Mawar Di Atas Darah

A.A.Pusung
Chapter #11

Bab 11 Wawancara Pertama

Sejak kasus Jovan Atmaka meledak, Gavin Raditya beberapa kali duduk lama di depan laptop tanpa mengetik apa pun. Malam itu hal yang sama terjadi. Layar kosong di hadapannya justru terasa lebih berat daripada komentar pembaca yang mulai memenuhi artikelnya.

Di meja kerjanya, catatan-catatan berserakan. Nama Jovan. Nama Priska. Nama Mireya. Empat menit CCTV yang hilang. Gelas kristal. Amplop cokelat. Surat Jovan. Dan kalimat yang sejak sore tidak mau pergi dari kepalanya.

Aku salah mencintainya.

Kalimat itu terlalu pendek untuk menjadi jawaban, tapi cukup untuk membuat banyak orang bertanya-tanya.

Di meja sebelah, Livia Renata meletakkan secangkir kopi baru di dekat laptop Gavin.

“Minum,” katanya.

Gavin melirik kopi itu.

“Ini kopi kantor?”

“Iya.”

“Kenapa kamu memberiku ini? Aku pernah menyinggungmu?”

“Belum hari ini. Tapi jam masih panjang.”

Gavin mengambil gelas kertas itu, mencium aromanya, lalu meletakkannya kembali.

“Ini lebih mirip cairan penyesalan.”

“Setidaknya masih hangat.”

“Racun juga bisa hangat.”

Livia duduk di tepi meja, melipat tangan.

“Kalau kamu masih bisa menghina kopi, berarti kamu belum sepenuhnya hancur.”

Gavin bersandar di kursi.

“Aku perlu bicara dengan Mireya.”

Livia tidak langsung menjawab. Senyumnya yang sejak tadi penuh sindiran perlahan hilang.

“Sebagai jurnalis?”

“Ya.”

“Yakin?”

Gavin menoleh kepadanya.

“Pertanyaan apa itu?”

“Pertanyaan dari orang yang melihatmu menatap foto Mireya seperti sedang membaca puisi duka.”

“Aku menatap semua foto korban seperti itu.”

“Tidak. Biasanya kamu menatap foto korban seperti orang marah pada dunia. Kali ini kamu seperti marah pada dunia sekaligus ingin meminjamkan payung.”

Gavin menghela napas.

“Dia bagian penting dari cerita ini.”

“Betul. Dan dia juga perempuan yang baru kehilangan tunangannya, punya masa lalu keluarga yang rumit, dan sedang dibela oleh satu negara kecil bernama internet.”

“Justru karena itu aku harus bicara langsung dengannya. Kalau tidak, semua orang akan terus menulis tentang dia berdasarkan foto, komentar, dan asumsi.”

Livia menatapnya lama.

“Kamu boleh bicara dengannya,” katanya akhirnya. “Tapi jangan lupa, orang yang terlihat paling terluka belum tentu paling jujur.”

Gavin menatap Livia. Kalimat itu terlalu mirip dengan peringatan Priska. Jangan percaya siapa pun yang terlalu cepat terlihat kasihan. Ia menepis pikiran itu sebelum tumbuh terlalu jauh.

“Mireya bukan tersangka,” kata Gavin.

“Aku tidak bilang dia tersangka. Aku bilang jangan kehilangan jarak.”

“Jarak profesional?”

“Jarak selamat.”

Gavin tidak membalas. Ia mengambil ponselnya dan membuka daftar kontak. Nomor Odelia ia dapat dari keterangan resmi keluarga Anggasta yang sempat dikirim kepada beberapa media tepercaya untuk urusan pernyataan.

Gavin ragu beberapa detik sebelum mengirim pesan.

Selamat malam, saya Gavin Raditya. Saya ingin meminta izin wawancara dengan Nona Mireya, jika beliau bersedia. Tidak untuk mengeksploitasi duka. Saya ingin menulis dengan utuh dan hati-hati.

Ia membaca ulang pesan itu.

Livia mengintip dari samping.

“Lumayan.”

“Lumayan?”

“Lumayan. Setidaknya tidak kedengaran kayak wartawan pemakan bangkai.”

Gavin menekan tombol kirim.

Pesan itu terkirim.

Beberapa menit tidak ada balasan. Lalu tanda mengetik muncul. Menghilang. Muncul lagi. Menghilang lagi.

Gavin menatap layar terlalu serius sampai Livia menepuk meja.

“Kalau ditatap terus begitu, ponselnya juga bisa capek.”

Gavin hendak membalas, tetapi pesan masuk.

Saya sampaikan dulu ke Mbak Mireya dan Bu Irene.

Odelia

Belum ada kepastian. Setidaknya bukan penolakan.

Di rumah keluarga Anggasta, Odelia Cakrawati berdiri di depan pintu ruang tengah sambil memegang ponsel seperti membawa kabar negara.

Mireya duduk di sofa, selimut tipis menutupi pangkuannya. Celestia ada di sampingnya, sementara Irene berdiri dekat rak buku, membaca sebuah map lama yang sejak siang belum ia jelaskan isinya.

“Mbak,” kata Odelia pelan.

Mireya mengangkat wajah.

“Ya?”

“Ada pesan dari Pak Gavin.”

Celestia langsung menegang.

“Wartawan itu?”

Odelia mengangguk.

“Dia minta wawancara. Katanya tidak untuk mengeksploitasi duka. Dia ingin menulis dengan utuh dan hati-hati.”

Celestia mengulurkan tangan.

“Boleh kulihat?”

Odelia menyerahkan ponsel. Celestia membaca pesan itu, lalu mengerutkan kening.

“Bahasanya sopan.”

Odelia mengangguk kecil.

“Iya. Saya juga agak kaget. Biasanya wartawan kalau minta wawancara rasanya seperti minta pintu dibuka pakai linggis.”

Irene menutup map di tangannya.

“Gavin Raditya yang menulis artikel hati-hati itu?”

“Iya, Ma,” jawab Mireya pelan.

Irene menghadap putrinya.

“Kamu ingin bicara dengannya?”

Celestia langsung menoleh.

“Tante, Mireya belum siap.”

“Dia harus memutuskan sendiri.”

Mireya menatap tangannya. Cincin pertunangan masih terpasang di jari manisnya. Beberapa kali Celestia ingin menyarankan agar Mireya melepasnya, tetapi tidak pernah benar-benar keluar. Ada luka yang tidak bisa dipaksa sembuh hanya karena orang lain tidak tahan melihatnya.

“Aku tidak tahu,” kata Mireya.

Celestia menyentuh bahunya.

“Kamu tidak perlu menjawab sekarang.”

Irene berjalan mendekat dan duduk di hadapan Mireya.

“Cerita tentang dirimu sudah berjalan di luar sana, Rey. Dengan atau tanpa suaramu.”

Pandangan Mireya beralih kepada ibunya.

“Kalau aku bicara, mereka akan semakin membicarakanku.”

“Benar.”

“Kalau aku diam?”

“Mereka akan mengarang bagian yang kosong.”

Celestia tidak menyukai nada Irene.

“Tante bicara seperti ini strategi.”

Irene menoleh kepada Celestia.

“Karena memang begitu. Duka tidak membuat dunia berhenti bersiasat.”

Mireya menurunkan wajah.

Odelia berdiri canggung di dekat pintu, tidak yakin apakah harus keluar atau tetap menunggu perintah. Akhirnya ia berkata lirih,

“Kalau Mbak tidak mau, saya bisa balas dengan bahasa halus. Saya lumayan bisa nolak orang tanpa bikin mereka sadar kalau sebenarnya sudah ditolak.”

Celestia menatapnya.

Odelia cepat-cepat menambahkan, “Itu keahlian administrasi, Mbak. Bukan kejahatan.”

Untuk sesaat, Mireya tersenyum. Senyum kecil itu membuat ruangan terasa sedikit lebih hangat.

“Aku mau bicara,” kata Mireya akhirnya.

Celestia menatapnya cemas.

“Yakin?”

Mireya mengangguk kecil.

“Dia tidak mengambil fotoku waktu aku menangis. Dia juga tidak menulis Priska sebagai pembunuh hanya karena semua orang ingin begitu.”

“Justru itu yang membuatnya berbahaya,” kata Irene.

Mireya menghadap ibunya.

“Orang seperti Gavin malah biasanya makin penasaran.”

“Kalau ada yang harus digali, mungkin memang harus ditemukan.”

Irene diam. Celestia memperhatikan keduanya. Ada sesuatu yang belum selesai antara ibu dan anak itu. Sesuatu yang belum pernah disebutkan dengan nama, tetapi selalu muncul tiap kali masa lalu ayah Mireya disentuh.

Akhirnya Irene mengangguk.

“Baik. Tapi wawancara dilakukan di rumah ini. Celestia mendampingi. Odelia mencatat. Tidak ada kamera.”

Odelia langsung mengangguk cepat.

“Baik, Bu.”

Mireya memandang ibunya.

“Mama tidak mendampingi?”

Irene tersenyum tipis.

“Kalau Mama ada di ruangan, dia akan menulis tentang Mama juga. Hari ini cukup satu perempuan Anggasta yang menjadi berita.”

Keesokan paginya, Gavin datang ke rumah Anggasta dengan kemeja biru gelap, jaket hitam, dan buku catatan kecil di tangan. Livia ikut bersamanya sampai gerbang, tetapi tidak masuk.

“Kenapa kamu tidak ikut?” tanya Gavin.

Livia bersandar di dekat pagar.

“Karena Celestia memandangku seperti aku akan mencuri vas bunga.”

“Kamu bahkan belum bertemu dia hari ini.”

“Aku bisa merasakan penolakan dari jarak aman.”

Gavin menatapnya datar.

Livia menyerahkan perekam suara kecil.

“Pakai ini. Minta izin dulu. Jangan terlihat seperti orang mencuri pengakuan.”

“Aku tahu.”

“Dan jangan terlalu lembut.”

“Aku tahu.”

“Dan jangan menatap Mireya seperti—”

Lihat selengkapnya