Mawar Di Atas Darah

A.A.Pusung
Chapter #12

Bab 12 Priska Menjadi Sasaran

Priska Halim duduk di ruang pemeriksaan dengan wajah yang sudah kehilangan warna. Rambutnya berantakan. Jaket gelap yang ia pakai tampak kusut, dan kedua matanya merah karena kurang tidur, terlalu banyak menangis, atau terlalu lama menahan marah. Di atas meja besi di depannya, segelas air putih belum disentuh sejak sepuluh menit lalu. Ia memandang gelas itu dengan jijik.

“Air putih saja sekarang kelihatan mencurigakan,” gumamnya.

Di seberang meja, Detektif Karel Danubrata membuka map tanpa terburu-buru.

“Minum kalau haus.”

Priska tertawa pendek. “Setelah semua orang bicara soal racun di gelas Jovan? Terima kasih, Detektif. Saya masih ingin hidup. Cuma sekarang hidup saya lagi berantakan.”

Karel menatapnya datar.

“Air itu dari dispenser kantor polisi.”

“Wah. Itu tidak membuat saya lebih tenang.”

Di sudut ruangan, seorang petugas yang bertugas mencatat menunduk, berusaha menyembunyikan reaksi. Karel sudah terlalu sering melihat orang ketakutan memakai sarkasme agar tidak terlihat takut.

“Kita mulai dari pesta pertunangan,” kata Karel.

Priska bersandar di kursi.

“Tentu. Semua orang suka mulai dari bagian saya terlihat paling buruk.”

“Anda datang ke pesta Jovan dan Mireya.”

“Saya diundang.”

“Oleh siapa?”

Priska diam sebentar.

“Saya menerima undangan digital dari daftar tamu acara.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu yang saya ingat.”

Karel menutup map pelan.

“Nona Priska, saya tidak punya cukup waktu untuk permainan kata.”

“Hidup saya lagi diacak-acak orang. Jadi ya... saya juga lagi apes.”

Karel menatapnya beberapa detik.

“Siapa yang mengundang Anda?”

Priska menarik napas panjang.

“Jovan.”

Karel tidak langsung bereaksi.

“Langsung dari Jovan?”

Priska mengangguk.

“Lewat pesan?”

“Ya.”

“Ponsel Anda mati saat kami mencari Anda.”

“Karena saya takut.”

“Pesan itu masih ada?”

Priska menunduk.

“Tidak.”

Karel memiringkan kepala sedikit.

“Tidak ada?”

“Saya hapus.”

“Kenapa?”

“Karena saya panik. Saya marah, lalu saya hapus. Sekarang saya menyesal.”

Karel mencatat sesuatu.

“Isi pesannya?”

Priska memejamkan mata, mencoba mengingat.

“Dia bilang… kalau saya masih ingin penjelasan, datanglah ke pesta. Dia bilang ada hal yang harus saya dengar sendiri.”

“Hal apa?”

“Dia tidak menulis.”

“Dan Anda datang.”

“Ya.”

“Untuk penjelasan?”

Priska tertawa pahit.

“Untuk memaki dia. Untuk bertanya kenapa dia menitipkan amplop seperti pengecut. Untuk memastikan apakah dia benar-benar akan menikah dengan Mireya setelah semua yang dia lakukan.”

Karel memandangnya.

“Semua yang dia lakukan?”

Priska terdiam. Ia menyadari kata-katanya bergerak lebih cepat daripada niatnya.

“Apa maksud Anda?” tanya Karel.

Priska mengusap wajahnya kasar.

“Jovan bukan pria sebaik yang orang-orang tulis pagi ini.”

“Dalam hal apa?”

“Dalam banyak hal.”

“Saya butuh yang lebih jelas.”

Priska menatap Karel lama.

“Dia suka mengendalikan orang. Dia bisa membuat seseorang merasa istimewa, lalu membuat orang itu merasa bersalah karena mempercayainya. Dia suka kasih harapan, lalu pura-pura bukan dia yang bikin orang berharap.”

“Termasuk kepada Anda?”

“Ya.”

“Termasuk kepada Mireya?”

Priska tidak langsung menjawab. Ketika nama Mireya disebut, wajahnya berubah. Bukan hanya marah. Ada sesuatu yang lain. Iri. Kasihan. Takut. Mungkin ketiganya.

“Mireya terlihat seperti perempuan yang harus dilindungi,” kata Priska pelan.

“Terlihat?”

Priska menatapnya. “Anda pernah bertemu dia, kan?”

“Ya.”

“Lalu?”

Karel diam. Priska tersenyum kecil, getir.

“Orang biasanya begitu kalau bertemu Mireya. Mereka jadi hati-hati sendiri.”

Karel tidak menulis. Ia hanya mendengarkan.

“Apakah Anda membenci Mireya?” tanyanya.

Priska menunduk.

“Saya ingin membencinya.”

“Tapi?”

“Sulit membenci seseorang yang tidak pernah membentak balik.”

“Jadi Anda membenci Jovan.”

Priska mengangkat wajah.

“Saya marah pada Jovan. Saya kecewa. Saya mungkin ingin menamparnya di depan seratus tamu. Tapi saya tidak membunuhnya.”

“Anda bertengkar dengannya malam itu.”

“Ya.”

“Anda menyebut dokumen.”

Priska memandang Karel tajam.

“Gavin memberi tahu Anda?”

“Saya yang bertanya.”

“Itu bukan jawaban.”

“Nah, itu juga bukan jawaban.”

Priska menghela napas kesal, tetapi tidak membalas. Karel membuka map dan mengeluarkan foto amplop yang diserahkan Priska.

“Jovan memberi Anda amplop ini seminggu sebelum dia mati.”

Priska mengangguk.

“Kenapa kepada Anda?”

“Saya tidak tahu.”

“Dia tidak menjelaskan?”

“Dia hanya bilang, kalau sesuatu terjadi padanya, jangan berikan itu ke keluarganya.”

“Kenapa tidak ke polisi?”

“Jovan tidak percaya polisi akan cukup kuat melawan keluarganya.”

Karel mengangkat alis sedikit.

“Dia mengatakan itu?”

“Tidak dengan kata-kata itu. Tapi saya mengenal Jovan. Kalau dia percaya seseorang bisa melindunginya, dia tidak akan datang pada mantan pacar yang ia sakiti.”

“Apakah dia mengatakan keluarga Atmaka terlibat kematian ayah Mireya?”

Priska terdiam. Kali ini diamnya lebih panjang. Karel menunggu.

Priska memandang gelas air di depannya, lalu berkata pelan, “Dia pernah bilang ada dosa lama yang seharusnya tetap terkubur. Tapi seseorang mulai menggali.”

“Siapa seseorang itu?”

“Jovan sendiri.”

“Kenapa?”

“Karena dia takut Mireya tahu dari orang lain.”

Nama Mireya membuat suasana ruangan kembali berat. Karel bersandar sedikit.

“Jovan takut Mireya tahu?”

Priska mengangguk.

“Dia bilang jika Mireya tahu semuanya, dia akan kehilangan Mireya.”

“Semua apa?”

“Saya tidak tahu.”

“Tidak tahu atau tidak mau mengatakan?”

Priska menatap Karel dengan mata lelah.

“Detektif, kalau saya tahu semuanya, saya tidak akan duduk di sini. Saya juga ingin pulang dan tidur.”

Karel mencatat.

“Kapan terakhir Anda melihat Jovan hidup?”

“Setelah kami bertengkar di lorong.”

“Apa yang terjadi?”

Priska menggenggam kedua tangannya di atas meja.

“Saya menagih soal amplop. Saya bilang dia pengecut. Dia menyuruh saya diam. Dia bilang saya tidak tahu seberapa berbahayanya dokumen itu.”

Lihat selengkapnya