Pukul dua lewat empat puluh dini hari, Hotel Aruna Mahesa tidak lagi terlihat seperti tempat pesta.
Ballroom yang beberapa jam lalu dipenuhi musik, tawa, dan ucapan selamat kini terasa dingin. Lampu kristal masih menyala, tetapi kilauannya tidak lagi terasa mewah. Meja-meja tetap rapi, bunga-bunga masih harum, gelas-gelas masih berkilau.
Semuanya terasa salah.
Seolah pesta itu berhenti tanpa pernah benar-benar selesai.
Beberapa polisi berjaga di pintu masuk. Para tamu diminta tetap berada di dalam area hotel sampai keterangan awal selesai dikumpulkan. Ada yang duduk gelisah, ada yang terlalu banyak berbisik, ada pula yang berpura-pura tenang sambil terus memeriksa ponsel.
Kabar kematian Jovan Atmaka sudah mulai bocor. Tidak sampai satu jam setelah tubuhnya ditemukan di halaman samping hotel, beberapa akun gosip sudah mengunggah potongan berita tanpa sumber jelas.
Calon pengantin pria keluarga Atmaka tewas saat pesta pertunangan?
Mantan kekasih hadir sebelum tragedi?
Pesta mewah itu berubah menjadi malam kematian.
Gavin Raditya membaca salah satu unggahan itu dari layar ponselnya, lalu menghela napas pelan.
“Cepat sekali,” gumamnya.
Di sebelahnya, Livia Renata duduk di kursi dekat dinding sambil memegang gelas air mineral. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya masih awas.
“Berita buruk selalu lari lebih cepat daripada ambulans,” katanya.
Gavin menoleh. “Kamu dapat dari mana kalimat itu?”
“Dari pengalaman dan kurang tidur.”
“Lumayan.”
“Aku tahu. Sayangnya kalau kutulis jadi judul artikel, Leonard mungkin akan bilang terlalu puitis lalu menyuruhku menulis ‘Jovan Tewas’ saja.”
Gavin memasukkan ponsel ke saku jasnya.
Di sisi ruangan, Mireya Anggasta duduk di sofa panjang dekat pintu menuju ruang keluarga kecil yang disediakan hotel. Tubuhnya dibalut selimut tipis. Gaunnya masih sama, putih gading, tetapi bagian bawahnya sudah terkena noda tanah dan bekas air hujan.
Celestia duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat. Odelia berdiri tidak jauh dari mereka, memegang kotak tisu seperti petugas khusus yang diberi tanggung jawab besar dalam bencana kecil. Irene berdiri di dekat jendela, menatap keluar tanpa benar-benar melihat apa pun.
Mireya tidak banyak bicara sejak kembali dari halaman bawah. Ia hanya duduk. Sesekali menangis pelan. Sesekali menatap cincin di jarinya. Kadang ia memejamkan mata cukup lama, seolah sedang menahan sesuatu yang tidak sanggup ia ucapkan.
Bagi siapa pun yang melihatnya malam itu, Mireya tampak seperti perempuan yang baru saja kehilangan separuh hidupnya. Rapuh. Pucat. Hancur.
“Kasihan sekali,” bisik salah satu tamu perempuan yang duduk beberapa meja dari sana. “Baru bertunangan beberapa jam, sudah begini.”
“Jovan juga kasihan,” jawab temannya.
“Iya, tapi lihat Mireya. Dia pasti trauma seumur hidup.”
Bisikan-bisikan seperti itu bergerak dari satu meja ke meja lain. Simpati mulai mengarah kepada Mireya.
Detektif Karel Danubrata masuk ke ballroom dengan langkah tenang. Jasnya sedikit basah terkena hujan, tetapi wajahnya tidak menunjukkan lelah. Di belakangnya, dua petugas mencatat nama para tamu yang masih berada di lokasi.
Maura Sasmita segera mendekat.
“Detektif, keluarga ingin tahu kapan jenazah bisa dibawa.”
Karel menatapnya sebentar.
“Setelah pemeriksaan awal selesai.”
“Pak Bramasta berharap prosesnya tidak terlalu lama.”
“Saya usahakan secepatnya, Pak. Tapi ada prosedurnya.”
Maura tersenyum tipis. “Saya mengerti. Hanya saja, situasi ini sangat sensitif.”
“Yang seperti ini memang sensitif.”
Maura tidak langsung menjawab.
Livia yang mendengar dari kejauhan berbisik kepada Gavin, “Aku mulai ngerti kenapa orang-orang bilang dia bikin tegang.”
“Jangan terlalu cepat suka. Biasanya orang seperti dia membuat semua orang tidak nyaman.”
“Itu justru bagian menariknya.”
Gavin tidak membalas.
Perhatiannya kembali kepada Karel. Ia lebih dulu memperhatikan keadaan di sekitarnya: Mireya yang gemetar, Celestia yang terus menggenggam tangannya, Odelia yang tampak cemas, dan Irene yang diam di dekat jendela.
“Nona Mireya,” katanya pelan.
Mireya mengangkat wajah. Matanya merah.
“Maaf,” kata Karel. “Saya perlu menanyakan beberapa hal singkat.”
Celestia langsung menegang. “Sekarang?”
Karel memandangnya. “Sekarang untuk yang penting saja. Nanti akan ada pemeriksaan resmi.”
“Mireya belum siap.”
“Tidak ada orang yang benar-benar siap menjawab pertanyaan setelah melihat tunangannya meninggal,” kata Karel datar. “Beberapa jawaban lebih mudah diingat sebelum orang lain mulai membuat cerita mereka sendiri.”
Celestia terdiam.
Mireya menyentuh tangan sahabatnya pelan.
“Tidak apa-apa, Cel.”
Celestia menatapnya tidak setuju, tetapi akhirnya mengangguk.
Karel mengambil kursi dan duduk tidak terlalu dekat. Sikapnya tidak mengintimidasi, meski suaranya tetap membawa jarak.
“Kapan terakhir kali Anda berbicara dengan Jovan?”
Mireya menarik napas perlahan.
“Sebelum dia keluar ke balkon.”
“Apa yang dia katakan?”
“Dia pusing. Lalu dia bilang ingin mengambil udara.”
“Apakah dia pergi sendiri?”
Mireya mengangguk. “Iya.”
“Apakah ada orang lain yang menyusulnya?”
“Aku tidak tahu.”
“Apakah Priska Halim masih berada di sekitar ballroom saat itu?”
Nama Priska membuat beberapa kepala langsung menoleh.
Mireya terdiam. Celestia menggenggam tangannya lebih erat.
“Saya tidak melihatnya,” jawab Mireya. “Setelah dia bicara dengan Jovan di luar ballroom, saya tidak tahu dia ke mana.”
“Dia sempat bertengkar dengan Jovan?”
Mireya menunduk.
“Sepertinya begitu.”
“Sepertinya?”
“Saya tidak mendengar semua pembicaraan mereka.”
Karel memperhatikan wajahnya.
“Apakah Priska marah?”
Mireya membiarkan jeda sebelum menjawab. Seolah ia sedang memilih kata.
“Dia terluka,” jawabnya akhirnya.
Karel mengangkat alis sedikit. “Bukan marah?”
“Orang yang terluka sering terlihat marah.”
Jawaban itu membuat ruangan sunyi sejenak.
Gavin, yang berdiri beberapa meter dari mereka, kembali memperhatikan Mireya. Bahkan setelah dipermalukan di depan para tamu, perempuan itu masih memilih kata-kata yang tidak menjatuhkan Priska.
Karel tidak menunjukkan apakah ia percaya atau tidak.
“Baik,” katanya. “Tentang minuman. Jovan mulai pusing setelah bersulang?”
Mireya mengangguk.
“Gelas yang dipakai Jovan berasal dari mana?”
“Nampan pelayan. Lalu sempat diletakkan di meja kecil dekat panggung.”
“Apakah ada yang menyentuh gelas Jovan setelah diletakkan?”
Mireya memejamkan mata, mencoba mengingat.
“Ada beberapa gelas lain di meja. Pelayan lewat. Tamu lewat. Saya tidak memperhatikan semua.”
“Apakah Jovan mungkin mengambil gelas yang tertukar?”
Mireya membuka mata. Wajahnya tampak semakin pucat.
“Saya tidak tahu.”
Karel mencatat sesuatu.
Mireya menatapnya dengan cemas. “Apa ada sesuatu di minumannya?”
“Kami belum tahu.”
“Tapi Anda menanyakan itu.”
“Saya menanyakan semua kemungkinan.”
Mireya menunduk lagi. Air matanya jatuh perlahan.
“Kalau saya lebih memperhatikan, mungkin…”
Irene akhirnya bergerak dari dekat jendela.
“Cukup.”
Suaranya tidak keras, tetapi tajam.
Karel menoleh.
“Putri saya sudah menjawab,” kata Irene. “Dia bukan tersangka.”
“Saya belum mengatakan dia tersangka.”
“Tapi Anda bertanya seperti semua orang di ruangan ini mungkin bersalah.”
Karel berdiri perlahan.
“Karena salah satu dari mereka mungkin memang bersalah.”
Irene menatapnya dingin.
Mireya segera menyeka air matanya.
“Tidak apa-apa, Ma.”
“Tidak, Mireya. Kamu tidak harus selalu menahan semuanya.”
Mireya menunduk, suaranya kecil.
“Aku hanya ingin membantu.”
Beberapa tamu kembali memandangnya dengan kasihan. Bahkan seorang pelayan perempuan yang berdiri di dekat pintu menunduk sambil menyeka matanya sendiri.
Karel memperhatikan reaksi ruangan.
Ia tidak berkata apa-apa.
Tidak lama kemudian, seorang petugas menghampiri Karel dan berbisik di telinganya. Karel mendengar tanpa ekspresi, lalu mengangguk.
“Priska Halim belum ditemukan di area hotel,” katanya kepada Maura.
Bisikan langsung menyebar.
Maura melirik ke arah Bramasta yang berdiri di dekat meja keluarga Atmaka. Wajah pria itu keras, matanya menyala penuh amarah.
“Cari dia,” kata Bramasta.
Karel menoleh kepadanya. “Kami sedang mencarinya.”