Maya

Dinda Kusuma Ati
Chapter #2

Kisah cinta muda mudi

Dari balik selimut kepompong yang kaku dan gelap, sebuah kehidupan baru perlahan meretas batas. Sayap-sayapnya yang ringkih dan basah mekar perlahan di bawah terpaan sinar matahari pagi, membawakan warna-warna halus yang menyerap keheningan alam.

Ia adalah Maya, seekor kupu-kupu yang terlahir kembali setelah perjalanan panjangnya menjadi ulat, juga setelah fase mengelola semua perjalanan hidupnya dalam kepompong yang sunyi dan gelap.

Kini setelah perjalanan yang begitu panjang, siklus perubahan diri yang penuh dalam pengelolaan di kesunyian yang pekat, Maya mulai kembali melihat dunia dengan sayapnya, buah dari proses panjangnya.

Namun juga dengan segala peta dan kepekaan luar biasa dalam sekujur tubuhnya.

Di detik-detik pertama saat antenanya yang peka menyapa udara bebas, Maya tidak langsung disambut oleh harumnya kelopak bunga, melainkan oleh riak gelombang emosi dua insan manusia yang sedang bertaut di bawah naungan pohon taman. Dengan kepolosannya yang murni setelah kematiannya, Maya mengepakkan sayapnya untuk pertama kali, melayang perlahan mendekati dua tokoh muda yang tampak begitu indah itu.

...

Sepasang muda-mudi sedang mengikat kasih penuh impian dan cita-cita mulia.

Sang Maya melihatnya dengan indah karena mereka tidak seperti remaja yang terlena dengan kebutuhan biologisnya.

Maya pun hinggap di dahan untuk menyaksikan mereka berdua yang sedang berdiskusi bersama.

"Kamu bagaimana? Tidak jadi menempuh pendidikan perawatmu?" ucap si Pria.

Si perempuan muda itu hanya diam menunduk.

Pria itupun seperti terkejut dan berkata, "Tapi beasiswamu? Tapi perjalanan kita? Aku sudah menemanimu belajar dan kamu tinggal selangkah lagi loh! Kamu buang itu semua?" ucap si laki-laki.

Gadis muda itupun berusaha mengangkat kepalanya dengan sorot mata teduh yang seolah memohon sebuah pengertian.

"Ibuku memintaku menjadi guru. Dalam pandangan keluargaku perempuan haruslah mendidik anak-anak dan banyak mendampingi mereka di rumah, sedangkan menjadi perawat jam kerja serta bebannya begitu tinggi. Keluargaku tidak setuju, Kak."

Sang lelaki muda itu pun berhenti bernafas sejenak. Terbuka lebar kedua matanya, dengan suaranya yang bergetar ia berkata.

"Tapi aku sudah cerita kepadamu semua, kan? Adikku meninggal karena ibuku tidak tahu bagaimana cara merawat seorang anak." Ucapnya sembari menatap lekat wajah tercintanya itu sembari berkaca kaca.

Gadis itu pun menunduk, di satu sisi yang lain terdapat pula Maya yang tengah merasakan getaran dalam jantung sang gadis muda itu.

Maya merasakan segala getaran dari batin Sang gadis muda. Seberapa kecewanya tercinta Sang laki lakinya dan seberapa mengecewakannya ia namun ia pula merasa berat dengan keinginan sang tercintanya itu, dia setuju dengan arah orang tuanya bahwa menjadi pendidik saja karena dia pun merasa takut tidak sanggup menghadapi segala beban dan beratnya tantangan di dunia kesehatan, terlebih ketika sang tercintanya pun sudah berada di sana. Kini dalam jantungnya yang penuh ombak lautan yang menderu naik turun antara malu dan juga harap itu, Sang perempuan hanya berharap kecil dan juga berserah diri di hadapan tercintanya.

Dengan suara lembut dan lemahnya ia berkata, "Tapi kan Kak, kamu sudah menjadi mahasiswa kedokteran, kamu sudah menjadi dokter, bukankah sempurna jika aku berperan sebagai pendidik untuk mendampingimu dan mendidik anak anak kita nanti?"

Lelaki muda tercintanya itu ternyata tak sanggup menerima pemahaman dari Sang Gadis, dalam kepalanya masih berputar putar segala ketakutan yang menjerat kaki hingga urat nadi di lehernya.

"Tidak, tidak bisa. Kamu egois, aku tidak mengerti." Ucapnya dengan penuh kecewa dan air mata yang sudah menggenang di pelupuknya.

Sembari menatap gadis tercintanya, Pria itu perlahan mendekat, memeluk dengan begitu erat dan lekat, mengelus halus pundak gadisnya kemudian berbisik.

"Kita sudahi saja. Kamu kejar impianmu itu, nanti kita lihat lagi di masa depan apa yang terjadi. Jaga diri baik baik ya, kamu perempuan tercintaku."

Ucapnya sambil bergetar sembari perlahan melepas pelukannya dari tubuh sang gadis.

Tanpa menunggu balasan apapun, lelaki muda itu langsung melangkahkan kakinya pergi menjauh meninggalkan seorang gadis yang kakinya kini runtuh dan sulit untuk berdiri tegak menapak tanah.

...

Di atas dahan tempatnya hinggap, kepakan angin di sekitar Maya mendadak berubah dingin dan tajam. Antena tipisnya bergetar ngilu menangkap gelombang impian yang pecah mendadak. Udara manis di taman itu seketika dipenuhi jelutuh keputusasaan.

...

Sayap Maya kini tertunduk lesu di dedaunan itu.

Sembari melihat sang gadis yang masih linglung masih kehilangan kesadaran setelah melihat segala reruntuhan hati, harapan dan juga laki laki yang selama ini menggenggam tangannya itu.

Gadis muda itu tak lagi bisa mengatakan sepatah kata pun, ia pun tak memikirkan apapun. Ia hanya terkejut, berusaha menyimpan sisa sisa kehangatan yang beberapa detik lalu sudah ia ketahui akan menghilang dari tangannya.

Maya kini tertunduk lesu pula, sama runtuhnya dengan gadis yang dia tatap dengan kedua mata besarnya.

Dengan tubuh yang baru saja menyapa dunia, dengan hati yang begitu terasa rumpang, dengan seluruh getaran keruntuhan bising yang menderu seluruh syaraf di tubuhnya, Maya pun mengeluhkan apa yang ia lihat.

"Sayang sekali, cinta yang sudah diusahakan indah ini tertutup trauma salah satunya."

"Andai dia menyembuhkan dirinya terlebih dahulu, dia tidak akan sakit, dan pula tidak akan menyakiti hati tercintanya, mereka bisa bersama tepat sebagai sebuah pasangan seindah apa yang mereka impikan dan mereka tata dalam kepala mereka."

...

Maya kini terdiam, turut bersedih melihat gadis itu sendirian di taman dengan buku-bukunya yang kini mulai basah oleh air mata.

...

Lihat selengkapnya