Mawar Di Atas Darah

A.A.Pusung
Chapter #5

Bab 5 Berita yang Menarik Gavin

Pagi datang terlalu cepat bagi orang-orang yang bahkan belum sempat mencerna apa yang terjadi malam tadi.

Jakarta mulai bergerak seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan, suara klakson terdengar dari kejauhan, dan orang-orang pergi bekerja dengan wajah setengah mengantuk, seolah beberapa jam lalu tidak ada seorang pria yang tewas di halaman samping sebuah hotel mewah.

Bagi keluarga Atmaka, keluarga Anggasta, para tamu yang hadir, dan siapa pun yang membaca berita pagi itu, malam pertunangan Jovan dan Mireya tidak akan pernah terasa biasa lagi.

Pukul tujuh lewat sepuluh menit, wajah Jovan Atmaka sudah muncul di hampir semua portal berita. Foto yang digunakan sebagian besar media berasal dari pesta pertunangan. Jovan tersenyum di samping Mireya. Keduanya tampak bahagia, elegan, dan terlalu sempurna untuk dikaitkan dengan kematian.

Di bawah foto itu, judul-judul berita saling berlomba mencari perhatian.

Putra Keluarga Atmaka Tewas di Malam Pertunangan

Tragedi di Hotel Aruna Mahesa: Jovan Atmaka Ditemukan Tak Bernyawa

Mantan Kekasih Hadir Sebelum Kematian Jovan?

Mireya Anggasta, Calon Istri yang Kehilangan Kekasih di Malam Bahagia

Di antara semua nama yang muncul, Mireya paling cepat menarik simpati.

Sebuah foto dirinya beredar luas. Foto itu diambil saat ia duduk di sofa hotel dengan selimut di bahu, wajah pucat, mata sembap, dan cincin pertunangan masih terpasang di jarinya.

Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali mengambil foto itu. Tidak ada yang peduli.

Dalam waktu singkat, foto itu menjadi wajah tragedi malam tadi.

Orang-orang menulis komentar untuknya.

Kasihan banget.

Dia kelihatan hancur.

Semoga kuat, Mireya.

Mantan Jovan yang datang itu harus diperiksa.

Nama Priska Halim ikut naik bersama berita tentang Mireya, hanya arahnya berbeda. Jika Mireya menjadi perempuan yang dikasihani, Priska menjadi perempuan yang dicurigai.

Di kantor redaksi Harian Lintas Kota, Gavin Raditya berdiri di depan layar besar yang sejak pagi menampilkan kumpulan berita daring. Ia belum tidur. Jas yang ia kenakan semalam masih melekat di tubuhnya. Hanya dasinya yang sudah dilepas dan digulung asal di dalam saku.

Di tangannya ada segelas kopi hitam yang sudah tidak panas.

Livia Renata duduk di kursi sebelah, memegang roti isi yang belum sempat dimakan. Matanya merah karena kurang tidur, tetapi mulutnya tetap bekerja seperti biasa.

“Kalau aku mati hari ini karena kurang tidur, tulis berita kematianku dengan judul yang bagus,” katanya.

Gavin tidak menoleh. “Kamu tidak akan mati karena kurang tidur.”

“Kalau karena kopi kantor?”

“Itu lebih masuk akal.”

Livia menatap gelas kopi di tangan Gavin.

“Kamu sadar tetap meminumnya?”

“Aku tidak bilang aku ingin hidup lama.”

Livia mengangguk kecil. “Ya sudah.”

Ia menggigit rotinya.

Gavin akhirnya meliriknya sebentar, lalu kembali menatap layar.

Leonard Baskara, kepala redaksi mereka, keluar dari ruangannya dengan langkah cepat. Pria itu berusia pertengahan empat puluhan, berkemeja rapi, dan selalu terlihat seperti baru saja menahan sakit kepala akibat kelakuan bawahannya sendiri.

“Gavin,” panggil Leonard.

Gavin menoleh. “Ya?”

“Beri aku alasan kenapa semua media sudah punya foto Mireya menangis, sementara kita cuma punya catatan kamu tentang gelas.”

Livia mengangkat roti isi. “Secara teknis, kami juga punya trauma.”

Leonard menatapnya. “Trauma tidak bisa naik tayang.”

“Bisa, kalau dikemas jadi opini.”

“Jangan kasih saya ide.”

Gavin meletakkan gelas kopinya di meja.

“Foto itu diambil saat Mireya sedang syok. Aku tidak mau memakai momen itu untuk mengejar klik.”

Leonard menatapnya lama.

“Saya menghargai itu. Tapi kita tetap perlu berita.”

Gavin diam.

Leonard menurunkan nada suaranya.

“Tapi kamu benar. Foto itu murahan kalau kita tidak punya konteks. Yang saya butuhkan bukan foto tangisannya. Saya butuh sudut yang kuat. Kamu ada di sana. Kamu lihat awalnya. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Gavin mengambil buku catatan kecil dari saku jas.

“Jovan mulai pusing setelah sesi bersulang. Sebelum itu, gelasnya sempat diletakkan di meja kecil dekat panggung. Ada beberapa gelas lain di sana. Setelah itu Priska muncul, bertengkar dengan Jovan, lalu menyebut sesuatu tentang sebuah dokumen. Jovan keluar ke balkon. Beberapa menit kemudian dia ditemukan jatuh.”

Leonard menyipitkan mata.

“Dokumen?”

“Priska menyebutnya. Aku tidak dengar detailnya.”

“Ini bisa jadi penting.”

“Bisa. Belum tentu.”

“Kalau belum pasti, justru itu yang harus kamu cek.”

Livia mengangkat tangan kecil.

“Kalau kita menyelidiki sambil tidur?”

Leonard menatapnya.

“Kamu makan dulu, baru bercanda.”

“Saya sedang mencoba, Pak. Roti ini juga tampak lelah.”

Leonard kembali kepada Gavin.

“Aku mau kamu pegang kasus ini.”

Gavin terdiam sebentar.

“Sebagai berita kriminal?”

“Sebagai apa pun yang membuat pembaca paham bahwa ini bukan sekadar putra orang kaya jatuh dari balkon.”

“Polisi belum menyatakan pembunuhan.”

“Polisi juga belum menyatakan kecelakaan.”

“Itu bukan celah yang boleh kita isi sembarangan.”

Leonard mengangguk.

“Bagus. Pakai keraguan itu. Tulis hati-hati. Jangan tuduh siapa pun, tapi tunjukkan bahwa ada terlalu banyak hal yang tidak cocok.”

Gavin melihat layar lagi. Foto Mireya masih muncul di salah satu berita. Wajahnya tampak begitu rapuh hingga sulit membayangkan ada orang yang tega menariknya ke dalam spekulasi.

“Aku tidak mau menjadikan Mireya bahan konsumsi publik,” kata Gavin.

Leonard mengikuti arah pandangnya.

“Dia sudah jadi konsumsi publik sejak fotonya tersebar.”

Kalimat itu terasa dingin, tetapi benar.

Leonard melanjutkan, “Pertanyaannya, kamu mau orang lain menulisnya sebagai dongeng perempuan malang dan mantan gila, atau kamu mau menulisnya sebagai kasus yang belum selesai?”

Gavin tidak langsung menjawab. Livia berhenti mengunyah.

Gavin mengambil kembali buku catatannya.

“Aku akan mulai dari urutan kejadiannya.”

Leonard mengangguk.

“Bagus. Dan Gavin?”

“Ya?”

“Jangan sampai kamu ikut terbawa suasana.”

Livia hampir tersedak roti.

Gavin menatap Leonard datar. “Pak, ini baru pagi.”

Leonard masuk kembali ke ruangannya sebelum Gavin sempat membalas.

Livia menepuk dadanya sambil batuk kecil.

“Aku suka beliau. Menyebalkan, tapi akurat.”

Gavin menghela napas. “Kamu juga mau memberi nasihat?”

“Tentu. Tapi nanti.”

Gavin mengambil jaketnya dari kursi.

“Aku ke kantor polisi.”

“Kenapa?”

“Cari tahu apakah Priska sudah ditemukan.”

Livia berdiri cepat.

“Aku ikut.”

“Kamu belum selesai makan.”

“Ya sudah. Aku bawa.”

Gavin memandang roti di tangannya.

“Jangan sampai jatuh.”

“Aku tahu.”

Di tempat lain, sekitar dua puluh menit kemudian, Detektif Karel Danubrata berdiri di ruang pemeriksaan sementara dengan secangkir kopi yang warnanya lebih mirip hukuman daripada minuman.

Di hadapannya, beberapa lembar foto dari lokasi kejadian tertata rapi: foto balkon, foto gelas pecah, foto meja kecil dekat panggung, foto pagar dengan bekas gesekan, serta foto tubuh Jovan sebelum dievakuasi.

Karel melihat semuanya tanpa banyak perubahan di wajahnya.

Seorang petugas masuk membawa laporan awal.

“Pak, tim hotel sudah menyerahkan daftar staf dan rekaman CCTV.”

“Lengkap?”

Petugas itu ragu.

“Sebagian.”

Lihat selengkapnya