Elio Pranadipa selalu percaya bahwa tubuh orang mati lebih jujur daripada orang hidup. Tubuh tidak bisa menyusun alibi. Tidak bisa berpura-pura lupa. Tidak bisa menangis di waktu yang tepat untuk membuat orang kasihan. Tubuh hanya menyimpan jejak. Kadang kecil. Kadang rusak. Kadang hampir hilang. Tetapi selama masih ada yang bisa dibaca, ia akan berbicara dengan caranya sendiri.
Pagi itu, di ruang forensik yang dingin dan terlalu terang, Elio berdiri di depan meja kerja sambil memandangi hasil laboratorium yang baru datang. Di samping laporan utama, ada foto pecahan gelas kristal dari balkon. Ada juga catatan sampel cairan yang tersisa di sela retakan kaca, bercampur air hujan, debu, dan sedikit noda yang tidak mudah dikenali.
Karel Danubrata berdiri di sebelahnya. Wajahnya tampak seperti orang yang belum tidur cukup.
“Jadi?” tanya Karel.
Elio tidak langsung menjawab. Ia membalik satu halaman laporan, lalu menunjuk bagian tertentu dengan pulpen.
“Jejak bahan penenang ringan ditemukan pada pecahan gelas yang diduga terakhir digunakan Jovan.”
“Diduga.”
“Ya. Gelasnya pecah, kena hujan, lalu diperlakukan semesta seperti barang bukti yang tidak disukai.”
Karel menatapnya datar.
Elio melanjutkan, “Tapi konsentrasinya cukup untuk mendukung keterangan bahwa Jovan mengalami pusing, lemah, dan gangguan koordinasi sebelum jatuh.”
“Bukan racun yang mematikan.”
“Bukan.”
“Jadi pelaku tidak mencoba membunuh lewat minuman.”
“Tidak langsung. Cukup untuk membuat Jovan lemah dan reaksinya terlambat.”
Karel mengarahkan pandangan ke foto balkon.
“Kalau Jovan berdiri di tepi pagar…”
“Sedikit dorongan bisa cukup,” kata Elio. “Atau kehilangan keseimbangan. Atau reaksinya terlambat saat terpeleset.”
“Pagar balkon terlalu tinggi untuk jatuh hanya karena pusing.”
“Betul. Itu sebabnya aku tidak menyebut ini kecelakaan lucu.”
“Tidak ada kecelakaan lucu.”
“Ada. Tapi biasanya tidak melibatkan mayat.”
Karel meliriknya.
Elio mengangkat bahu. “Humor gelap. Efek kerja.”
Karel mengambil laporan itu dan membacanya sekali lagi.
“Bahan ini mudah didapat?”
“Tidak terlalu sulit, tapi tidak semua orang punya akses langsung. Bisa lewat resep, bisa lewat kenalan medis, bisa juga dibeli secara ilegal kalau orangnya cukup niat.”
“Priska?”
“Belum ada catatan dia punya akses. Tapi itu belum membebaskan dia.”
“Jovan?”
“Ada kemungkinan dia meminum sesuatu yang disiapkan orang lain.”
“Di pesta.”
“Ya.”
“Berarti pelaku tahu gelas mana yang akan diambil Jovan.”
Elio mengangguk kecil.
“Atau pelaku memastikan gelas itu berpindah ke tangan Jovan pada waktu yang tepat.”
Karel terdiam. Kasus itu kembali menyempit ke ruang pesta. Ke meja kecil. Ke toast. Ke tangan-tangan yang bergerak di antara gelas kristal, senyum tamu, dan lampu mewah ballroom.
“Siapa yang punya kesempatan?” gumam Karel.
Elio menoleh kepadanya. “Di pesta sebesar itu? Siapa pun yang sempat dekat meja minuman.”
“Jawaban buruk.”
“Realistis.”
“...Tetap menyebalkan.”
“Selamat datang di pekerjaanku.”
Karel menutup laporan.
“Ada sidik jari lain?”
“Sebagian rusak. Sidik Jovan ada. Ada bekas lain yang belum cukup jelas. Tapi ada satu hal.”
Karel mengangkat wajah. Elio mengambil foto pembesaran dari map lain.
“Pada salah satu pecahan gelas, ada sisa lapisan tipis. Bukan hanya dari bibir gelas. Kemungkinan dari kain.”
“Kain?”
“Serat halus. Seolah seseorang sempat mengelap bagian tertentu.”
Karel mengambil foto itu dan mendekatkannya.
“Untuk menghapus sidik jari?”
“Mungkin.”
“Setelah gelas pecah?”
“Sulit. Lebih mungkin sebelum gelas pecah, atau gelas itu memang sudah pernah dilap dengan sengaja sebelum digunakan.”
Karel menatap laporan itu lama. Gelas tercemar. Gelas mungkin dilap. CCTV hilang. Priska tampak bersalah. Mireya tampak hancur. Terlalu banyak hal yang terasa terlalu rapi.
“Panggil Odelia,” kata Karel.
Elio mengangkat alis.
“Asisten Mireya?”
“Dia yang sempat mengurus barang acara. Kalau ada yang tahu soal gelas, mungkin dia melihat sesuatu.”
“Atau dia cuma melihat terlalu banyak gelas dan terlalu sedikit ketenangan.”
“Kita tetap tanya.”
Elio menutup map.
“Aku ikut?”
“Untuk apa?”
“Biar ada yang ingetin kalau kau mulai terlalu serius.”
Karel menoleh kepadanya.
Elio tersenyum kecil. “Jangan terlalu bangga.”
Di rumah Anggasta, Odelia Cakrawati menerima panggilan dari polisi dengan wajah seperti seseorang yang baru diberi kabar bahwa hidupnya akan diuji tanpa persiapan. Ia berdiri di ruang tengah, memegang ponsel dengan kedua tangan.
“Bu Irene,” katanya pelan. “Katanya saya harus datang ke kantor polisi. Detektif Karel mau tanya soal gelas.”
Celestia langsung menoleh dari sofa.
“Soal apa?”
“Gelas.”
“Gelas?”
Odelia mengangguk cepat. “Saya tahu. Saya juga berharap hidup saya tidak sampai pada titik di mana gelas jadi masalah hukum.”
Mireya yang duduk dekat jendela menurunkan buku yang sejak tadi tidak benar-benar ia baca.
“Soal gelas di pesta?”
“Iya, Mbak.”
Celestia mengerutkan kening.
“Kenapa Odelia?”
Mireya mengangkat wajah.
“Karena aku pernah minta Odel jangan membiarkan gelas-gelas di meja dibuang malam itu.”
Celestia menoleh kepadanya.
“Kamu?”
Mireya mengangguk kecil.
“Waktu Jovan mulai pusing, aku merasa ada yang tidak beres. Aku tidak tahu apa. Aku cuma… tidak ingin semuanya dibersihkan terlalu cepat.”
Irene memperhatikan putrinya tanpa bicara. Celestia tampak terkejut.
“Kamu tidak pernah cerita.”
“Banyak yang tidak sempat kuceritakan.”
Odelia mengangguk kecil.
“Mbak Mireya memang minta begitu. Katanya untuk pendataan barang acara. Saya pikir waktu itu Mbak cuma mencoba tetap sibuk supaya tidak panik.”
Mireya tersenyum lemah.
“Mungkin memang itu.”
Celestia duduk di sampingnya.
“Kamu sadar itu bisa membantu polisi?”
“Aku tidak berpikir sejauh itu.”
Irene akhirnya bicara.
“Kadang naluri bekerja lebih cepat daripada pikiran.”
Mireya menunduk.
“Mungkin.”
Ada sesuatu yang berubah di ruangan itu. Bukan kecurigaan. Lebih seperti kesadaran bahwa di malam paling kacau sekalipun, Mireya sempat mengambil keputusan yang akhirnya menyelamatkan barang bukti penting.
Celestia melihat Mireya semakin kuat. Odelia melihatnya semakin perhatian. Irene justru makin diam.
“Aku akan ikut mengantar Odelia,” kata Celestia.
Odelia langsung menggeleng.
“Tidak usah, Mbak. Saya bisa.”
“Kamu gemetar.”
“Saya memang orang yang sering gemetar kalau menghadapi institusi resmi.”
“Justru itu aku ikut.”
Mireya menyentuh tangan Odelia.
“Jawab yang kamu tahu saja. Jangan ditambah-tambah.”
Odelia menatap Mireya.
“Aduh, Mbak. Kok jadi terasa kayak saya saksi penting?”
Bayangan senyum melintas di wajah Mireya.
“Kamu memang penting.”
Wajah Odelia melunak. Ia mengangguk.
“Baik. Saya akan berusaha tidak salah bicara.”
Celestia berdiri.
“Kalau salah bicara, koreksi. Polisi bukan dewa.”
Odelia berbisik, “Wajah Detektif Karel kadang seperti dewa kecil yang kecewa.”
Mireya hampir tertawa, tetapi tawa itu tidak sampai keluar penuh.
Di balik senyum kecilnya, ponsel di meja kembali menyala sebentar. Tidak ada pesan baru. Pesan terakhir masih tersimpan di sana.
Buat dia tetap melihatmu sebagai luka, bukan jawaban.
Mireya mematikan layar sebelum Celestia sempat melihat.
Di kantor polisi, Priska Halim duduk di ruang tunggu pemeriksaan dengan pengawasan petugas. Ia tidak diborgol, tapi tetap merasa setiap geraknya diawasi. Setiap kali ia bergerak, ada mata yang mengikuti. Setiap kali ia menarik napas terlalu keras, seseorang menoleh.
Gavin dan Livia tidak berada jauh dari sana. Mereka datang setelah mendapat kabar bahwa Odelia akan dimintai keterangan. Gavin tidak bisa masuk ke ruang pemeriksaan, tetapi kehadirannya di kantor polisi sudah menjadi kebiasaan buruk yang mulai membuat beberapa petugas mengenali wajahnya.
Priska melihat Gavin lebih dulu.
Matanya menyipit.
“Kamu,” katanya.
Gavin berhenti.
Livia melirik Priska, lalu berbisik, “Nada itu biasanya bukan awal percakapan yang sehat.”
Gavin mendekat dengan hati-hati.
“Priska.”
“Jangan pakai suara kasihan.”
“Saya tidak—”
“Kalian semua sama. Polisi, wartawan, keluarga mereka. Datang katanya mau ngerti, ujung-ujungnya pulang bawa cerita saya.”
Gavin diam sebentar.
“Saya belum menulis Anda sebagai pembunuh.”
“Belum?”
Kata itu keluar pelan.
Gavin duduk di kursi berjarak satu kursi darinya.