Kini Maya yang sedang kelemahan itu tengah beristirahat di sebuah pohon yang rindang dan jauh dari getaran para manusia.
Di sisi lain, ada seorang perempuan dengan jati diri dan kebanggan diri yang kosong sedang linglung. Dia berdandan dan memakai perhiasannya supaya nampak anggun dan terlihat bernilailah jiwanya itu.
Namun ia masih tak puas saja, ia pun menginginkan seseorang untuk melengkapi hidupnya. Terlihatlah ia dengan sesosok laki laki muda yang baru pulang dari kajian di pondoknya, sosok itu begitu sempurna, shalih, mapan, rupawan, pandai mengaji dan berasal dari keluarga terhormat. Ia rasa semua itu sangat pas dengan kemegahan yang ia damba untuk menambal jurang yang menganga kosong di dalam jiwanya.
"Aku ingin dia! Aku harus punya dia! Aku akan mengusahakan segalanya! Dia adalah puncak simbol yang harus aku koleksi! " ucapnya di dalam hati.
Bermainlah ia dengan anggun dan lembut, penuh pengertian, penuh kasih yang manis sembari menghitung dan menakar segala hal dengan presisi yang ketat dan tak lupa segala pengorbanan yang tercatat untuk ditagihkan ketika dia telah selesai dari lakon wanita shalihahnya.
"Aku akan menjadi perempuan yang sabar, maka dia akan luluh padaku, aku akan berdandan dengan cantik supaya orang orang tahu seberapa pantas Aku bersamanya, Aku akan menjaga perilaku agar dia dan semua orang tahu aku perempuan sempurna," ucapnya dalam hati sambil memikirkan skenario terbaik.
Orang orang terdekatnya yang melihat ia mulai menjerumuskan dirinya dalam jurang egonya sendiri mulai menepuk pundaknya, "Hei, firasatku berkata seperti ada yang salah dengan langkahmu? Apakah kau benar benar mencintainya? Apakah dia benar benar menginginkanmu? Tidakkah kamu seharusnya menenangkan diri terlebih dahulu? "
Bahkan ibunya sendiri pun sempat goyah, berkatalah ibunya di dalam hati, "kenapa anakku ini? Kenapa dia selalu mengejar segala hal yang memiliki nilai pengakuan tinggi ? Tapi masalahnya adalah sebelum sebelumnya dia selalu gagal dan selalu merepotkan, kenapa dia tidak pernah kapok ya? ujung ujungnya aku dan almarhum suamiku yang membereskan dan menanggung semua malu. Kita sampai kelelahan menghadapi orang orang hanya untuk menutupi kekurangan dan kegagalannya."
Ibu itupun termenung lalu berkata dalam hati.
"Kenapa keinginan dan rasa laparnya selalu berat padahal aku sudah berusaha mencukupi segala kebutuhannya? Aku sudah berusaha menjadi Ibu yang baik yang aku bisa? Bahkan aku sampai sering mengorbankan diriku sendiri, reputasiku, hartaku, hanya untuk membelanya."
Sang ibu yang sedari tadi duduk dari kejauhan sambil melihat anaknya yang sedang bersolek dengan penuh perhitungan itupun termenung membayangkan sesuatu yang telah dia lalui beberapa waktu lalu.
"Dia selalu begitu, selalu yakin bahwa keberhasilan ada di depan matanya dan selalu yakin bahwa orang orang tidak bisa melihat hasrat menggebunya."
Sang ibu temenung dan mulai membayangkan kenangan lamanya.
"Teriangat dulu, suamiku lah yang sampai memelukku dan memberikan apa yang anak ini mau hanya agar anak ini tidak lagi menuntutku dengan rasa bersalah dan menyudutkanku dengan semua permainan sorot wajah dan kata katanya."
"Aku sudah sangat bersabar menghadapinya, pun suamiku telah berusaha mengisi celah kebutuhan kebutuhan diri maupun egonya."
"Tapi kenapa tetap saja?"
"Kenapa dia tidak seperti anak anak normal lain yang menggunakan pemberian orang tuanya untuk benar benar bersyukur dan memiliki nilai yang asli dan bisa dibanggakan? Apa kurangku? Aku dan suamiku sudah hancur lebur berjuang untuk menata semuanya demi anakku ini."
"Dia aku berikan segalanya, dia bisa belajar apapun yang dia mau, dia bisa membangun apapun yang dia mau. Tapi dia hanya mau simbol simbol saja."
"Dia mengikuti pondok pesantren kilat lalu berkata telah mondok di sana dan berlaku seolah alim dan terpelajar karena menjadi lulusan pondok pesantren ternama."
"Dia berkata bahwa punya cita cita bisa menulis kitab yang bermanfaat, namun menyelesaikan soal ujian madrasah ibtidaiyah tentang hukum dasar waris saja dia perlu bantuan dan melakukan kecurangan sewaktu ujian."
"Dia berkata hendak membuat acara santunan yang terprogram, aku sudah mengundang rekan baikku pemilik pondok, lalu dia tiba tiba tinggalkan saja seolah dia tidak pernah mempromosikan program apa apa."
"Aku, aku selalu dikorbankan, aku selalu yang menjelaskan dan berusaha kembali menyambung silaturahmi dengan mereka yang telah dirusak oleh dia."
"Oh Tuhan, bahkan permintaanku adalah permintaan sederhana untuk bertanggung jawab dan memiliki sedikit cipta yang bisa aku banggakan."
"Lalu kenapa, sudah tidak bisa mencari nilainya sendiri, dia malah juga tidak bisa mengukur kapasitas dirinya sendiri lalu terus saja memproyeksi keinginan jauh ke langit? Aku senang melihatnya punya keinginan tinggi, tapi jika itu bukan dijadikan semangat untuk berproses tapi malah dijadikan kegilaan untuk mengejar segala simbol pengakuan, lalu untuk apa? Aku lelah, penuh rasa malu dan juga kekecewaan menghadapi masalah masalah yang ia buat."
"Oh Tuhan, salah apa aku? Aku sudah berusaha memberikan yang terbaik selama ini kenapa hasil didikanku seperti ini?"
Kepala sang ibu pun berputar putar, mengecek ulang semua yang telah dia lakukan.
"Apakah karena dia melihat posisiku ya? Apakah karena dia merasa di atas angin karena kesuksesan dan kerja kerasku dan suamiku? Apakah karena nilai nilaiyang melekat padaku sehingga dia sudah merasa hebat? Apakah karena dia merasa besar karena menjadi anak ku? "
Sang ibu itu menghembuskan nafas beratnya. Dia kembali berkata di dalam hati.
"Benar dia anakku, tapi dia seharusnya tahu bahwa perjuangan dan pencapaian ini adalah nilai dan kehormatanku dan suamiku sedangkan dia harus mencari nilai dan kehormatannya sendiri alih alih menumpang pada percikan cahaya dan martabat orang tuanya saja."
"Aku bahkan tidak meminta dia membalas dan membahagiakanku, aku hanya berharap dia tidak lagi menggebu dengan pengakuan dan berhenti membuat masalah."
"Sudah sewajarnya anak menumpang harta dan sudah sewajarnya pula anak membawa bekal posisi dan nilai orang tuanya. Tapi anakku sangat tidak wajar, dia seperti keranjang penuh lubang, dia tidak bisa menciptakan apa apa dari bekal yg aku dan suamiku berikan. Dia hanya bisa menjaga supaya semua ini tetap bisa dia jadikan gaya dan hiasan tubuhnya."
Kini lidah yang tersembunyi di bawah langit langit mulut Sang Ibu sudah begitu pahit. Dia masih menatap anaknya itu dengan nanar dari tempatnya menapakkan kaki. Sembari terus bertanya tanya lagi dan lagi.
"Kenapa terlahir dari rahimku anak yang seperti ini? Oh Tuhan bukankah aku sudah mengusahakan semua di jalan yang benar, ada dosa apakah aku di masa lalu sampai aku harus menanggung ini?"
Ibu itu pun terhanyut dalam pikirannya yang penuh akan gambaran rasa lelah dan mengingat segala pengorbanan serta perjuangan dia bersama suaminya untuk menghadapi anak semata wayangnya ini.
Kemudian Sang Ibu juga berpikir.
"Apa iya lelaki itu akan mau? Apa iya, dia benar benar akan kuat menghadapi anakku? Lelaki ini adalah Orang yang sangat shalih, pandai mengaji kitab dan tafsir, sedang anakku hanya senang memakai baju baju muslimah namun memahami makhraj dan tajwid saja dia malas malasan. Orang orang telah menggunjing, anakku selalu berkata kita akan menang, tapi aku melihat dia lagi lagi hendak menjerumuskan keluarga ini menuju jurang rasa malu dan kecewa."
Sang Ibu menghembuskan nafas beratnya.
"Tapi anakku terlihat yakin sekali," Ucapnya pelan sambil melihat sorot wajah anak semata wayangnya itu.
Namun kemudian wajah sang Ibu itu berubah menjadi sendu. Kembali ia berkata di dalam hati.
"Tapi sebelum sebelumnya anakku ini juga selalu yakin bahwa dia akan bisa dan layak mendapatkan segala sesuatu yang ia ingin kejar tapi dia juga selalu gagal. Tidak imbang antara apa yang dia sangka pantas dia miliki dengan kemampuan dirinya sendiri. Kenapa ya? Aku salah apa selama ini? Bagaimana ini ? harus melakukan apakah aku untuk menyikapi anakku ini?"
Besar sekali kegelisahan sang Ibu di dalam hatinya tapi ketika sang anak itu datang padanya untuk menunjukkan hasil rasanya, perihal yang bisa sang Ibu ucapkan hanyalah, "kamu yakin nak? Kamu yakin bisa akrab dengannya? Dia memang sedang mencari calon tapi dia terlihat sangat tertutup dan pilih pilih? Bagaimana jika dia nanti dia menerimamu karena dia kelelahan dan terdesak saja?"
Kemudian ia menambahkan pesan peringatan kepada anaknya.
"Nak, jangan mentang mentang dia seorang yang shaleh lantas pasti tidak memiliki emosi dan keinginan mendapatkan yang pantas dan seimbang untuknya, keshalihan adalah tingkat ilmu dan keimanan tapi dia tetap manusia yang butuh seseorang yang bisa dia ajak bicara hal yang sama. Kamu yakin akan bisa mengimbanginya? "
Perempuan itu tersinggung dan berkata, "ibu menganggapku kecil?" Lalu mengeluarkan wajah sendu yang membius racun rasa bersalah di wajah ibunya.
Ibu itu pun terguncang, ia merendahkan nadanya lalu berkata, "Bukan seperti itu nak, tapi orang orang juga sudah ramai membicarakan segala ketimpangan yang mereka lihat dalam hubungan kalian," Ucap Ibu sambil lemah lembut berharap sang anak mengerti lalu mundur dan mencari cinta sejatinya yang sepadan saja.
Tapi perempuan itu semakin bertekad baja dan berpikir di dalam hati, "justru semakin orang orang meremehkanku, aku akan semakin membuktikannya bahwa aku bisa ! Kita lihat saja!"
Ia kemudian berkata kepada ibunya, "Ibu, aku anakmu bukankah seharusnya ibu bantu aku sebisa mungkin ? Ibu kan hidup untukku? Lagipula ibu seharusnya bangga padaku dan tekadku ini, toh nanti ibu juga ikut bisa pamer kan kalau aku berada di posisi puncak itu. Ibu bisa berkata ke semua orang bahwa mantu ibu adalah seorang ahli tafsir muda, murid kesayangan dari pondok yang terkenal, yang tampan, shalih dan juga cerdas."
"Kenapa ibu malah risau seperti orang orang? Ibu tidak percaya dengan anak ibu sendiri? Aku akan berusaha Bu? Sudah percayakan saja padaku!"
Ucap anak itu dengan raut wajah serius dan tak terbendung, kemudian meninggalkan ibunya seorang diri dan pergi entah merencanakan apa lagi.
...
Ibunya pun akhirnya tak berdaya, akhirnya mau tak mau pun ia mulai membantu mencitrakan anaknya bahwa dia adalah anak yang begitu luar biasa demi terpenuhinya keinginan putri semata wayangnya itu.
Dalam hati sang ibu, dia begitu gusar, "Tapi bagaimana ya? Apakah aku benar? Tapi jika aku tidak membantu anakku, apakah aku ibu yang gagal? Jika tidak aku turuti, dia nanti akan terus terusan menudingku bahwa aku ibu yang tidak mencintainya dan tidak menolongnya, baiklah aku bantu saja daripada nanti aku dihakimi sepanjang usia, toh dia anakku satu satunya."
Kemudian mimik wajah sang ibu seakan pasrah dan begitu menderita ditemani air mata yang menggenang di pelupuknya, dalam hatinya ia berkata.
"Lagipula kini suamiku sudah tidak ada, siapa lagi yang menemaniku jika bukan dia? Jika dia memberontak, siapa yang melindungiku, menjaga dan merawatku? Walau dia mungkin keliru dan selalu merepotkan, Aku hanya memilikinya seorang. Aku tidak punya siapapun lagi selain dia."
"Tapi, apakah anakku tahu bahwa aku pasti menurutinya karena aku sudah tak punya lagi pilihan dan tak punya siapa siapa selepas suamiku meninggal?"
"Oh Tuhan, apakah aku sama terdesaknya seperti lelaki itu? Oh Tuhan apakah ini jalan yang lurus? Oh Tuhan, apakah anakku memang pandai membuat orang orang terdesak untuk memenuhi keinginannya? Oh Tuhan, maafkan hamba jika hamba menempuh jalan yang salah dan tidak bisa meluruskan anak hamba."
Sang ibu kini mata sayunya melihat ke langit sana.
"Andai aku punya anak perempuan lagi selain dia, anak perempuan yang teduh dan benar benar terhormat bukan kehormatan yang palsu seperti milik anak itu. Bukan harga diri yang dipaksakan besar padahal hanya pernak pernik gaya."
"Andai aku punya satu saja anak perempuan seperti anak perempuan normal yang dimiliki orang orang, aku pasti tidak hidup selalu seperti di ujung jurang."
"Atau andai aku punya anak laki laki yang bisa tegas membelaku dari desakan halus dan drama anak itu, aku pasti tidak sesakit ini."
"Atau andai suamiku tidak pergi lebih dulu...."
Air matanya terjatuh, kini tangan yang mulai mengkerut itupun menghadapi pahit getir kehidupan sendirian.
"Suamiku, kenapa kau pergi terlebih dahulu membiarkanku hidup berdua bersama anak yang sama sama selalu merepotkan dan meremas kita selama ini?" Ucap sang Ibu dengan sendu di dalam hatinya.
"Suamiku, aku tidak punya pelukan lagi, aku tidak punya pelindung lagi, bisakah aku hidup menghadapinya seorang diri? Harus bagaimana aku melindungi diriku sendiri lagi? Batinku berteriak berkata bahwa dia akan membuat kehancuran lagi. Dan aku harus siap siap membereskan semuanya sendirian saat ini."
...
Kemudian karena perempuan pencari simbol dan ahli bergaya itu sudah mendapatkan dukungan serta pembelaan dari ibunya, perempuan itu semakin keras hati dan di atas angin mengejar ambisinya.
Orang orang semakin ramai menggunjing kejanggalan di dalam ranum yang ia kejar tapi dia terus bersikeras dan semakin gila memaksakan realitas.
...
Dia tidak peduli terhadap orang orang yang mulai menggunjing kejanggalan dalam apa yang dia lakukan.
Orang orang yang menegurnya supaya ia tidak jatuh dalam jurang egonya itu terdengar seperti orang orang yang iri dengki yang ingin merampas kemenangan nyata di depan matanya.
....
Singkat cerita setelah beberapa hari dari waktu baiat suci telah dikumandangkan. Sang perempuan melihat bahwa semua usaha yang telah dia lakukan tidak membuahkan hasil seperti yang dia kira, dia pun mulai geram, "Kenapa? Kenapa semua yang aku usahakan tidak membuahkan hasil apapun? Benar benar laki laki yang tidak tahu di untung! Tidak tahu terima kasih! Padahal aku sudah hampir terlihat sempurna dan layak dengan segala pujian! Dia itu berhutamg banyak padaku tapi tidak membalasnya! Karma akan menghukummya!" Hatinya berkobar panas, ia mulai jengah.
Ditemuilah laki laki itu dan perempuan itupun berkata, "Kamu kenapa sih? Aku sudah melakukan segalanya padamu! Kenapa kamu bahkan tak sudi berjalan dekat denganku ! Padahal aku seharusnya punya hak untuk bisa dekat denganmu! Kamu seharusnya dekat dan memenuhi kebutuhanku! Aku telah melakukan segalanya padamu! Kau ahli mengaji tapi kau tidak tahu caranya membalas dan berterima kasih! "
Laki laki itu hanya diam bergeming seolah perempuan itu hanya angin lalu yang tiada perlu dianggap ada. Namun suatu waktu ketika perempuan itu mulai berusaha meredam api di dadanya dan tidak lagi berisik, laki laki itu justru datang dan berbisik padanya, "Kenapa? Tepuk tangannya kurang ?"
Lalu dia diam, pergi meninggalkan perempuan itu sambil seluruh emosinya meledak di dalam.
Sembari melangkahkan kakinya dan menahan mulutnya rapat rapat untuk tidak berkata hal hal yang buruk kepada istrinya, laki laki itupun meluapkan segala amarah dengan gerutu yang meledak di dalam jantungnya.
Di dalam jantung itulah semua amarah meletus bagai kembang api yang sahur menyahut.
"kau pikir aku tidak tahu kau sedang gila dengan gengsimu sendiri dan hanya ingin validasi serta diam diam menumpang lampu sorotan dan juga posisi ?"
"Kau menipuku sebagai seorang yang alim dan manis serta polos untuk aku arahkan padahal dalam hatimu hanya ingin menumpang pujian sebagai seorang perempuan yang tiba tiba menjadi tokoh suci terhormat kan?"
"Apa? Memenuhi kebutuhanmu? Aku ini suamimu ! Bukan pelayan ! Yang ahli tafsir itu siapa, kau pikir layak seorang perempuan menuding nuding seperti itu? Kau pikir terhormat dan diridhoi-ilahi kah gaya hidup glamor, pamer, gila hormat serta tabiat tabiat licikmu dalam menipu itu?"
"Aku berusaha baik padamu menahan semuanya tapi kamu semakin menjadi, aku sudah berkata dari awal jangan terlalu pamer dan bermegah megahan, aku ingin yang sederhana saja ! apakah kau selama ini menjadi istri serta calon istri yang baik? Yang menuruti ucapanku sebagai suami dan calon suami? Tidak !"
"Aku berasal dari keluarga penuh etika, kesopanan dan juga privasi yang terhormat."
"Tapi dia ? Aku hanya tergelincir lidah bahwa melihat sepatuku yang hendak aku cuci tiba tiba bersih dan secara reflek tersenyum lantas dia memakai itu sebagai cerita yang dipamerkan dan dibesar besarkan kepada orang orang seluruh desa."
"Ingin sekali aku berkata di depan mukanya dengan begitu jelas."
"Kau tahu tidak betapa ngeri dan bergidiknya aku melakukan apapun setelah itu karena aku merasa segala yang aku lakukan pasti akan diumbar umbar dan dibesar besarkan, dibumbui dengan drama pada semua orang?"
"Tahu tidak? Oh pasti tidak tahu ! Kau hanya memikirkan keinginanmu sendiri selama ini."
"Aku kira nanti akan bisa saja baik kepadamu tapi kamu tidak habis habisnya membuatku semakin risih, jujur saja perutku ingin mengeluarkan isinya setiap kali mendengar, menatap dan merasakan hawa tubuhmu bahkan jika dari balik ruangan pun."
"Kau jauh dari perempuan yang dicitrakan ibumu, jauh sekali. Bagai pusat inti bumi menuju pusat matahari."
"Jika bukan karena ibumu wanita terpandang dan baik serta memiliki hubungan dekat dengan keluargaku, aku tidak akan sudi mengenalmu."
"Setiap kali aku ingin menjalankan tugasku sebagai suami yang perhatian dan memberikan kasih, kau mematung sambil memasang mimik wajah tak berdosa dan permainan penuh tuntutanmu itu."
"Setiap kali aku melindungi diriku untuk menjauh, kau selalu mengeluarkan wajah tak bersalah, polos, sedih namun tegar yang dibuat buat itu!"
"Kau kira aku akan semakin luluh dengan itu? Kau tidak tahu seberapa mual ku tahan perutku melihat wajah dibuat buatmu?"
"Setiap kali aku mengarahkan untuk bersikap sederhana dan rendah hati serta jauhi keinginan untuk dipuji orang lain, kau selalu membantah bahwa kau sudah rendah hati lalu berkata bahwa itu semua normal dan wajar sebagai seorang wanita."
"Tidak wajar! Perilaku gila seperti itu tidak wajar! Semua orang yang mewajarkannya adalah orang gila! Tidak ada kitab maupun ayat yang mengatakan perilaku riya' dan haus akan pujian kosong itu wajar dan normal! "
"Dosa tetap dosa, kecacatan tetap kecacatan! Bisa bisanya aku seorang yang sangat ketat memilah ayat ini malah terikat dengan perempuan yang mengaduk aduk hal hal yang batil dengan hal hal yang haq!"
Dalam kamarnya laki laki itu dengan segenap nyawanya menahan semua, semua getaran amarah, semua getaran nyeri dari syaraf syarafnya, semua keinginan memuntahkan isi perutnya.
Dia tahan semuanya dengan begitu kuat, agar tidak tumpah kemarahannya lalu menjadi suami legam dan hitam yang khilaf kepada istrinya. Dia menahan semuanya, begitu menutup diri dan menjauh dari perempuan itu.
Kini setelah sedikit mereda gemetar dari tubuhnya itu, ia kembali menata nafasnya sembari kembali memikirkan segala hal.
"Bagaimana lantas aku mengarahkan orang yang tak mampu melihat kecacatannya sendiri?"
"Aku selalu ingin berlari sampai tidak tahu harus ku benahi dari mana rumah tangga ini."
"Tapi yang perempuan itu tahu adalah dia saja yang paling menjadi berkorban dan kini menjadi korban dari aku yang tidak sudi menyentuhnya, mendekapnya atau bersikap hangat padanya."
Sebagai seorang manusia, rasanya laki laki ini ingin sekali memuntahkan segala kata kata telanjang itu di depan mata istrinya, namun ia tahu ia terjerat syariat, ia sudah tak mampu menjadi suami yang selayaknya dituntunkan maka dia memilih menahan kerusakan lebih keras dengan berusaha diam, sabar dan menghindar.
Pria itu kini berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri dengan penuh rasa malang.
"Aku diam agar mulutku tidak begitu menyakitinya, tapi entahlah mungkin dia berkata dan berpikir bahwa aku mangkir dari kewajibanku mendidiknya."
"Aku menghindarinya agar aku tidak refleks mendorong tubuhnya pergi atau agar dia tidak melihat aku bergidik ngeri dan penuh risih tapi mungkin dia akan melihatku sebagai seorang suami dzalim yang tidak memberikannya nafkah batin."
"Dia hanya bisa melihat kelaparannya sendiri tanpa melihat apakah orang lain nyaman berada di dekatnya dan melihatnya."
"Semua arahan yang aku berikan dia terabas dengan segala alasan, jika aku mulai sedikit keras dia mulai mengeluarkan mimik korban."
"Bahkan dari sorot matanya pun aku merasa bahwa sedikit saja aku terpleset lidah dan membentaknya maka dia akan menggunakan kartu itu untuk semakin memojokkan dengan fitnah yang halus dipajang dan dilebih-lebihkan untuk menghancurkan namaku pada semua orang karena aku tidak sudi memenuhi keinginannya."
"Aku sudah tidak sanggup lagi Tuhan, badanku seperti ingin meledak."
Kini laki laki merebahkan badannya di ranjang kamar pribadinya yang selalu terkunci hanya untuk dimasukinya sendiri, di sana lah Si laki laki mengingat ulang segala yang sudah dia alami.
"Aku sudah mengamati dari awal, bahkan dari pertama bertemu aku sudah merasakan ada hal yang janggal tapi bagaimana? dia begitu terlihat pantas, ibunya begitu ramah dan terhormat, keluarga kita saling mengenal baik antar orang tua. Aku tidak tahu harus berkata dan memakai alasan apa kepada keluarga untuk menolaknya."
"Aku pun tidak punya siapapun untuk aku perjuangkan dan juga kenalkan kepada keluargaku sedangkan getaran tatap mata dari orang orang yang mendorong untuk aku menyelesaikan fungsi sosial begitu hingar bingar dan melelahkan."
"Sekarang benar saja, langkah yang aku putuskan membawaku pada parit yang tajam."
Air mata pria itu hendak menetes, namun bukan air mata kesedihan akan romansanya yang gagal, melainkan sebuah tetesan air mata penuh malu kepada dirinya sendiri yang gagal dalam memilah keputusannya.
Dengan linglung dia mulai menimbang nimbang segala yang dulu dia pikirkan benar namun cacat berantakan.
"Kenapa keluarga yang terhormat bisa memiliki anak yang begitu licik seperti dia? Kenapa wanita terpandang seperti ibunya bisa melahirkan anak perempuan seperti dia?"
"Bahkan jika di lingkungan yang begitu halus dan tertata dia bisa menjadi selicik itu lantas bagaimana jika dia berada pada lingkungan luar dan terhimpit keadaan?"
"Dia melakukan kesalahan sembari merasa benar, padahal perempuan yang benar benar tulus tidak akan menuntut seperti orang kelaparan yang serakah, orang yang benar benar baik dan penuh cinta tidak akan sibuk menata citra lalu membuat pameran penghakiman ketika kemauannya tidak keturutan."
Laki laki muda itu menghembuskan nafas beratnya, kemudian dia melihat pada mejanya, terdapat di sana teh yang tadi pagi telah ia siapkan di ruangnya itu untuk menemaninya menyiapkan naskah untuk mengajar para siswa di madrasah.
Ia teguklah cangkir itu, untuk menenangkan penat di kepala dan jiwanya lalu kembali melanjutkan perenungannya.
"Jika dia benar benar baik, kenapa sibuk meyakinkan orang orang bahwa dia baik? Kenapa semua yang telah diberi dihitung hitung seolah aku berhutang padanya? Padahal aku tidak pernah meminta dan aku juga tidak suka dengan gaya hidupnya tapi dia memaksakan, semua itu adalah keinginannya sendiri."
"Dia memaksaku ikut pada gayanya yang pamer kepada semua orang padahal aku tidak nyaman, padahal itu tidak sesuai ajaran Tuhan. Lalu tiba tiba menuntut balasan seolah semua itu pengorbanannya? Apakah dalam isi kepalanya aku seakan bodoh dan tidak tahu bahwa semua yang dia lakukan hanyalah untuk kepuasannya sendiri yang seolah olah diberikan untukku lalu tiba tiba menuntut ini itu?"
"Orang orang baik yang aku kenal itu teduh, lapang, dan hangat, tidak aneh dan penuh kejanggalan yang bising seperti pancaran yang ada pada dirinya."
Sejenak pria itu mengambil nafas dan menghembuskannya kembali. Kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri.
"Tapi semuanya sudah terlanjur, sudahlah biarkan nanti juga selesai dengan sendirinya. Yang penting sekarang aku harus melindungi diriku sendiri dengan teguh dari perempuan ini."
Ucapnya sambil meneguhkan dadanya, lalu kembali menuju perenungan.
"Aku memberikannya nafkah uang untuk menebus kewajiban bukan sebagai ungkapan yang aku hayati, apakah ini memang ikatan yang ingin aku jalankan?"
"Tidak, sudah jelas tidak. Aku ingin pernikahan yang benar benar menjadi rumah. Itu sebabnya aku merasa mati bersamanya."
"Aku rasa justru semakin hina rasa cinta, jiwa, serta tubuhku jika aku memberikan pada orang yang hanya ingin menumpang terhormat padahal ia sendiri tidak punya nilai yang bisa dihormati."
"Semua nilai dirinya hanya pinjaman, pinjaman dari citra ibunya, pinjaman dari kasta keluarganya, pinjaman dari perjuangan almarhum ayahnya lalu sekarang dia meminjam namaku untuk menjadi suci dan terhormat."
"Aku bahkan baru sadar, bodohnya aku baru sadar! Dia hanyalah kepompong kosong dari ulat ngengat yang aku kira kupu kupu indah yang bisa mendampingiku dalam rumah tangga karena lingkungannya begitu halus tertata!"
"Dia tidak punya keunggulan apa apa selain berlakon menjadi perempuan yang terhormat dan rupawan."
Tangan laki laki itu bergetar, kepalanya seakan terbelah dia merasa linglung dan lagi lagi marah kepada dirinya sendiri seolah berkata kenapa aku baru bisa membuka mata ketika aku sudah mengucapkan akad?