Kini Maya yang sedang kelelahan itu tengah beristirahat di sebuah pohon yang rindang dan jauh dari getaran para manusia.
Di sisi lain, ada seorang perempuan dengan jati diri dan kebanggan diri yang kosong sedang linglung. Dia bingung, sembari menatap sertifikat dari pondok lamanya yang bergengsi kemudian berpikir, "aku sudah tidak bisa pake ini saja, orang orang sudah bosan, aku juga tidak punya prestasi apapun, akan rusak reputasiku apabila aku memaksakan dir hanya membangun branding dengan nama pondok ini saja. Nanti orang orang tahu aku tidak benar benar berkualitas dan hanya menumpang nama besar pondok supaya terlihat punya nilai. Itu berbahaya sekali."
Sambil merenung, ia pun berjalan jalan melihat sekitaran. Terlihatlah ia dengan sesosok laki laki muda yang baru pulang dari kajian di pondoknya. Sosok itu begitu sempurna, shalih, mapan, rupawan, pandai mengaji dan berasal dari keluarga terhormat. Ia rasa semua yang dimiliki laki laki muda itu sangat pas dengan kemegahan yang ia damba sebagai pemantik pengakuan besar yang dia cita citakan dan mudah diusahakan.
"Jika aku menikah dengannya, hidupku akan tiba tiba sempurna! Aku hanya tinggal merias diri dan tersenyum mendampinginya karena dia dan kecerdasan serta kekuatannya untuk maju dan belajar itu terlihat sekali bahwa dia akan berjuang setiap waktu untuk terus maju dan maju. Dia kental sekali dengan wangi kesuksesan! Bahkan sekarang pun sudah untung besar dan akan mendapat pujian yang besar jika aku menikahinya! Nanti jika berhasil, seumur hidup aku hanya tinggal mendampinginya dan ikut naik posisi serta penuh sanjungan bahkan tanpa harus mendompleng nama pondok atau susah susah membuat citra sukses lainnya! Dia benar benar harta karun!"
"Ibu, ibu aku harus jadi anak baik yang merayu ibu! Aku harus tunjukkan aku tulus lalu ibu dan bapak akan mendukungku untuk mendapatkannya! Bisa, bisa pasti bisa! Aku harus totalitas karena ini investasi besar! "
Perempuan muda itu dengan kobaran semangat yang ia tahan di dalam jantungnya, berjalan cepat penuh senyum sambil menara tindakan secara presisi agar ibu kembali luluh dan dia benar benar mendapatkan laki laki bibit unggul yang akan menggendong citranya seumur hidup.
Di sepanjang jalan jantungnya menggebu berkata, "Aku ingin dia! Aku harus punya dia! Aku akan mengusahakan segalanya! Dia adalah puncak simbol yang harus aku koleksi ! Dia aktor yang bagus sebagai pendukung identitas baru ku! Aku akan dipuji puji orang lagi tanpa melakukan sesuatu yang benar benar melelahkan!" ucapnya di dalam hati.
Bermainlah ia dengan anggun dan lembut, penuh pengertian, penuh kasih yang manis sembari diam diam di dalam jantung dan kepalanya menghitung dan menakar segala hal dengan presisi yang ketat serta tak lupa segala pengorbanan yang tercatat untuk ditagihkan ketika dia telah selesai dari lakon wanita shalihahnya.
"Aku akan menjadi perempuan yang sabar, maka dia akan luluh padaku atau setidaknya dia akan merasa jahat jika menolak perjodohan yang nanti aku minta kepada ibuku yang dekat dengan kluarga pondok itu. Aku juga akan berdandan dengan cantik dan memakai segala yang dimiliki ibu untuk menata semuanya supaya orang orang berpikir bahwa aku memang pantas bersamanya. Aku akan menjaga perilaku dan akan menunjukkan antusiasku agar kalaupun dia dan kecerdasannya mulai menyadari serta mengendus taktikku, dia tetap tidak bisa mundur karena dia nanti akan dilihat orang orang sebagai orang yang tidak bisa menghargai perempuan manis yang sudah memberikannya perlakuan sepenuh hati kepadanya. Lalu dia terpojok dan menuruti segala skenario yang aku rancang diam diam." ucapnya dalam hati sambil tersenyum memikirkan skenario terbaik lainnya.
Orang orang terdekatnya yang melihat ia mulai menjerumuskan dirinya dalam jurang egonya sendiri mulai menepuk pundaknya, "Hei, firasatku berkata seperti ada yang salah dengan langkahmu? Apakah kau benar benar mencintainya? Apakah dia benar benar menginginkanmu? Tidakkah kamu seharusnya menenangkan diri terlebih dahulu? "
Bahkan ibunya sendiri pun sempat goyah, ketika anaknya mulai mengeluarkan rayuan mautnya, berkatalah ibunya di dalam hati, "anak ini mulai lagi, dia akan membuatku semakin terpojok lagi, apa lagi yang hendak dia utak atik hanya untuk menjadi terlihat lebih hebat kemudian?"
Ibu itupun hanya diam dan menjawab kepada anaknya, "iya iya, sudah, ibu rasanya tidak tahan dengan rayuanmu, iya iya nanti ibu usahakan. Beri ibu ruang dulu."
Sang anak pun tersenyum sumringah sedang Ibunya termenung lalu berkata dalam hati.
"Dia berkata begitu tulus jatuh cinta, tapi aku tidak bisa pura pura tidak tahu lagi, dia selalu memainkan pola yang sama, dia pasti mencari tiang panjat agar mendapat pengakuan dari orang orang."
"Aku harus bagaimana?"
"Apakah dia berpikir segala taktiknya akan selalu aman? Hal yang dibuat dengan kebohongan pasti akan hancur atau menyakitkan kemudian, apalagi yang dia incar adalah salah satu dari anak emas pondok ternama, dia benar benar hanya bisa memikirkan kemenangan yang menggoda saja tapi tidak memikirkan potensi kegagalan dan ketidakcocokan di tengah jalan."
Ibu itu seolah menelan pil pahit, dia hendak menegur keras anaknya pun tak bisa, hendak diam saja pun terdesak desak.
Ibu itu mengingat ingat segala pola perilaku anaknya selama ini. Kemudian berkata di dalam hati, mengeluarkan segala yang dia anggap tahu bahkan untuk dia bahas di hatinya sendiri.
"Kenapa aku melahirkan anak yang seperti ini ? Manusia pada umumnya benar benar diberikan ujian dan masalah sebagai jalan keimanan tapi dia jelas jelas mencari dan membuat masalah, menghancurkan sesuatu karena tabiat jeleknya lalu membuat cerita seolah dia pendekar yang lolos dari perang gerilya."
"Kenapa? Tidak sedikit saja dia punyai dorongan untuk berjuang dengan benar? Padahal aku berjuang sebegitu gigih dan kerasnya untuk keluargaku ini. Kenapa dia tidak menirunya dan malah mempermalukanku? Kenapa yang keluar dari rahimmu anak seperti dia? Kenapa tidak lahir seorang anak yang manis dan benar benar berbakat? Kenapa justru dia yang selalu mencari tumpangan? Lalu ketika semuanya hancur karena ditumpanginya, dia pergi begitu saja. Seolah tak ada yang perlu dibenahi kecuali sudut pandang orang orang yang perlu ditata agar dia terlihat sebagai sosok yang hebat sebab bertahan atau lolos dari masalah besar padahal itu adalah masalah yang ia perbuat dari laku dan tabiatnya."
Tangan sang Ibu sedikit gemetar, semua kejadian sebelumnya seakan berputar-putar di kepala.
Kembali dia tertegun di dalam hati, "dulu selalu aku dan suami yang meredam omongan semua orang, yang memperbaiki semua yang telah dia rusak sedangkan dia hanya berkata ke semua orang bahwa dia telah mendapatkan ujian besar sebagai ciri hamba yang kuat serta pelajaran besar, selalu dan selalu seperti itu."
Sang ibu yang sedari tadi duduk dari kejauhan sambil melihat anaknya yang sedang bersolek dengan penuh perhitungan itupun mulai merasa sesak. Dalam hatinya kembali berteriak.
"Dia selalu begitu, selalu yakin bahwa keberhasilan ada di depan matanya dan selalu yakin bahwa orang orang tidak bisa melihat hasrat menggebunya."
Sang ibu temenung dan mulai membayangkan kembali kenangan lamanya dengan suaminya.
"Teringat dulu, suamiku lah yang sampai memelukku dan memberikan apa yang anak ini mau hanya agar anak ini tidak lagi menuntutku dengan rasa bersalah dan menyudutkanku dengan semua permainan sorot wajah dan kata katanya yang menjerat."
"Aku sudah sangat bersabar menghadapinya, pun suamiku telah berusaha mengisi celah kebutuhan kebutuhan diri maupun egonya."
"Tapi kenapa tetap saja?"
"Kenapa dia tidak seperti anak anak normal lain yang menggunakan pemberian orang tuanya untuk benar benar bersyukur dan memiliki nilai yang asli dan bisa dibanggakan? Apa kurangku? Aku dan suamiku sudah hancur lebur berjuang untuk menata semuanya demi anakku ini."
"Aku berikan segala hal padanya, dia bisa belajar apapun yang dia mau, dia bisa membangun apapun yang dia mau tapi dia hanya mau aman sembari mengoleksi simbol simbol saja dan mengasah kemampuan menata sudut pandang orang agar selalu melihat hebat kepadanya."
"Dia tidak pernah berpikir bahwa orang kosong yang berlagak menjadi raja suci hanya akan dikagumi oleh rakyat rakyat kosong pikir."
"Dia tidak pernah berpikir bahwa orang yang benar benar memiliki nilai nilai, daya kritis serta berpengalaman sangatlah bisa melihat seberapa kosong dia di balik citra hebat yang dia gaungkan."
"Dia mengikuti pondok pesantren kilat lalu berkata telah mondok di sana dan berlaku seolah alim terpelajar karena menjadi lulusan pondok pesantren ternama."
"Dia berkata bahwa punya cita cita bisa menulis kitab yang bermanfaat, namun menyelesaikan soal ujian madrasah ibtidaiyah tentang hukum dasar waris saja dia belepotan."
"Dia berkata hendak membuat acara santunan yang terprogram, aku sudah mengundang rekan baikku pemilik pondok, lalu dia tiba tiba tinggalkan saja seolah dia tidak pernah mempromosikan program apa apa ke teman temanku."
"Aku, aku selalu dikorbankan, aku selalu yang menjelaskan dan berusaha kembali menyambung silaturahmi dengan mereka yang telah dirusak oleh dia, menutupi segalanya dan membuat rapi apa yang telah dia acak acak."
Sang ibu menghembuskan nafas beratnya dan melihat ke luar jendela rumahnya menuju langit biru yang membentang.
"Oh Tuhan, bahkan permintaanku adalah permintaan sederhana untuk memiliki anak yang bertanggung jawab dan memiliki sedikit bakat atau kebaikan yang bisa aku banggakan."
"Sedikit saja, nilai bagus sedikit saja atau karya sedikit saja, atau tanggung jawab sedikit saja, sungguh tidak perlu banyak banyak."
"Tapi dia kenapa benar benar kosong dan hanya berisi kepandaian memainkan sudut pandang orang orang, lalu gagal nyata di depan mata lalu kembali mempermainkan sudut pandang orang agar ia tetap dikalungi pujian."
"Benarkah ini Tuhan? Tidakkah hina semua ini Tuhan?"
"Aku malu dan hampir tidak sanggup mengakui semua rasa malu milikku ini bahkan kepada diriku sendiri."
"Lalu kenapa, sudah tidak bisa mencari nilainya sendiri, dia malah juga tidak bisa mengukur kapasitas dirinya sendiri lalu terus saja memproyeksi keinginan jauh ke langit? Aku senang melihatnya punya keinginan tinggi, tapi jika itu bukan dijadikan semangat untuk berproses tapi malah dijadikan kegilaan untuk mengejar segala simbol pengakuan, lalu untuk apa? Aku lelah, penuh rasa malu dan juga kekecewaan menghadapi masalah masalah yang ia buat."
"Oh Tuhan, salah apa aku? Aku sudah berusaha memberikan yang terbaik selama ini kenapa hasil didikanku seperti ini?"
Kepala sang ibu pun berputar putar, mengecek ulang semua yang telah dia lakukan.
"Apakah karena dia melihat posisiku ya? Apakah karena dia merasa di atas angin karena kesuksesan dan kerja kerasku dan suamiku? Apakah karena nilai nilai yang melekat padaku sehingga dia sudah merasa hebat? Apakah karena dia merasa besar karena menjadi anak ku? "
Sang ibu itu menghembuskan nafas beratnya. Dia kembali berkata di dalam hati.
"Benar dia anakku, tapi dia seharusnya tahu bahwa perjuangan dan pencapaian ini adalah nilai dan kehormatanku dan suamiku sedangkan dia harus mencari nilai dan kehormatannya sendiri alih alih menumpang pada percikan cahaya dan martabat orang tuanya saja."
"Aku bahkan tidak meminta dia membalas dan membahagiakanku, aku hanya berharap dia tidak lagi menggebu dengan pengakuan dan berhenti membuat masalah."
"Sudah sewajarnya anak menumpang harta dan sudah sewajarnya pula anak membawa bekal posisi dan nilai orang tuanya. Tapi anakku sangat tidak wajar, dia seperti keranjang penuh lubang, dia tidak bisa menciptakan apa apa dari bekal yang aku dan suamiku berikan mau sebanyak atau sekeras apapun yang kami curahkan padanya, semuanya hanyalah sia sia. Dia hanya bisa menjaga supaya semua ini bisa terus ia jadikan gaya dan hiasan tubuhnya."
...
Ibu pun dengan pikiran dan hatinya yang masih bergejolak mulai mendekatkan diri dengan keluarga laki laki itu.
Dengan reputasi dan citra baik sang Ibu, tentu kehadirannya sangat diterima oleh keluarga sang laki laki. Laki laki itupun terlihat diam mematung, tidak ada penolakan, dia hanya sangat tertutup lalu kembali berpamitan secara sopan untuk kembali ke pondoknya.
Sang anak merasa umpannya sudah mulai dilirik ikan, sedangkan ibunya sedikit lega namun juga banyak gusarnya. Ia turut linglung sambil tetap melakukan segala yang diinginkan anaknya.
Mereka pun kembali pulang ke rumah, kini lidah yang tersembunyi di bawah langit langit mulut Sang Ibu sudah begitu pahit. Dia masih menatap anaknya itu dengan nanar dari tempatnya menapakkan kaki. Sembari terus bertanya tanya di dalam hati, lagi dan lagi.
"Kenapa terlahir dari rahimku anak yang seperti ini? Oh Tuhan bukankah aku sudah mengusahakan semua di jalan yang benar, ada dosa apakah aku di masa lalu sampai aku harus menanggung ini?"
Ibu itu pun terhanyut dalam pikirannya yang penuh akan gambaran rasa lelah dan mengingat segala pengorbanan serta perjuangan dia bersama suaminya untuk menghadapi anak semata wayangnya ini.
Kemudian Sang Ibu juga berpikir.
"Apa iya lelaki itu akan mau? Apa iya, dia benar benar akan kuat menghadapi anakku? Lelaki ini adalah Orang yang sangat shalih, pandai mengaji kitab dan tafsir, sedang anakku hanya senang memakai baju baju muslimah namun memahami makhraj dan tajwid saja dia malas malasan. Orang orang mulai menggunjing, mulai mencium hal yang janggal dari perjodohan ini."
"Tapi anakku selalu saja berkata kita akan menang, sedangkan aku melihat dia lagi lagi hendak menjerumuskan keluarga ini menuju jurang rasa malu dan kecewa."
Besar sekali kegelisahan sang Ibu di dalam hatinya tapi ketika dia memanggil anaknya untuk berbicara dengannya, kalimat yang bisa sang Ibu ucapkan hanyalah, "kamu yakin nak? Kamu yakin bisa akrab dengannya? Dia memang sedang mencari calon tapi dia terlihat sangat tertutup dan pilih pilih? Bagaimana jika nanti laki laki itu menerimamu karena dia kelelahan dan terdesak saja?"
Kemudian ibunya pula menambahkan pesan peringatan kepada anaknya.
"Nak, jangan karena dia seorang yang shaleh lantas kamu berpikir pasti dia tidak memiliki emosi dan keinginan untuk mendapatkan yang pantas dan seimbang untuknya, keshalihan adalah tingkat ilmu dan keimanan tapi dia tetap manusia yang butuh seseorang yang bisa dia ajak bicara hal yang sama tingkatannya. Kamu yakin akan bisa mengimbanginya? "
Perempuan itu tersinggung, sembari menunjukkan wajah kecewanya, dengan sendu ia berkata, "ibu menganggapku kecil?" Lalu mengeluarkan wajah yang membiuskan racun rasa bersalah di wajah ibunya.
Ibu itu pun terguncang, ia merendahkan nadanya lalu berkata, "Bukan seperti itu nak, tapi orang orang juga sudah ramai membicarakan segala ketimpangan yang mereka lihat dalam perjodohan kalian," Ucap Ibu sambil lemah lembut berharap sang anak mengerti lalu mundur dan mencari cinta sejatinya yang sepadan saja.
Tapi perempuan itu semakin bertekad baja dan menyakinkan ibunya dengan senyum tulusnya yang ia reka dibalut geliat pengharapan, " Tidak apa bu, justru semakin orang orang meremehkanku, aku akan semakin membuktikannya bahwa aku bisa ! Kita lihat saja! Lagian laki laki itu tidak menolak kan bu? Berarti memang aku ini berkualitas, hanya saja orang orang tidak bisa melihatnya. Ibu percaya pada anak ibu kan? Percaya padaku saja bu, anak ibu hendak bersinar." Ucapnya dengan senyum rupawannya yang membuat ibunya tak bisa berkutik lagi.
Anak itu kemudian kembali berkata kepada ibunya, "Ibu, aku anakmu bukankah seharusnya ibu bantu aku sebisa mungkin ? Itukan sudah tugas ibu, ibu juga selalu bilang akan selalu ada untukku, kita tinggal berdua dan hanya berdua, kita telah berjanji untuk saling membantu," ucap sang anak perempuan itu sembari mengelus ibunya.
Kini dia kembali merebahkan kepala kepada ibunya dengan lembut berkata, "Ibu benar kan hidup untukku? Lagipula ibu seharusnya bangga padaku dan tekadku, toh nanti ibu juga ikut bisa bangga hati kan kalau aku berada di posisi menjadi istri shalihah lelaki itu? Ibu bisa berkata ke semua orang bahwa mantu ibu adalah seorang ahli tafsir muda, murid kesayangan dari pondok yang terkenal, yang tampan, shalih dan juga cerdas."
"Aku melakukan ini semua selain karena cintaku, juga demi ibu, demi keluarga kita. Kita akan mendapat penopang yang kuat, bu. Benar kan pikiranku bu?"
"Kenapa ibu malah risau seperti orang orang? Ibu tidak percaya dengan anak ibu sendiri? Aku akan berusaha Bu? Sudah percayakan saja padaku ya bu ya?"
Ucap anak itu dengan raut wajah serius dan tak terbendung dan berlagak dengan semangat polos andalannya, kemudian ia meninggalkan ibunya seorang diri dan pergi entah merencanakan apa lagi.
...
Ibunya pun akhirnya tak berdaya, akhirnya mau tak mau pun ia mulai membantu mencitrakan anaknya bahwa dia adalah anak yang begitu luar biasa demi terpenuhinya keinginan putri semata wayangnya itu.
Dalam hati sang ibu, dia begitu gusar, "Tapi bagaimana ya? Apakah aku benar? Tapi jika aku tidak membantu anakku, apakah aku ibu yang gagal? Jika tidak aku turuti, dia nanti akan terus terusan menudingku bahwa aku ibu yang tidak mencintainya dan tidak menolongnya, baiklah aku bantu saja daripada nanti aku dihakimi sepanjang usia, toh dia anakku satu satunya."
Kemudian mimik wajah sang ibu seakan pasrah dan begitu menderita ditemani air mata yang menggenang di pelupuknya, dalam hatinya ia berkata.
"Lagipula kini suamiku sudah tidak ada, siapa lagi yang menemaniku jika bukan dia? Jika dia memberontak, siapa yang melindungiku, menjaga dan merawatku? Walau dia mungkin keliru dan selalu merepotkan, Aku hanya memilikinya seorang. Aku tidak punya siapapun lagi selain dia."
"Tapi, apakah anakku tahu bahwa aku pasti menurutinya karena aku sudah tak punya lagi pilihan dan tak punya siapa siapa selepas suamiku meninggal?"
"Oh Tuhan, apakah aku sama terdesaknya seperti lelaki itu? Oh Tuhan apakah ini jalan yang lurus? Oh Tuhan, apakah anakku memang pandai membuat orang orang terdesak untuk memenuhi keinginannya? Oh Tuhan, maafkan hamba jika hamba menempuh jalan yang salah dan tidak bisa meluruskan anak hamba."
Sang ibu kini mata sayunya melihat ke langit sana.
"Andai aku punya anak perempuan lagi selain dia, anak perempuan yang teduh dan benar benar terhormat bukan kehormatan yang palsu seperti milik anak itu. Bukan harga diri yang dipaksakan besar padahal hanya pernak pernik gaya."
"Andai aku punya satu saja anak perempuan seperti anak perempuan normal yang dimiliki orang orang, aku pasti tidak hidup selalu seperti di ujung jurang."
"Atau andai aku punya anak laki laki yang bisa tegas membelaku dari desakan halus dan drama anak itu, aku pasti tidak sesakit ini."
"Atau andai suamiku tidak pergi lebih dulu...."
Air matanya terjatuh, kini tangan yang mulai mengkerut halus itupun menghadapi pahit getir kehidupan sendirian.
"Suamiku, kenapa kau pergi terlebih dahulu membiarkanku hidup berdua bersama anak yang selalu merepotkan dan meremas jiwa kita selama ini?" Ucap sang Ibu dengan sendu di dalam hatinya.
"Suamiku, aku tidak punya pelukan lagi, aku tidak punya pelindung lagi, bisakah aku hidup menghadapinya seorang diri? Harus bagaimana aku melindungi diriku sendiri lagi? Batinku berteriak berkata bahwa dia akan membuat kehancuran lagi. Dan aku harus siap siap membereskan semuanya sendirian saat ini."
...
Kemudian karena perempuan pencari simbol dan ahli bergaya itu sudah mendapatkan dukungan serta pembelaan dari ibunya, perempuan itu semakin keras hati dan di atas angin mengejar ambisinya.
Orang orang semakin ramai menggunjing kejanggalan di dalam ranum yang ia kejar tapi dia terus bersikeras dan semakin gila memaksakan realitas.
...
Dia tidak peduli terhadap orang orang yang mulai menggunjing kejanggalan dalam apa yang dia lakukan.
Orang orang yang menegurnya supaya ia tidak jatuh dalam jurang egonya itu terdengar seperti orang orang yang iri dengki yang ingin merampas kemenangan nyata di depan matanya.
....
Singkat cerita setelah beberapa hari dari waktu baiat nikah telah dikumandangkan. Sang perempuan melihat bahwa semua usaha yang telah dia lakukan tidak membuahkan hasil seperti yang dia kira, dia pun mulai geram, "Kenapa? Kenapa semua yang aku usahakan tidak membuahkan hasil apapun? Benar benar laki laki yang tidak tahu di untung! Tidak tahu terima kasih! Padahal aku sudah hampir terlihat sempurna dan layak dengan segala pujian! Dia itu berhutang banyak padaku tapi tidak membalasnya! Karma akan menghukummya!" Hatinya berkobar panas, ia mulai jengah.
Namun dia berusaha mengontrol semuanya, dia berpikir, "tenang, tenang dulu, berbahaya jika meledak begitu saja. Aku harus mengendalikan diriku, jangan terlihat kacau dan mengemis padanya. Dia harus tahu aku terluka dan kecewa tapi jika aku marah meledak aku akan kalah, jika aku emosi, aku bisa terpleset lalu berkata terang terangan bahwa aku ingin dia terikat padaku lalu memamerkan hubungan kita. "
"Tidak tidak, itu tidak boleh, itu terlalu berbahaya. Aku harus tenang dulu menahan semuanya."
Perempuan itu berusaha menahan amarahnya, ketika suaminya pulang dari pondoknya, dia berusaha kembali mendekat menggunakan cara halus dan polos andalannya.
"Bagaimana tadi ?" ucapnya.
Laki laki itu tidak bergeming, hendak meninggalkannya ke ruang pribadinya yang juga selalu tertutup dan tidak bisa dimasuki siapapun selain dirinya sendiri.
"Aku sudah capek ya. Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini!" ucapnya sambil menggetarkan suaranya, tegas bulat tapi sambil mengamati dan menghitung pergerakan respon suaminya.
"Aku sudah berusaha, kamu tahu?"
"Aku sudah sabar. Aku sudah mengalah. Aku sudah melakukan semua yang aku bisa."
"Tapi kamu? Kamu tetap di tempat tidak pernah memandangku."
"Aku bukan minta surga. Aku hanya minta kehangatan yang seharusnya menjadi hakku."
"Seharusnya kamu memenuhi kebutuhanku, lagipula apa kurangku selama ini? Kamu hanya tidak mau melihat. Sampai kapan kamu tidak mau membuka matamu?" Suaranya mulai bergetar sedih.
Laki laki itu hanya diam tak bergeming , alih alih memeluk istrinya laki laki itu justru datang dan berbisik tenang padanya, "Kenapa lagi? Tepuk tangannya kurang ?"
Lalu laki laki itu kembali diam, pergi beranjak meninggalkan perempuan yang terkejut mematung itu sambil melangkah masuk dan mengunci ruangan pribadinya.
Sembari melangkahkan kakinya dan menahan mulutnya rapat rapat untuk tidak berkata hal hal yang buruk kepada istrinya, laki laki itu meluapkan segala amarah dengan gerutu yang meledak di dalam jantungnya.
Di dalam jantung itulah semua amarah meletus bagai kembang api yang sahut menyahut.
"Apa? Dia berkata tidak meminta surga padahal perilakunya di awal pernikahan saja dia tidak mau acara akad yang khidmat, dia butuh dilihat orang dia mengundang banyak orang dia memakai semua dekor yang berlebihan hingga keuangan ibunya sesak, bahkan ketika aku sudah mengultimatum secara halus bahwa aku tidak mau membiayai hal yang berbau riya', alih alih dia sadar bahwa aku menyinggungnya dan itu berarti larangan keras, dia malah merasa aku membebaskannya membuat pesta besar asal itu dengan uang keluarganya sendiri."
"Benar benar bebal sekali, aku bahkan tidak tahu lagi, semakin dia diberikan dakwah semakin dia berkelit penuh alasan, lalu ketika aku lelah mengikutinya sampai akhirnya jengah dan tidak mau dekat dengannya, dia berlaku sebagai korban yang begitu aku sakiti dari awal."
"Dia berkata apa? Sudah mengalah? Mengalah?"
Amarah laki laki itu mulai berkobar, dalam kepalanya terbayang potongan potongan yang menampilkan berkali kali perempuan itu memasang wajah sendu, senyum ikhlasnya yang palsu dan kata kata rendah hati yang tidak sesuai dengan pola perilaku yang dilakukannya.
Laki laki itu meledak, ia ingin sekali mengatakan semuanya pada perempuan itu namun dia hanya bisa mengatakan di dalam hati saja.
"Kau menipu aku dan keluarga besarku sebagai seorang yang alim dan manis serta polos untuk aku arahkan padahal dalam hatimu hanya ingin menumpang pujian sebagai seorang perempuan yang tiba tiba menjadi tokoh suci terhormat sepanjang masa kan?"
"Aku berusaha baik padamu menahan semuanya tapi kamu semakin menjadi, aku sudah berkata dari awal jangan terlalu pamer dan bermegah megahan, aku ingin yang sederhana saja ! apakah kau selama ini menjadi istri serta calon istri yang baik? Yang menuruti ucapanku sebagai suami dan calon suami? Tidak !"
"Aku berasal dari keluarga penuh etika, kerendahan hati, kesopanan dan juga privasi yang terhormat."
"Aku juga teringat kala itu, aku hanya tergelincir lidah ketika melihat sepatuku yang hendak aku cuci tiba tiba bersih dan secara reflek tersenyum dan berkata wah sudah bersih, lantas dia memakai kejadian itu sebagai cerita yang dipamerkan dan dibesar besarkan kepada orang orang seluruh desa bahwa dia adalah istri yang begitu berbakti lalu aku memujinya dengan pemaknaannya sendiri yang dibesar besarkan."
"Ingin sekali aku berkata di depan mukanya dengan begitu jelas."
"Kau tahu tidak betapa ngeri dan bergidiknya aku melakukan apapun setelah itu karena aku merasa segala yang aku lakukan pasti akan diumbar umbar dan dibesar besarkan, dibumbui dengan drama berlebihan lalu dijual pada semua orang agar kau mendapatkan pujian?"
"Tahu tidak? Oh pasti tidak tahu ! Kau hanya memikirkan keinginanmu sendiri selama ini."
"Aku kira nanti akan bisa saja baik kepadamu tapi kamu tidak habis habisnya membuatku semakin risih, jujur saja perutku ingin mengeluarkan isinya setiap kali mendengar, menatap dan merasakan hawa tubuhmu bahkan jika dari balik ruangan pun."
"Badanku sudah tidak sanggup, dia begitu lihai manis, sopan dan tertata. Tapi semua perilakunya mengarah pada riya' dan kepalsuan."
"Kau jauh dari perempuan yang dicitrakan ibumu, jauh sekali. Bagai pusat inti bumi menuju pusat matahari."
"Jika bukan karena ibumu wanita terpandang dan baik serta memiliki hubungan dekat dengan keluargaku, aku tidak akan sudi menuruti kemauan keluargaku untuk mengenalmu."
"Setiap kali aku ingin menjalankan tugasku sebagai suami yang perhatian dan memberikan kasih, kau mematung sambil memasang mimik wajah tak berdosa dan permainan penuh tuntutanmu itu."
"Setiap kali aku melindungi diriku untuk menjauh, kau selalu mengeluarkan wajah tak bersalah, polos, sedih namun tegar yang dibuat buat itu!"
"Kau kira aku akan semakin luluh dengan itu? Kau kira aku tidak tahu? Kau yang tidak tahu seberapa mual ku tahan perutku melihat wajah dibuat buatmu?"
"Setiap kali aku mengarahkan untuk bersikap sederhana dan rendah hati serta jauhi keinginan untuk dipuji orang lain, kau selalu membantah bahwa kau sudah rendah hati lalu berkata bahwa itu semua normal dan wajar sebagai seorang wanita. Lalu menuntutku untuk memahaminya."
"Tidak wajar! Perilaku gila seperti itu tidak wajar! Semua orang yang mewajarkannya adalah orang gila! Tidak ada kitab maupun ayat yang mengatakan perilaku riya' dan haus akan pujian kosong yang dibuat buat dari karangan yang di lebih lebihkan itu wajar dan normal! Itu semua kepalsuan dan kesombongan!"
"Dosa tetap dosa, kecacatan tetap kecacatan! Bisa bisanya aku seorang yang sangat ketat memilah ayat ini malah terikat dengan perempuan yang mengaduk aduk hal hal yang batil dengan hal hal yang haq!"
Dalam kamarnya laki laki itu dengan segenap nyawanya menahan semua, semua getaran amarah, semua getaran nyeri dari syaraf syarafnya, semua keinginan memuntahkan isi perutnya.
Dia tahan semuanya dengan begitu kuat, agar tidak tumpah kemarahannya lalu menjadi suami legam dan hitam yang khilaf kepada istrinya. Dia menahan semuanya, begitu menutup diri dan menjauh dari perempuan itu.
Kini setelah sedikit mereda gemetar dari tubuhnya itu, ia kembali menata nafasnya sembari kembali memikirkan segala hal.
Dia kembali merenungkan dan memikirkan segala hal di dalam hati.
"Bagaimana lantas aku mengarahkan orang yang tak mampu melihat kecacatannya sendiri?"
"Aku selalu ingin berlari sampai tidak tahu harus ku benahi dari mana rumah tangga ini."
"Tapi yang perempuan itu tahu adalah dia saja yang paling menjadi berkorban dan kini menjadi korban dari aku yang tidak sudi menyentuhnya, mendekapnya atau bersikap hangat serta perhatian padanya."
"Bagaimana aku harus perhatian dan hangat kepada orang yang jelas aku tahu adalah penipu ulung dan munafik?"
Tangan pria ini gemetar, seluruh hampir benar benar ingin berteriak dan tak sanggup hanya mengucapkan segala amarah di dalam hati saja.
Sebagai seorang manusia, rasanya laki laki ini ingin sekali memuntahkan segala kata kata telanjang itu di depan mata istrinya namun ia tahu ia terjerat syariat, ia tahu bahwa ia sudah tak mampu menjadi suami yang selayaknya dituntunkan maka dia memilih menahan kerusakan lebih keras dengan berusaha diam, sabar dan menghindar saja daripada semakin kelam dosa dosanya.
Laki laki itu kini berdiri di depan cermin kecil di dalam kamarnya yang terkunci itu, menatap dirinya sendiri dengan penuh rasa malang.
"Aku diam agar mulutku tidak begitu menyakitinya, tapi entahlah mungkin dia berkata dan berpikir bahwa aku sudah mangkir dari kewajibanku mendidiknya."
"Aku menghindarinya agar aku tidak refleks mendorong tubuhnya pergi atau agar dia tidak melihat aku bergidik ngeri sambil penuh risih tapi mungkin dia akan melihatku sebagai seorang suami dzalim yang tidak memberikannya nafkah batin."
"Dia hanya bisa melihat kelaparannya sendiri tanpa melihat apakah orang lain nyaman berada di dekatnya dan melihatnya."
"Semua arahan yang aku berikan dia terabas dengan segala alasan, jika aku mulai sedikit keras dia mulai mengeluarkan mimik korban."
"Bahkan dari sorot matanya pun aku merasa bahwa sedikit saja aku terpleset lidah dan membentaknya maka dia akan menggunakan kartu itu untuk semakin memojokkan dengan fitnah yang halus dipajang dan dilebih-lebihkan untuk menghancurkan namaku pada semua orang karena aku tidak sudi memenuhi keinginannya."
"Aku sudah tidak sanggup lagi Tuhan, badanku seperti ingin meledak."
Kini laki laki merebahkan badannya di ranjang kamar pribadinya, di sana lah Si laki laki mengingat ulang segala yang sudah dia alami.
"Aku sudah mengamati dari awal, bahkan dari pertama bertemu aku sudah merasakan ada hal yang janggal tapi bagaimana? dia begitu terlihat pantas, ibunya begitu ramah dan terhormat, keluarga kita saling mengenal baik antar orang tua. Aku tidak tahu harus berkata dan memakai alasan apa kepada keluarga untuk menolaknya."
"Aku pun tidak punya siapapun untuk aku perjuangkan dan juga kenalkan kepada keluargaku sedangkan getaran tatap mata dari orang orang yang mendorong untuk aku menyelesaikan fungsi sosial pernikahan ini begitu hingar bingar dan melelahkan."
"Sekarang benar saja, langkah yang aku putuskan membawaku pada parit yang tajam."
Air mata laki laki itu hendak menetes, namun bukan air mata kesedihan akan romansanya yang gagal, melainkan sebuah tetesan air mata penuh malu kepada dirinya sendiri yang gagal dalam memilah keputusannya.
Dengan linglung dia mulai menimbang nimbang segala yang dulu dia pikirkan benar namun cacat berantakan.
"Kenapa keluarga yang terhormat bisa memiliki anak yang begitu licik seperti dia? Kenapa wanita terpandang seperti ibunya bisa melahirkan anak perempuan seperti dia?"
"Bahkan jika di lingkungan yang begitu halus dan tertata dia bisa menjadi selicik itu lantas bagaimana jika dia berada pada lingkungan luar dan terhimpit keadaan?"
"Dia melakukan kesalahan sembari merasa benar, padahal perempuan yang benar benar tulus tidak akan menuntut seperti orang kelaparan yang serakah, orang yang benar benar baik dan penuh cinta tidak akan sibuk menata citra lalu membuat pameran penghakiman yang halus ketika kemauannya tidak keturutan."
"Dia tidak baik, dia hanya tergila gila terlihat baik supaya dipuji semua orang."
Laki laki muda itu menghembuskan nafas beratnya, kemudian dia melihat pada mejanya, terdapat di sana teh yang tadi pagi telah ia siapkan di ruangnya itu sebagai teman ketika ia hendak menyiapkan naskah untuk mengajar para siswa di madrasah.
Ia teguklah cangkir itu, untuk menenangkan penat di kepala dan jiwanya lalu kembali melanjutkan perenungannya.
"Jika dia benar benar baik, kenapa sibuk meyakinkan orang orang bahwa dia baik? Kenapa semua yang telah diberi dihitung hitung seolah aku berhutang padanya? Padahal aku tidak pernah meminta dan aku juga tidak suka dengan gaya hidupnya tapi dia memaksakan, semua itu adalah keinginannya sendiri lalu menuntutku seolah itu hutang yang aku butuhkan."
"Dia memaksaku ikut pada gayanya yang pamer kepada semua orang padahal aku tidak nyaman, padahal itu tidak sesuai ajaran Tuhan. Lalu tiba tiba menuntut balasan seolah semua itu pengorbanannya? Apakah dalam isi kepalanya aku seakan bodoh dan tidak tahu bahwa semua yang dia lakukan hanyalah untuk kepuasannya sendiri yang seolah olah diberikan untukku lalu tiba tiba menuntut ini itu dariku? "
"Orang orang baik yang aku kenal itu teduh, lapang, dan hangat, tidak aneh dan penuh kejanggalan yang bising seperti pancaran yang ada pada seluruh ujung kepala dan ujung kaki perempuan itu."
Sejenak pria itu mengambil nafas dan menghembuskannya kembali. Kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri.
"Tapi semuanya sudah terlanjur, sudahlah biarkan nanti juga selesai dengan sendirinya. Yang penting sekarang aku harus melindungi diriku sendiri dengan teguh dari perempuan ini."
Ucapnya sambil meneguhkan dadanya, lalu kembali menuju perenungan.
"Aku memberikannya nafkah uang untuk menebus kewajiban bukan sebagai ungkapan yang aku hayati, apakah ini memang ikatan yang ingin aku jalankan?"