Mawar Di Atas Darah

A.A.Pusung
Chapter #7

Bab 7 Amplop yang Tidak Seharusnya Ada

Priska Halim tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah menjadi pelarian hanya dalam satu malam.

Beberapa jam lalu, ia masih berdiri di ballroom hotel dengan gaun merah, dada penuh amarah, dan lidah yang terlalu tajam untuk dibiarkan diam. Ia datang untuk menagih jawaban dari Jovan Atmaka, bukan untuk menjadi nama yang diburu polisi dan dikutuk oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.

Sekarang, ia duduk di kursi belakang mobil sewaan yang berhenti di area parkir sebuah minimarket kecil, jauh dari hotel, jauh dari apartemennya, dan jauh dari semua tempat yang mungkin dicari orang.

Ponselnya sudah ia matikan.

Rasa takutnya tidak ikut mati.

Di pangkuannya, amplop cokelat kecil itu tergeletak seperti benda yang tidak seharusnya berada di sana. Priska menatapnya lama. Sudut amplop itu kusut. Ada bekas lipatan di bagian tengah, seolah pernah disembunyikan dengan terburu-buru. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada alamat. Hanya sebuah garis tinta tipis di bagian belakang, mungkin bekas tangan Jovan yang terlalu tergesa saat memberikannya.

Ia masih ingat malam ketika Jovan menyerahkan amplop itu kepadanya.

Bukan dengan romantis. Bukan dengan penyesalan.

Lelaki itu menyerahkannya dengan wajah pucat dan suara rendah yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

“Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan berikan ini ke keluargaku.”

Saat itu, Priska tertawa sinis.

“Kamu kira ini film?”

Jovan tidak tertawa.

“Priska, aku serius.”

Priska ingin membalas dengan kalimat pedas. Ia ingin berkata bahwa Jovan selalu serius hanya ketika hidupnya sendiri terancam. Tetapi sesuatu dalam mata lelaki itu membuatnya diam.

Sekarang Jovan sudah mati.

Dan amplop itu ada di tangannya.

Priska menarik napas gemetar, lalu membuka amplop itu perlahan.

Di dalamnya ada beberapa lembar fotokopi dokumen, satu flashdisk kecil berwarna hitam, dan selembar foto lama yang pinggirnya mulai menguning.

Priska mengambil foto itu lebih dulu.

Di sana terlihat empat orang pria berdiri di depan sebuah bangunan tua. Salah satunya jelas Bramasta Wiraloka, lebih muda, tetapi sorot matanya masih sama kerasnya. Di sampingnya berdiri Yosafat Kencana. Dua orang lainnya tidak Priska kenali.

Di bagian belakang foto, ada tulisan tangan.

Anggasta tahu terlalu banyak.

Priska menelan ludah.

“Jovan…” bisiknya. “Kamu sebenarnya simpan apa?”

Ia belum sempat membaca dokumen itu lebih jauh ketika suara ketukan pelan terdengar di kaca mobil.

Priska tersentak.

Seorang petugas minimarket berdiri di luar, wajahnya bingung. Pria itu menunjuk kaca sambil memberi isyarat menanyakan apakah ia baik-baik saja.

Priska segera memasukkan semua isi amplop kembali dengan tangan gemetar. Ia menurunkan kaca sedikit.

“Maaf, Mbak,” kata pria itu. “Dari tadi mobilnya berhenti di sini. Mbak sakit?”

Priska memaksa tersenyum.

“Tidak. Saya cuma menunggu teman.”

“Oh.” Pria itu mengangguk, lalu melirik wajah Priska yang pucat. “Kalau butuh air minum, di dalam ada.”

“Terima kasih.”

Pria itu pergi.

Priska menutup kaca mobil lagi. Tangannya gemetar lebih hebat.

Ia tahu ia tidak bisa terus bersembunyi.

Polisi mencarinya. Media mencarinya. Mungkin keluarga Atmaka juga mencarinya. Dan orang yang mengirim pesan ancaman itu jelas tahu bahwa ia membawa sesuatu.

Ia harus memilih.

Menyerahkan amplop itu kepada polisi.

Atau kepada orang yang masih mungkin mau mendengar sebelum menghakimi.

Nama Gavin Raditya muncul di kepalanya.

Priska memejamkan mata.

“Bodoh,” gumamnya pada diri sendiri. “Percaya sama wartawan juga belum tentu aman.”

Gavin setidaknya tidak langsung menuduhnya. Dalam keadaan seperti ini, itu terasa penting.

Di rumah keluarga Anggasta, Mireya duduk di ruang tengah dengan cangkir teh yang kini sudah dingin. Berita terus berputar di televisi, meski volumenya dikecilkan.

Wajah Jovan muncul berkali-kali.

Setelah itu wajah Mireya.

Lalu foto Priska dari media sosial lama, mengenakan gaun merah di sebuah acara lain, dipotong sedemikian rupa hingga wajahnya tampak lebih tajam dan mencurigakan daripada aslinya.

Celestia berdiri di dekat televisi sambil memegang remote.

“Aku matikan saja?”

Beberapa detik berlalu sebelum Mireya memberi jawaban.

Di layar, seorang pembawa acara berita berkata dengan wajah serius:

“Pihak kepolisian masih mencari keberadaan Priska Halim, mantan kekasih Jovan Atmaka, yang diketahui sempat hadir dalam pesta pertunangan sebelum korban ditemukan tewas.”

Celestia langsung mematikan televisi.

“Mereka belum tahu apa-apa, tapi ngomongnya sudah seperti tahu.”

Odelia yang duduk di kursi dekat meja mengangguk kecil.

“Kalau sudah pakai kata ‘diketahui’, kedengarannya seperti semuanya pasti.”

Odelia menarik napas kecil.

“Saya bahkan kalau lapar kadang masih bingung mau makan apa.”

Celestia menoleh.

Odelia merapatkan bibir.

“Maaf. Gugup.”

Tatapan Mireya tertuju pada layar televisi yang sudah gelap.

“Priska pasti ketakutan.”

Celestia duduk di hadapannya.

“Mireya, aku tahu kamu tidak mau menuduh siapa pun. Tapi Priska menghilang. Dia juga mengirim pesan aneh ke kamu.”

“Pesan itu justru terdengar seperti dia takut.”

“Orang bersalah juga bisa takut.”

Mireya menatap Celestia.

“Orang tidak bersalah juga bisa lebih takut kalau semua orang sudah memutuskan dia pelakunya.”

Celestia terdiam.

Irene muncul dari lorong rumah.

“Polisi akan datang lagi sore ini.”

Mireya mengangkat wajah.

“Untuk apa?”

“Memastikan pesan yang kamu terima. Mungkin juga menanyakan detail tentang Priska.”

Mireya menunduk.

“Aku tidak tahu banyak tentang dia.”

“Tapi dia tahu tentang Jovan,” kata Irene.

Celestia melirik Irene.

Mireya menatap ibunya.

“Mama pikir dia pelakunya?”

Irene duduk perlahan di kursi seberang.

“Mama cuma bilang dia datang dalam keadaan marah.”

“Itu bukan jawaban.”

“Karena Mama tidak mau memberi jawaban yang nanti membuatmu merasa bersalah.”

Mireya tersenyum tipis.

“Mama bicara seperti Detektif Karel.”

Irene menatapnya datar.

“Jangan menghina Mama di pagi yang berat.”

Celestia hampir tertawa. Odelia malah benar-benar mengeluarkan suara kecil, lalu cepat-cepat menutup mulut. Mireya pun tersenyum lemah.

Setelah itu, keheningan kembali jatuh.

Cincin pertunangan di jari Mireya tampak terlalu berkilau di tengah ruangan yang suram. Ia memutarnya pelan dengan ibu jari. Gerakan kecil yang membuat Irene memperhatikannya lebih lama.

“Mireya,” kata Irene lembut. “Kamu boleh melepas cincin itu kalau terlalu berat.”

Mireya menggeleng.

“Belum.”

“Tidak ada yang akan menyalahkanmu.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa?”

Tatapan Mireya tertuju pada cincin itu.

“Karena kalau kulepas sekarang, rasanya seperti aku membiarkan semuanya selesai terlalu cepat.”

Irene tidak menjawab.

Celestia menggenggam tangan Mireya. Odelia menunduk, pura-pura sibuk merapikan tisu di meja agar tidak ikut menangis.

Di kantor polisi, Karel Danubrata menerima laporan terbaru dari tim lapangan.

Priska belum ditemukan. Apartemennya kosong. Mobilnya ada di parkiran. Gaun merah yang ia kenakan semalam tidak ditemukan di unitnya.

“Dia berganti pakaian,” kata petugas.

Karel menatap papan kasus.

“Atau seseorang mengambil gaunnya.”

Petugas itu terdiam.

“Maksud Bapak?”

“Saya cuma belum mau ada yang lolos.”

Lihat selengkapnya