Gavin Raditya menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu terputus.
Nomor tidak dikenal. Tidak bisa dihubungi kembali. Tidak ada nama. Tidak ada pesan lanjutan.
Yang tertinggal cuma suara perempuan yang gemetar, kalimat yang putus-putus, dan satu petunjuk yang terus mengganggu pikirannya.
Jovan menyimpan sesuatu.
Di lobi kantor redaksi, pagi berjalan seperti biasa. Orang-orang keluar masuk lift, seseorang membawa tumpukan dokumen, dan dari arah ruang kerja terdengar suara keyboard ditekan cepat.
Semuanya tampak normal.
Padahal panggilan tadi membuat Gavin merasa kasus Jovan baru saja berubah.
Livia Renata berdiri di depan Gavin sambil memegang roti isi yang kini tinggal setengah.
“Jangan diam seperti itu,” katanya. “Kalau habis dapat telepon begitu terus diam, biasanya ada masalah.”
Gavin memasukkan ponsel ke saku.
“Kita sudah kena.”
“Belum. Kita masih di lobi masalah. Biasanya habis ini baru ribet.”
Gavin berjalan menuju pintu keluar.
Livia menghela napas dan mengikutinya.
“Baik. Berarti kita langsung masuk ke bagian yang lebih buruk.”
“Nomor itu tidak bisa dihubungi. Kalau benar Priska, dia takut.”
“Kalau bukan Priska?”
“Itu yang harus kita cari tahu.”
Mereka keluar dari gedung redaksi. Udara pagi masih lembap setelah hujan semalam. Kendaraan mulai memadat di jalan, tetapi Gavin melangkah cepat menuju area parkir seolah lalu lintas, kurang tidur, dan kopi buruk bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.
Livia menyusul sambil menghabiskan sisa rotinya.
“Kamu mau ke mana dulu? Kantor polisi? Rumah Priska? Hotel?”
“Kantor polisi.”
“Bagus. Tempat begini setidaknya bikin aku kelihatan normal.”
Gavin meliriknya.
“Kamu yakin?”
“Tidak. Tapi aku tetap ikut.”
Di kantor kepolisian, Detektif Karel Danubrata berdiri di depan layar komputer yang menampilkan rekaman CCTV dari Hotel Aruna Mahesa.
Rekaman itu tidak bersuara.
Di layar pertama, terlihat area ballroom beberapa menit sebelum Jovan keluar ke balkon. Tamu-tamu bergerak santai. Pelayan membawa nampan. Mireya berdiri bersama Celestia dan Odelia. Jovan sempat berbicara dengan Bramasta, lalu menyentuh pelipisnya.
Karel menyilangkan tangan di dada.
Di sampingnya, Elio Pranadipa duduk di kursi sambil memegang gelas kopi dari kantin kantor polisi. Elio mencium gelas itu lagi.
Ketiga kalinya.
“Ini lebih mirip air rebusan yang salah alamat,” kata Elio.
Karel tidak menoleh.
“Elio.”
“Aku cuma jujur.”
Petugas yang berdiri di dekat komputer berusaha menahan senyum.
Karel tetap menatap layar.
“Fokus.”
“Aku fokus.”
Karel mengabaikannya.
Rekaman berganti ke lorong dekat balkon samping.
Jovan terlihat keluar dari ballroom sendirian. Langkahnya tidak terlalu stabil. Satu tangannya sempat menyentuh dinding, lalu ia masuk ke area balkon yang tidak sepenuhnya tertangkap kamera.
Beberapa menit berlalu.
Tidak ada orang masuk.
Karel mengerutkan kening.
“Putar ulang.”
Petugas memutar kembali rekaman.
Jovan keluar.
Lorong kosong.
Satu menit.
Dua menit.
Lalu rekaman berkedip.
Layarnya membeku kurang dari dua detik.
Setelah itu, waktu di sudut kanan atas meloncat hampir empat menit.
Karel mencondongkan badan.
“Berhenti.”
Petugas menekan tombol jeda.
“Waktu hilang?” tanya Karel.
Petugas itu tampak gugup. “Sistem hotel bilang ada gangguan sinyal pada beberapa kamera.”
“Kapan bermasalah?”
“Malam tadi. Sekitar waktu kejadian.”
Karel diam beberapa detik.
“Aneh. Gangguannya pas di waktu seperti ini.”
Petugas itu menelan ludah.
“Kami masih minta salinan penuh.”
“Jangan minta. Ambil sesuai prosedur.”
“Siap.”
Karel menunjuk layar.
“Kamera lain?”
Petugas membuka rekaman dari sudut berbeda.
Kali ini dari koridor pelayanan.
Terlihat beberapa staf hotel bergerak membawa peralatan. Pada menit tertentu, seorang perempuan bergaun merah melintas cepat di ujung koridor.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
Tapi warna gaunnya masih cukup jelas.
Priska Halim.
Petugas menghentikan rekaman.
“Ini sekitar tiga menit sebelum Jovan keluar ke balkon,” katanya.
Karel menatap layar.
“Ke mana arahnya?”
“Menuju lorong samping, tapi kamera berikutnya bermasalah juga.”
Karel menghela napas pelan.
Elio menatap rekaman itu lebih dekat.
“Kalau ini Priska, kenapa dia lewat koridor pelayanan?”
“Bisa saja ingin menghindari tamu.”
“Elio.”
“Aku cuma cari kemungkinan.”
Karel menunjuk layar.
“Yang juga harus kita pikirkan, ada orang yang bisa saja sengaja membuat dia terlihat lewat sana.”
Elio mengangguk.
“Ya.”
Karel menatap rekaman perempuan bergaun merah itu lagi.
Pintu ruangan terbuka.
Seorang petugas masuk membawa laporan.
“Pak, mobil Priska ditemukan di parkiran apartemennya. Tapi Priska tidak ada di unit. Tetangga bilang dia pulang sebentar sekitar subuh, lalu pergi lagi.”
“Sendiri?”
“Belum jelas.”
“Ponsel?”
“Masih mati.”
Karel menatap foto Priska yang ditempel di papan kasus.
Gaun merah.
Mantan Jovan.
Bertengkar dengannya.