saya juga mulai takut.”
Mireya tidak tersenyum.
Ia melangkah lebih dulu. Tangannya menyentuh daun pintu. Permukaan kayunya terasa dingin. Ketika ia mendorongnya, engsel pintu mengeluarkan bunyi kecil yang hampir tenggelam oleh suara hujan.
Udara malam langsung menyambut mereka.
Balkon samping hotel itu tidak terlalu besar, tetapi cukup luas untuk beberapa orang berdiri. Lantainya basah di beberapa bagian karena tampias hujan. Di sisi kanan, deretan pot tanaman tinggi berjajar sebagai pembatas. Di sisi kiri, pagar besi setinggi dada menghadap ke halaman belakang hotel yang lebih gelap daripada area depan.
Jovan tidak ada di balkon.
Mireya berhenti. Matanya bergerak cepat menyapu seluruh sudut balkon.
Kursi rotan kosong.
Asbak kecil di meja tidak tersentuh.
Satu gelas kristal tergeletak miring dekat kaki meja, pecah di salah satu sisinya. Sisa cairan keemasan membasahi lantai, bercampur dengan air hujan yang masuk terbawa angin.
“Mireya,” bisik Celestia.
Mireya menatap gelas itu, lalu ke pagar balkon.
Ada bekas gesekan di dekat tepi pagar. Tidak jelas apakah berasal dari sepatu, tangan, atau sesuatu yang terseret.
“Jovan?” Suara Mireya mulai bergetar.
Tidak ada jawaban.
Gavin yang baru tiba di ambang pintu langsung melihat gelas pecah di dekat meja, lalu lantai basah dan pagar balkon. Setelah itu, pandangannya jatuh pada wajah Mireya yang mulai kehilangan warna.
Livia muncul di belakangnya.
“Jangan bilang ini masih bagian dari acara,” gumamnya, kali ini tanpa nada bercanda.
Gavin tidak menjawab.
Mireya berjalan perlahan ke arah pagar.
Celestia meraih lengan Mireya.
“Jangan terlalu dekat.”
Mireya tetap maju.
Ia menatap ke bawah.
Untuk sesaat, hanya suara hujan yang terdengar.
Lalu tubuh Mireya membeku.
“Mireya?” Celestia mengikuti arah pandangnya.
Napas Celestia tertahan.
Di bawah balkon, pada halaman samping hotel yang dibatasi taman kecil dan jalan servis, seseorang terbaring di antara bayangan lampu taman yang redup. Setelan hitamnya basah oleh hujan. Satu tangannya terentang ke samping.
Tubuh itu tidak bergerak.
Mireya mundur satu langkah. Tangannya menutup mulut.
“Jovan…”
Suara itu patah di tenggorokannya.
Lalu ia menjerit.
Jeritan Mireya memotong musik dan percakapan yang beberapa menit sebelumnya masih memenuhi ballroom.
Semua orang menoleh.
Seorang pelayan hampir menjatuhkan nampan. Para tamu mulai berdiri dari kursi mereka.
Celestia memeluk Mireya sebelum perempuan itu jatuh.
“Mireya! Mireya, lihat aku!”
Pandangan Mireya tetap mengarah ke bawah. Tubuhnya gemetar hebat.
“Jovan…” bisiknya. “Tidak… tidak…”
Gavin segera bergerak ke pagar. Ia melihat ke bawah, lalu rahangnya mengeras.
“Panggil bantuan,” katanya cepat kepada Livia.
Livia sudah mengeluarkan ponsel. “Aku telepon keamanan hotel.”
“Ambulans juga.”
“Ya, aku tahu. Aku mungkin suka makan prasmanan, tapi aku tidak sebodoh itu.”
Tidak ada yang tertawa.
Gavin menoleh ke arah ballroom.
“Jangan biarkan orang masuk balkon!”
Maura Sasmita tiba beberapa detik kemudian. Ia melihat Mireya yang hampir pingsan di pelukan Celestia, Gavin di dekat pagar, lalu melirik ke bawah.
Wajah Maura berubah sedikit.
“Semua mundur,” katanya tegas kepada beberapa tamu yang mulai mendekat. “Tolong tetap di dalam. Jangan menyentuh apa pun.”
Seorang tamu pria bertanya, “Apa yang terjadi?”
Maura menatapnya. “Saat ini, yang paling membantu adalah tidak menambah masalah.”
Nada suaranya membuat pria itu langsung diam.
Bramasta Wiraloka menerobos kerumunan.
“Ada apa?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Ia melihat wajah Mireya. Celestia. Pintu balkon yang terbuka. Lalu ia berjalan cepat ke pagar.
“Jovan?”
Bramasta menatap ke bawah.
Selama beberapa detik, wajah kerasnya tidak menunjukkan apa-apa. Lalu bibirnya bergerak tanpa suara.
Widuri datang di belakangnya.
Begitu melihat ke bawah, ia langsung menjerit dan hampir roboh. Beberapa tamu perempuan menahannya.
“Jovan!” teriak Widuri. “Jovan!”
Mireya mendengar suara itu dan tangisnya pecah. Ia mencoba mendekat ke pagar lagi, tetapi Celestia menahannya.
“Jangan lihat lagi,” kata Celestia, suaranya ikut bergetar. “Mireya, jangan.”
“Aku harus ke bawah.” Mireya meronta lemah. “Aku harus ke Jovan.”
“Kamu tidak bisa.”
“Aku harus ke dia!”
Mireya hampir terlepas dari pegangan Celestia. Odelia ikut membantu, meski tangannya sendiri gemetar.
“Mbak, jangan. Tolong jangan.”
Mireya menatap Odelia dengan tatapan kosong, seolah sesaat tidak mengenalinya.
“Dia sendirian di bawah.”
Odelia menangis tanpa suara.
Gavin menatap Mireya. Ia sudah melihat banyak keluarga berduka dalam pekerjaannya, tetapi tangis Mireya membuatnya sulit kembali bersikap netral.
Ia ingin mengabaikan tangisan Mireya dan fokus pada lokasi di depannya. Sulit.
Livia menutup telepon.
“Keamanan datang. Ambulans juga dalam perjalanan.”
Gavin mengangguk.
“Polisi?” tanya Maura.
Livia menatapnya. “Saya rasa itu tidak perlu ditanya lagi.”
Maura tidak tersinggung.
“Benar. Hubungi polisi.”
Livia mengangkat ponselnya lagi.
Di dalam ballroom, kepanikan mulai menyebar. Beberapa tamu berbisik, beberapa menghubungi orang luar, beberapa mencoba mendekat meski tidak tahu harus melakukan apa.
Musik akhirnya berhenti total.
Lampu tetap terang. Lilin masih menyala di atas meja. Hanya suasananya yang berubah.
Irene Valeria masuk ke balkon dengan langkah cepat. Ia tidak langsung melihat ke bawah. Ia menuju Mireya lebih dulu.
“Mireya.”
Begitu mendengar suara ibunya, Mireya seperti kehilangan sisa tenaga. Ia jatuh ke pelukan Irene.
“Mama…”
Irene memeluk putrinya erat.