Surat itu ditemukan bukan di tempat yang dramatis. Bukan di dalam brankas baja. Bukan di balik lukisan tua. Bukan pula terkunci dalam laci rahasia seperti yang sering dibayangkan orang ketika mendengar kata dokumen penting.
Surat itu ditemukan di ruang kerja pribadi Jovan Atmaka, terselip di antara tumpukan berkas kontrak, katalog properti, dan undangan pernikahan yang belum sempat dikirim. Kertasnya putih biasa. Lipatannya tidak rapi. Tulisannya dibuat dengan pena hitam, tergesa, seolah orang yang menulisnya sedang kehabisan waktu.
Detektif Karel Danubrata berdiri di depan meja kerja Jovan dengan sarung tangan di kedua tangannya. Di sampingnya, Maura Sasmita memperhatikan dengan wajah tenang saat penyidik membongkar ruang pribadi klien keluarganya. Bramasta Wiraloka berdiri dekat jendela, rahangnya mengeras sejak polisi masuk ke rumah itu.
“Ini ruang kerja anak saya,” kata Bramasta, suaranya rendah. “Bukan gudang barang bukti.”
Karel tidak menoleh.
“Untuk sekarang, kurang lebih sama.”
Maura melirik Bramasta, memberi isyarat agar ia tidak memperpanjang perdebatan. Bramasta bukan orang yang terbiasa diam ketika wilayahnya disentuh.
“Kalian sudah mengambil cukup banyak dari hotel. Gelas, rekaman, daftar tamu. Sekarang kalian masuk ke rumah saya dan membongkar meja anak saya yang baru meninggal.”
Karel akhirnya menoleh kepadanya.
“Pak Bramasta, anak Bapak meninggal dalam keadaan yang belum bisa disebut kecelakaan. Kalau di meja ini ada sesuatu yang menjelaskan kenapa, saya akan membongkarnya dengan hati-hati. Tapi tetap saya bongkar.”
Bramasta membalas tatapannya. Maura segera menyela dengan suara halus.
“Kami memahami prosedur, Detektif. Hanya saja keluarga masih berduka.”
“Saya paham keluarga sedang berduka,” jawab Karel. “Tapi saya tetap harus mencari bukti.”
Elio Pranadipa, yang sedang memeriksa beberapa botol obat kecil dari laci samping, bergumam tanpa mengangkat wajah.
“Kalau bukti bisa menunggu, pekerjaanku akan jauh lebih sopan.”
Tidak ada yang tertawa. Elio menutup laci dengan pelan.
“Ya sudah. Humor saya memang lagi tidak laku.”
Karel melirik kepadanya.
Elio mengangkat tangan sedikit. “Baik. Saya kembali ke obat-obatan.”
Di atas meja, Karel mengambil kertas yang baru ditemukan petugas. Ia membukanya perlahan. Tulisan Jovan terlihat tidak stabil di beberapa bagian. Seolah tangan yang menulisnya sempat gemetar.
Karel membaca dalam diam.
Maura memperhatikan wajahnya, mencoba mencari perubahan sekecil apa pun. Bramasta melangkah maju.
“Apa itu?”
Karel tidak langsung menjawab. Ia membaca sekali lagi. Lalu mengambil plastik bukti dan memasukkan surat itu dengan hati-hati.
“Catatan pribadi Jovan.”
“Saya berhak melihatnya.”
“Anda akan diberi informasi setelah kami mencatatnya.”
“Dia anak saya.”
“Dan sekarang dia korban dalam penyelidikan saya.”
Bramasta menghantam meja dengan telapak tangan.
“Jangan bicara seolah-olah saya orang asing!”
Ruangan menjadi sunyi. Widuri Santika, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu dengan wajah sembap, menutup mulutnya. Ia tampak ingin menangis lagi, tetapi air matanya mungkin sudah terlalu lelah untuk keluar.
Karel tetap di tempatnya.
“Saya bicara begini karena saya harus curiga kepada semua orang, Pak. Termasuk keluarga.”
Maura langsung berdiri lebih tegak.
“Detektif, hati-hati.”
“Saya selalu hati-hati.” Karel memasukkan surat itu ke map. “Makanya saya belum menuduh siapa-siapa.”
Bramasta menahan amarahnya. Elio melirik Karel sekilas, seolah suasana sudah cukup panas untuk memasak kopi kantin tanpa kompor. Karel memberi isyarat kepada petugas untuk melanjutkan pemeriksaan.
Di luar rumah Atmaka, langit kembali mendung. Beberapa wartawan berdiri di depan pagar, dijaga petugas keamanan. Kamera-kamera mengarah ke rumah besar itu, seolah para wartawan menunggu sesuatu keluar dari sana.
Gavin Raditya berdiri di seberang jalan bersama Livia Renata. Mereka tidak ikut bergerombol dengan wartawan lain. Gavin mengamati dari seberang jalan, sementara Livia memegang payung lipat yang belum dibuka meski gerimis mulai turun.
“Kamu tahu,” kata Livia, “payungnya dibuka, dong. Masa nunggu basah dulu?”
Gavin tidak menoleh.
“Buka saja.”
“Aku menunggu momen dramatis.”
“Gerimis tidak peduli dramatis.”
“Aku peduli.”
Gavin akhirnya meliriknya.
Livia membuka payung dengan gerakan sedikit terlalu bangga. Payung itu macet setengah jalan.
Mereka berdua diam.
Livia memandangi payungnya.
“Oke. Ini memang mirip hidupku.”
Gavin mengambil payung itu, menekan bagian penguncinya, lalu membukanya dengan mudah.
Livia menatapnya datar.
“Jangan bangga. Cuma buka payung.”
“Aku tidak berkata apa-apa.”
“Wajahmu berkata banyak.”
Gavin mengembalikan payung itu, lalu kembali memperhatikan rumah Atmaka.
Beberapa menit kemudian, Karel keluar bersama Elio dan dua petugas. Salah satu petugas membawa kotak bukti. Gavin segera memperhatikan map yang dipegang Karel. Livia mengikuti arah pandangnya.
“Mereka menemukan sesuatu.”
Gavin mengangguk kecil.
“Karel tidak akan bicara.”
“Coba saja. Kadang orang galak bisa luluh.”
“Pada siapa?”
“Bukan kita. Tapi coba saja.”
Gavin menyeberang ketika Karel berjalan menuju mobilnya.
“Detektif.”
Karel berhenti. Dari wajahnya saja, ia seperti sudah menyesal.
“Pak Gavin.”
“Formal sekali.”
“Saya lagi berusaha tidak ikut campur.”
Livia berdiri di samping Gavin sambil memegang payung.
“Telat. Kamu sudah ikut dari tadi.”
Karel melirik Livia.
“Payung Anda rusak?”
“Secara emosional, iya.”
Elio yang berdiri di belakang Karel tersenyum tipis.
Karel menghadap Gavin lagi.
“Ada apa?”
“Apa yang kalian temukan di dalam?”
“Barang pribadi korban.”
“Dokumen?”
“Barang pribadi korban.”
“Catatan?”
“Pak Gavin.”
Gavin menghela napas.
“Saya cuma ingin tahu apakah ini berhubungan dengan amplop di rumah Mireya.”
Karel diam beberapa detik.
“Itu pertanyaan yang akan kami jawab setelah kami tahu jawabannya.”
“Artinya mungkin.”
“Saya belum bilang apa-apa, Pak.”
Livia berbisik, “Tidak mungkin. Itu hobi utamanya.”
Gavin mengabaikannya.
“Keluarga Atmaka kelihatan tegang,” katanya.
“Elio,” kata Karel tanpa menoleh, “apakah ada keluarga yang santai saat rumahnya digeledah?”
Elio menjawab, “Ada, kalau mereka tidak mengerti situasi atau sangat pandai berpura-pura.”
Karel kembali kepada Gavin.
“Pilih salah satu.”
Gavin tidak sempat bertanya lagi karena Karel masuk ke mobil.
Elio berhenti sebentar sebelum ikut masuk. Ia mengarah kepada Gavin dan Livia.
“Jangan berdiri terlalu lama di gerimis. Banyak orang berpikir tragedi bikin mereka kebal flu. Itu salah.”
Livia menunjuk Elio.
“Saya suka dokter itu. Dia memberi nasihat yang masuk akal.”
Gavin memperhatikan mobil polisi yang mulai bergerak.
“Mereka menemukan sesuatu.”
“Ya,” kata Livia. “Dan kamu akan mengganggu mereka sampai tahu.”
“Tidak.”
Livia menoleh.
Gavin diam sebentar.
“Tidak terlalu terang-terangan.”
“Itu baru jawaban jujur.”
Di rumah keluarga Anggasta, Mireya menerima kabar tentang pemeriksaan ruang kerja Jovan dari Maura, bukan dari polisi.