Malam itu, suara bising knalpot masih mengudara. Beberapa motor berjajar bersiap beradu kecepatan di lintasan, tak lama hitungan mundur pun dimulai. Seketika motor-motor tersebut melaju cepat saling merebutkan posisi terdepan, tapi ternyata juaranya masih tetap sama.
Ketua geng motor XCT yang menjadi pemenangnya. Siapa lagi kalau bukan Barrapati Grissan Nugroho. Remaja 18 tahun yang tak hanya mempesona di mata kaum hawa, namun juga cukup disegani di kalangan anak-anak motor.
Senyum Barra tampak mengembang begitu helm full face tak lagi menutupi wajahnya. Sosok tampan itu semakin sumringah saat sang kekasih yang sudah menunggu di garis finish langsung datang untuk memberinya ciuman.
"Kemenangan ini buat kamu Sayang," bisik Barra di telinga gadis bernama Nadira tersebut. Ia lalu turun dari motor dan mengajak sang kekasih untuk mengambil segepok uang yang sudah disiapkan sebagai reward pemenang race kali ini.
Begitu uang diterima, tanpa mengambil sepeserpun Barra langsung menyerahkan seluruh uang itu ke tangan Nadira.
"Ini buat aku?" tanya Nadira dengan tatapan haru.
"Iya Sayang, ini buat bayar sekolah kamu, sisanya buat beli obatnya nenek," jawab Barra yang seringkali merasa kasihan pada sang kekasih karena hanya hidup bersama neneknya.
Mendengar itu Nadira langsung mendekap erat tubuh Barra.
"Thanks ya Barr," ucapnya tulus.
"Always for you Nad," balas Barra dengan penuh kasih sayang.
Keduanya sama-sama bahagia malam itu.
Nadira bahagia karena akhirnya masalah biaya sekolahnya terselesaikan, sedangkan Barra bahagia karena ia bisa membantu Nadira dengan tangannya sendiri.
Sayangnya kebahagiaan malam itu justru membawa malapetaka.
Keduanya ikut terhanyut dalam uforia perayaan kemenangan Barra bersama anak-anak XCT lain hingga menikmati minuman haram yang akhirnya membuat kesucian Nadira terenggut. Satu bulan setelah kejadian itu Nadira dinyatakan hamil, tapi Barra tak pernah meninggalkannya. Dengan lantang ia mengatakan akan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Meski banyak tantangan yang harus dilalui untuk bisa mendapatkan restu, Barra tak menyerah. Sampai akhirnya Nadira benar-benar bisa diterima oleh keluarga besarnya.
Semuanya berjalan baik, tak ada permasalahan berarti dalam rumah tangga Barra dan Nadira. Sekarang mereka hidup sebagai keluarga kecil yang bahagia. Menempati sebuah rumah pemberian orangtua Barra yang cukup mewah.
Barra sendiri tetap melanjutkan kuliah, sedangkan Nadira memilih menunda kuliahnya demi bisa fokus pada kelahiran putra mereka.
Tiga tahun berlalu. Sesuatu mulai datang mengusik. Sore itu, langit mulai gelap, rintik-rintik air hujan turut berjatuhan dari langit, membuat Nadira gelagapan dan mempercepat langkahnya menuju ke kasir. Karena keasyikan belanja ia sampai lupa waktu.
Benar saja, baru berdiri di depan kasir beberapa saat, ponselnya sudah bergetar. Nadira buru-buru mengangkat telepon dari sang suami.