Amplop itu tergeletak di atas meja ruang tengah keluarga Anggasta seperti benda kecil yang mampu membuat seluruh rumah berhenti bernapas. Warnanya cokelat muda, sedikit basah di salah satu sudut karena sempat jatuh di halaman. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada alamat. Tidak ada cap pos.
Hanya satu kalimat di bagian depan, ditulis dengan tinta hitam yang mulai sedikit luntur.
Jovan bukan korban pertama.
Mireya berdiri beberapa langkah dari meja. Wajahnya pucat.
Celestia berdiri di sampingnya, satu tangan memegang lengan Mireya seolah takut sahabatnya akan jatuh kapan saja. Odelia berada di dekat sofa, memegang ponsel dengan kedua tangan. Wajahnya tegang seperti orang yang baru disuruh menjinakkan bom dengan tutorial dari internet.
Irene Valeria berdiri paling dekat dengan amplop itu. Berbeda dari yang lain, Irene tidak terlihat panik. Justru itulah yang membuat ruangan terasa semakin dingin. Ia terlalu lama memperhatikan tulisan di amplop itu, seperti mengenal sesuatu di dalam kalimat tersebut.
“Mama?” suara Mireya terdengar pelan.
Irene berkedip. Baru setelah itu ia menoleh kepada putrinya.
“Jangan sentuh apa pun.”
“Aku tidak menyentuhnya.”
“Bagus.”
Celestia mengerutkan kening. “Tante tahu siapa yang mengirim ini?”
Irene tidak langsung menjawab.
“Tante tahu bahwa siapa pun yang mengirimnya ingin rumah ini takut.”
Odelia menelan ludah. “Berhasil, Bu. Setidaknya untuk saya.”
Celestia menoleh kepadanya.
Odelia cepat-cepat menunduk. “Maaf. Saya cuma melaporkan kondisi batin.”
Tidak ada yang tertawa, tetapi ketegangan di ruangan itu sempat retak sedikit. Mireya tetap memandangi amplop itu.
“Jovan bukan korban pertama,” ulangnya pelan, nyaris seperti berbicara kepada dirinya sendiri. “Apa maksudnya?”
Irene melangkah ke arah jendela. Dari balik tirai, dua petugas yang berjaga di depan rumah sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Salah satu dari mereka menjaga amplop itu sejak tadi, menunggu instruksi dari penyidik.
“Maksudnya,” kata Irene, “masa lalu belum selesai mempermainkan kita.”
Mireya menatap ibunya. Kalimat itu terdengar terlalu berat untuk sekadar reaksi orang yang ketakutan.
“Masa lalu apa, Ma?”
Irene menoleh. Untuk sesaat, wajahnya tidak tampak seperti ibu yang sedang melindungi anaknya. Ia tampak seperti perempuan yang selama bertahun-tahun menyimpan sesuatu rapat-rapat dan baru sadar rahasia itu tak bisa ditahan lebih lama.
Sebelum Irene menjawab, bel rumah berbunyi.
Odelia hampir melonjak.
“Saya tidak siap menerima tamu malam ini,” bisiknya. “Apalagi kalau tamunya membawa amplop lanjutan.”
Celestia memegang bahunya. “Tenang.”
“Saya mencoba. Tapi tubuh saya belum setuju.”
Seorang petugas membuka pintu setelah memastikan siapa yang datang. Detektif Karel Danubrata masuk beberapa saat kemudian bersama Elio Pranadipa. Karel memakai jaket gelap, wajahnya lelah tetapi tetap tajam. Elio membawa tas kecil, matanya menyapu ruangan dengan cepat sebelum berhenti pada amplop di meja.
“Selamat malam,” kata Karel.
Tidak ada yang benar-benar menjawab. Karel tidak keberatan. Ia berjalan mendekati meja, memakai sarung tangan, lalu membaca tulisan di amplop.
“Jovan bukan korban pertama,” gumamnya.
Elio berdiri di sampingnya. “Bukan kalimat yang enak dibaca di rumah duka.”
Karel meliriknya.
Elio mengangkat bahu. “Aku cuma menyatakan fakta.”
Karel memberi isyarat kepada petugas untuk mendokumentasikan amplop itu sebelum dibuka. Beberapa foto diambil. Setelah itu, Karel membuka amplop dengan hati-hati.
Di dalamnya ada tiga benda.
Satu lembar fotokopi berita lama. Satu foto hitam putih yang tampak dicetak ulang. Dan secarik kertas kecil dengan tulisan singkat.
Karel mengambil fotokopi berita itu lebih dulu.
Kertasnya tidak terlalu jelas, mungkin hasil salinan dari koran lama. Di bagian atas tertulis judul yang sebagian hurufnya kabur:
Pengusaha Anggasta Tewas dalam Kecelakaan Tunggal
Mireya menutup mulut. Celestia langsung menoleh kepadanya.
“Mireya?”
Mireya tidak menjawab. Matanya terpaku pada kertas di tangan Karel. Irene memejamkan mata. Karel melihat reaksinya, lalu menurunkan kertas sedikit.
“Ini tentang ayah Anda?” tanyanya kepada Mireya.
Mireya mengangguk kecil.
“Saya masih kecil waktu itu.”
Suaranya hampir tidak terdengar.
“Semua orang bilang kecelakaan.”
Irene membuka mata.
“Karena semua orang memang ingin menyebutnya begitu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Karel menoleh kepada Irene. “Anda keberatan menjelaskan?”
Irene menatapnya dengan tenang.
“Saya keberatan dengan banyak hal, Detektif. Tapi mau bagaimana lagi?”
Celestia menggenggam tangan Mireya lebih erat.
Karel meletakkan fotokopi berita itu di plastik bukti, lalu mengambil foto hitam putih. Foto itu memperlihatkan empat orang pria berdiri di depan sebuah bangunan tua. Dua di antaranya dikenali Karel dari pemberitaan bisnis lama: Bramasta Wiraloka dan Yosafat Kencana. Dua lainnya tidak langsung ia kenali.
Di bagian bawah foto, ada lingkaran merah mengitari salah satu sosok pria.
Karel mengangkat foto itu sedikit.
“Ini ayah Anda?”
Mireya berkaca-kaca.
“Iya.”
Ia tidak mendekat. Tidak menyentuh. Hanya memandang dari tempatnya berdiri, seperti takut bila ia terlalu dekat, kenangan tentang masa lalu itu akan terasa jauh lebih nyata.
Elio memperhatikan foto tersebut.
“Bramasta dan Yosafat ada di sana.”
Irene mengangguk kecil.
“Mereka dulu rekan bisnis suami saya.”
Karel mengalihkan perhatian kepadanya. “Bisnis apa?”
Irene tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia. Lebih seperti luka lama yang sudah terlalu lama dibiarkan kering.
“Bisnis yang selalu disebut sah di depan orang, tapi dibicarakan dengan suara pelan di ruang tertutup.”
Karel diam beberapa saat.
“Apakah Anda pernah mencurigai kematian suami Anda bukan kecelakaan?”
Irene memandang Karel.
“Saya tidak pernah berhenti mencurigainya.”
Mireya menoleh kepada ibunya.
“Mama…”
Irene tidak menoleh kepadanya. Matanya tetap tertuju kepada Karel.
“Tapi kecurigaan seorang janda tidak sekuat tanda tangan orang kaya, Detektif.”
Odelia menunduk semakin dalam, jelas merasa tidak pantas mendengar percakapan sebesar itu. Ia juga tidak berani keluar.
Karel mengambil kertas kecil terakhir dari amplop.
Tulisan di sana hanya satu kalimat:
Mereka mulai dari ayahnya. Sekarang anak mereka sendiri jatuh.
Tidak ada tanda tangan. Tidak ada petunjuk lain.
Kalimat itu cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa berubah.
Mireya memejamkan mata.
“Ini kejam,” katanya lirih. “Siapa pun yang mengirimnya tahu ini akan menyakiti Mama.”