Karel Danubrata tidak menyukai kebetulan. Bukan karena ia percaya hidup selalu berjalan teratur. Justru sebaliknya. Hidup sering berantakan, orang-orang sering bodoh, dan kejadian kecil bisa berubah menjadi bencana hanya karena seseorang salah memilih waktu, salah memilih kata, atau salah memilih gelas.
Ada jenis kebetulan yang terasa terlalu rapi.
Seperti rekaman CCTV yang hilang tepat ketika Jovan Atmaka keluar ke balkon. Seperti Priska Halim yang muncul di lorong pelayanan sebelum Jovan jatuh.
Seperti pesan anonim yang datang kepada Mireya tidak lama setelah Priska hampir menyerahkan amplop kepada Gavin.
Di ruang kerja kecil kantor polisi, Karel berdiri di depan papan kasus. Foto-foto sudah ditempel dengan susunan baru. Di tengah ada foto Jovan. Di sisi kiri ada foto balkon dan gelas pecah. Di sisi kanan ada foto Priska. Di bawahnya, beberapa catatan waktu ditempel dengan tinta merah.
19.26 — Toast pertunangan.
19.41 — Jovan terlihat pusing.
Setelah itu — Priska terlihat di lorong pelayanan.
Beberapa menit kemudian — Jovan keluar menuju balkon.
Empat menit rekaman kamera hilang.
Menjelang 20.07 — Mireya menemukan balkon kosong.
20.07 — Jovan ditemukan di halaman bawah.
Karel menatap rentang empat menit itu.
Empat menit.
Kadang empat menit tidak cukup untuk menghabiskan kopi buruk. Kadang empat menit cukup untuk mengubah hidup banyak orang.
Elio Pranadipa duduk di kursi dekat meja, membaca ulang laporan awal dengan wajah datar. Di tangannya ada pulpen yang sejak tadi ia putar-putar tanpa sadar.
“Kalau kau terus menatap papan itu, papan itu tidak akan mengaku,” kata Elio.
Karel tidak menoleh. “Aku sedang memberi kesempatan.”
“Kepada papan?”
“Kepada kesabaranku.”
Elio menutup map. “Kasus ini tidak sabar. Terlalu banyak orang ingin jawaban cepat.”
“Jawaban cepat biasanya disukai orang yang takut jawaban benar.”
Elio mengangguk kecil. “Kalimat bagus. Kau menulis puisi diam-diam?”
“Aku hampir menangkapmu sebagai gangguan penyelidikan.”
“Tidak bisa. Aku membawa hasil yang kau tunggu.”
Karel akhirnya menoleh. Elio meletakkan map di meja.
“Pemeriksaan awal sampel gelas belum final. Tapi ada jejak bahan yang tidak seharusnya berada dalam minuman biasa. Belum bisa kupastikan jenis dan dosisnya.”
“Kemungkinan obat?”
“Kemungkinan. Bisa membuat pusing, lemah, refleks terganggu. Kalau dikombinasikan dengan alkohol atau kondisi fisik tertentu, efeknya bisa lebih kuat.”
“Cukup untuk membuat seseorang jatuh?”
“Cukup untuk membuat seseorang tidak mampu menahan diri jika terdorong, terpeleset, atau kehilangan keseimbangan.”
Karel diam.
“Jadi kita belum punya pembunuhan.”
“Kita punya kematian yang semakin sulit disebut kecelakaan,” jawab Elio.
Karel mengambil map itu.
“Gelas mana yang mengandung jejak bahan itu?”
“Itu masalahnya.”
Karel menatapnya.
Elio menghela napas. “Ada beberapa gelas yang diamankan dari meja dekat panggung dan satu gelas pecah dari balkon. Karena semua sudah bercampur, kita belum bisa memastikan gelas mana yang benar-benar diminum Jovan. Tapi jejak paling kuat ditemukan pada pecahan gelas dari balkon.”
“Yang ditemukan di dekat meja rotan.”
“Ya.”
Karel menatap foto gelas pecah di papan.
“Sidik jari?”
“Belum bersih. Ada sebagian sidik jari Jovan. Ada beberapa bekas lain yang rusak karena air hujan dan permukaan pecah.”
“Tentu.”
“Air hujan memang tidak menghormati prosedur forensik.”
Karel menutup map.
“Elio.”
“Ya?”
“Kalau seseorang ingin membuat ini terlihat seperti Priska, dia harus memastikan apa?”
Elio berpikir sejenak.
“Priska terlihat marah. Priska terlihat menghilang. Priska punya akses mendekati Jovan. Dan kalau bisa, ada sesuatu yang menghubungkan dia dengan minuman atau balkon.”
“Sejauh ini?”
“Dia marah. Dia menghilang. Dia terekam di lorong. Tapi belum ada bukti dia menyentuh gelas.”
Karel mengangguk.
“Dan rekaman hilang tepat saat bagian paling penting.”
Elio menatap papan.
“Orang yang menghapus rekaman mungkin bukan orang yang mendorong Jovan.”
Karel meliriknya.
“Tapi dia tahu sesuatu,” lanjut Elio. “Atau ingin sesuatu tidak terlihat.”
Karel mengambil jasnya dari sandaran kursi.
“Kita ke rumah Mireya.”
Elio mengangkat alis. “Aku juga?”
“Kau ingin tetap di sini dengan kopi kantin?”
Elio langsung berdiri. “Rumah duka terdengar lebih sehat.”
Di rumah keluarga Anggasta, Mireya duduk di ruang tengah dengan ponsel di atas meja. Karel datang bersama seorang petugas dan Elio. Mereka tidak membawa suasana gaduh, tetapi kehadiran mereka cukup membuat udara rumah berubah berat.
Irene menyambut dengan sopan. Celestia duduk di sisi Mireya, sementara Odelia berdiri di dekat rak buku, memeluk map kecil seolah map itu bisa menjadi pelindung.
“Nona Mireya,” kata Karel setelah duduk. “Kami perlu melihat pesan yang Anda terima.”
Mireya mengangguk kecil. Ia mengambil ponselnya dan menyerahkannya tanpa banyak bertanya.
“Saya belum membalas apa pun.”
Karel menerima ponsel itu dengan sarung tangan.
“Pesan pertama masih ada?”
“Masih.”
Petugas memeriksa ponsel dengan hati-hati, mencatat nomor, waktu masuk, dan isi pesan.
Dia tidak jatuh sendiri. Tapi bukan aku yang mendorongnya.
Karel membaca pesan itu dua kali.
“Apakah Anda mengenali nomor ini?”
Mireya menggeleng.
“Apakah Anda merasa itu Priska?”
“Saya tidak tahu. Bisa saja.”
“Tapi Anda tidak yakin.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Mireya menatap tangannya sendiri.
“Karena semua orang sedang membicarakan Priska. Kalau seseorang ingin membuat kami berpikir itu dia, mudah sekali memakai namanya tanpa menyebut nama.”
Karel memperhatikan Mireya. Jawaban itu masuk akal. Terlalu masuk akal untuk seseorang yang baru kehilangan tunangan, tetapi bukan hal yang mustahil. Beberapa orang memang tetap bisa berpikir jernih dalam duka. Beberapa lagi justru terlihat jernih karena terbiasa menyembunyikan badai di dalam kepala.
Celestia menatap Karel. “Apakah pesan itu bisa dilacak?”
“Kami sedang mengusahakannya.”
Odelia mengangkat tangan sedikit. Semua orang menoleh.