Mawar Di Atas Darah

A.A.Pusung
Chapter #13

Bab 13 Luka yang Tidak Selesai

Pesan itu menunggu Mireya seperti duri kecil di tempat yang seharusnya aman. Ia baru menemukannya ketika kembali dari taman belakang.

Celestia masih berada di dapur bersama Odelia, mencoba memaksa diri makan sesuatu. Irene menerima telepon di ruang kerja kecil. Suaranya terdengar rendah dan putus-putus dari balik dinding.

Mireya masuk ke ruang tengah seorang diri.

Ponselnya tergeletak di atas meja. Layarnya gelap. Ketika ia menyentuhnya, pesan itu langsung muncul.

Priska bicara terlalu banyak. Sekarang giliranmu menjaga cerita.

Mireya diam beberapa detik.

Ia tidak panik. Hanya napasnya berubah—lebih pendek, lebih tertahan. Seperti seseorang yang tiba-tiba mencium bau asap di rumah yang seharusnya kosong.

Ia membaca pesan itu lagi.

“Menjaga cerita,” bisiknya nyaris tanpa suara.

Dari arah dapur, suara Odelia terdengar samar.

“Kalau Mbak Celestia tidak makan, saya juga jadi merasa tidak sopan untuk makan. Tapi kalau saya tidak makan, saya bisa pingsan. Jadi ini dilema moral.”

Celestia menjawab, “Makan saja, Odel.”

“Baik. Saya makan.”

Mireya sempat menoleh ke arah dapur. Suara kecil itu, anehnya, membuat dunia terasa normal selama satu detik.

Lalu perhatiannya kembali ke layar ponsel.

Pesan itu tidak dihapus.

Belum.

Tangannya menggenggam ponsel lebih erat ketika Irene muncul dari lorong ruang kerja. Irene berhenti begitu melihat wajah putrinya.

“Ada apa?”

Mireya tidak menjawab. Ia menyerahkan ponselnya.

Irene membaca pesan tersebut. Wajahnya tetap tenang, hanya sorot matanya berubah sedikit. Perubahan kecil itu cukup untuk membuat Mireya tahu bahwa ibunya mengerti bahaya di balik kalimat tersebut.

“Jangan balas,” kata Irene.

“Aku tahu.”

“Sudah ada lagi sebelumnya?”

“Tidak.”

Irene menunggu.

Mireya menunduk. “Maksudku… belum ada setelah yang tadi.”

Irene mengembuskan napas pelan. Ia berjalan ke jendela, membuka tirai sedikit, lalu memperhatikan halaman depan. Petugas masih berjaga. Jalanan tampak tenang. Terlalu tenang untuk sebuah rumah yang sedang dikepung kabar buruk.

“Kita beri tahu Karel,” kata Mireya.

Irene berbalik.

“Ya.”

Ada jeda kecil.

“Mama ragu?”

“Mama ragu pada semua orang yang datang membawa janji kebenaran.”

“Karel polisi.”

“Justru itu.”

Mireya menurunkan ponselnya.

“Mama selalu bicara seperti dunia ini cuma berisi orang yang ingin mengambil sesuatu dari kita.”

Irene mendekat. Suaranya melembut, tetapi ketegasannya tetap ada.

“Karena dunia pernah mengambil ayahmu. Setelah itu, kita malah diminta diam supaya semuanya kelihatan baik-baik saja.”

Mireya terdiam.

Begitu nama ayahnya disebut, suasana di antara mereka langsung berubah. Seolah ada pintu lama yang terbuka sedikit, lalu buru-buru ditutup lagi sebelum cahaya dari dalamnya keluar terlalu banyak.

“Aku tidak mau hidup terus di dalam ketakutan Mama,” kata Mireya pelan.

Irene diam sejenak.

“Kadang yang kamu sebut ketakutan adalah ingatan yang bertahan hidup.”

Sebelum Mireya sempat menjawab, Celestia masuk dari dapur sambil membawa piring kecil.

“Kalian bicara apa?”

Mireya segera berpaling kepadanya. Ekspresinya melunak, seperti seseorang yang tidak ingin menambah beban sahabatnya.

“Ada pesan lagi.”

Celestia langsung meletakkan piring di meja.

“Apa isinya?”

Mireya menyerahkan ponsel itu.

Celestia membaca. Wajahnya mengeras.

“Siapa orang ini?”

“Belum tahu.”

“Ini ancaman.”

“Iya.”

Odelia muncul di belakang Celestia sambil masih memegang sepotong roti.

“Ancaman yang mana?”

Ia berhenti setelah menyadari suasana ruangan.

“Kayaknya saya harus berhenti makan kalau suasananya begini.”

Celestia tidak menanggapi. Ia kembali pada Mireya.

“Kita telepon Karel sekarang.”

Mireya mengangguk.

“Ya.”

Odelia mengambil ponsel untuk menghubungi nomor penyidik. Sementara itu, Mireya kembali membaca pesan tadi.

Sekarang giliranmu menjaga cerita.

Kalimat itu membuat punggungnya menegang. Ada sesuatu yang terasa akrab dalam ancaman itu, seperti suara lama yang pernah ia dengar terlalu sering di rumah ini.

Di kantor redaksi, Gavin baru selesai menulis draf artikel ketika ponselnya bergetar.

Bukan dari sumber polisi. Bukan dari Leonard. Bukan juga dari nomor tidak dikenal yang belakangan membuatnya lebih waspada setiap kali layar menyala.

Pesan itu dari Odelia.

Pak Gavin, Mbak Mireya menerima pesan ancaman lagi. Polisi sudah diberi tahu. Mbak Mireya juga bertanya apakah wawancara kemarin tetap akan dimuat hari ini.

Gavin membacanya dua kali.

Livia yang duduk di depannya sedang memeriksa foto-foto lama keluarga Atmaka dari arsip digital. Ia mengangkat kepala ketika menyadari ekspresi Gavin berubah.

“Apa?”

“Mireya menerima pesan ancaman lagi.”

Livia meletakkan gelas kopinya.

“Isi?”

“Belum tahu. Odelia cuma bilang ancaman.”

“Dan Mireya menanyakan artikel?”

“Ya.”

Livia bersandar di kursi.

“Menarik.”

Gavin mengangkat alis.

“Menarik bagaimana?”

“Bisa jadi dia cuma mau tahu ceritanya akan dibawa ke mana. Atau… ya, dia tahu cerita ini bisa jadi masalah.”

Gavin diam.

Ia tidak suka kalimat itu. Bukan karena salah, tetapi karena terlalu masuk akal.

“Dia sedang diserang dari banyak arah,” kata Gavin.

“Aku tahu.”

“Wajar kalau dia ingin tahu apa yang akan ditulis.”

“Wajar,” kata Livia. “Aku tidak bilang tidak wajar. Aku cuma bilang menarik.”

Gavin mengetik balasan kepada Odelia.

Saya belum akan memuat bagian pribadi tanpa izin. Kalau Nona Mireya ingin menunda, saya akan tunda. Yang terpenting sekarang keselamatannya.

Livia sempat membaca dari samping.

“Kalimatmu makin sopan. Aku mulai khawatir.”

Gavin menoleh.

“Khawatir karena aku sopan?”

“Khawatir karena kamu terdengar seperti seseorang yang mulai peduli melebihi kebutuhan artikel.”

“Livia.”

“Aku cuma ngingetin kamu.”

“Biasanya alarm bisa dimatikan.”

“Yang ini susah dimatikan. Aku sudah terlanjur bawel.”

Gavin hampir tersenyum.

Ponselnya kembali bergetar.

Mbak Mireya ingin artikel tetap dimuat, tapi meminta agar bagian tentang ayahnya tidak terlalu banyak ditulis. Katanya, itu belum sepenuhnya ia pahami.

Gavin menahan pandangan pada layar itu beberapa saat.

Permintaan itu masuk akal. Terlalu banyak orang sudah membicarakan kematian ayah Mireya tanpa izin darinya.

Lihat selengkapnya