Pada jalan yang dilewati menuju tempat beristirahat Sang Maya, terdapat beberapa rumah yang getarannya begitu menarik sebab seolah seling bersautan menyapa luka yang sama.
Maya pun mulai mengamati keadaan dari sumber getaran getaran ketiga rumah yang berbeda itu.
Pada rumah pertama, seorang anak laki laki belia terlihat baru saja kembali dari kegiatan di sekolahnya. Ia kemudian menyiapkan bahan bahan untuk membuat donat dengan lumuran tepung gula halus untuk dijualkan di depan rumahnya.
Tak lama kemudian ayahnya datang menggerutu "buat apa sih kamu bekerja seperti ini cuma nyari uang receh? Sekolah yang pinter nanti biar jadi orang sukses, malah sibuk jualan."
Anak laki laki itu hanya menunduk sembari tangannya terus melanjutkan persiapan dagangannya sembari berkata,"tapi aku kan tetap ranking satu?"
"Iya benar ranking satu, tapi ada nilaimu turun!" ucap Sang Ayah tidak mau kalah dalam argumennya.
Si anak laki laki itu pun membela diri, "itu guruku yang tidak bertanggung jawab dengan nilai! Satu kelas dia beri nilai 75 semua, hanya beberapa anak secara acak diberikan nilai 85, nilai keaktifanku paling tinggi dan kemampuan mata pelajaran ekonomiku juga bagus kok, teman temanku tahu itu, tanya saja mereka. Aku sudah berusaha dan aku memang punya kemampuan, nilai itu adalah cerminan sikap guruku yang tidak bertanggungjawab dan satu kelas pun tahu dia memang bukan keteledoran atau ketidakmampuanku!"
Sang ayah kembali berkata, "kamu terlalu banyak alasan, kau hanya sibuk berjualan mencari uang receh ini kemudian menonton film kartun !"
"Kamu tidak bisa belajar dengan tertata seperti anak anak normal seharusnya! Sudahlah lakukan saja sesukamu, sekarang Ayah tidak akan memberi tambahan untuk biaya pulsa dan internetmu, kamu beli saja sendiri dengan uang tabungan atau hasil jualanmu, lagipula kamu tidak bisa diberi tahu, dilarang berjualan juga masih keras kepala entah mau jadi apa kamu nanti."
Anak laki laki itu hanya menatap donat yang telah ia buat ruang di depannya itu dengan mata kosong yang mulai nanar.
..
Maya mulai mendengar suara dalam hati dan getaran anak laki laki tersebut.
Sambil termenung dia berkata,
"Ayah, kalau memang uang jajanku bisa membuat perutku bebas dari kelaparan selama sekolah, aku juga tidak akan keras kepala untuk berjualan."
"Anak remaja mana yang tidak bercita cita ingin beristirahat setelah penatnya pulang sekolah? Lalu bisa tidur atau belajar dengan tenang tanpa memikirkan untung rugi usahanya?"
"Akupun sangat menginginkannya."
"Aku bahkan tidak tega untuk mengeluh karena tahu kondisi ini begitu buruk untuk dipermasalahkan."
Anak itu terhenti sejenak, matanya mulai berkaca kaca. Sambil tertunduk dan menanti pelanggan ia kembali merenung dan merintih di dalam hatinya.
"Kenapa aku harus disalahkan untuk nilai yang bahkan sudah aku usahakan?"
"Aku mendapatkan ketidakadilan dan aku bingung bagaimana menuntutnya. Lalu kini aku disalahkan dan diberikan konsekuensi atas kesalahan yang bahkan bukan aku yang melakukannya."
"Aku tidak bersalah, justru akulah yang tidak diberi keadilan karena kelalaian guruku yang mengutamakan acara resepsi anaknya lalu membuat nilai karangan untuk satu kelas."
"lalu kenapa aku yang dihujam tombak?"
"Kenapa? Kenapa aku pula tidak dipercayai? "
"Lantas jika begini, aku memiliki siapa untuk merintih dan meminta pertolongan?"
"Aku hanya akan ditunjuk dan dilabeli anak yang banyak alasan. Andai jika aku memang benar benar beralasan dan membual aku tak apa, aku menerima itu. Tapi aku kan tidak melakukan kelalaian apapun, aku melakukan yang aku bisa, sebelum sebelumnya pun aku selalu cakap dalam pelajaran. Lagipula aku kan mewakili sekolah untuk Olimpiade ekonomi, jika aku memang siswa yang cacat dalam pelajaran itu kenapa aku dipilih mewakili sekolahku?"
"Kenapa aku disamakan dengan anak anak yang hanya pandai bersilat lidah untuk mencari rasa aman dari kegagalannya? Aku bukan seperti itu."
"Kenapa aku harus menanggung konsekuensi atas kesalahan yang dibuat guruku? "
"Jika rumahku saja tidak mempercayaiku sedangkan semua kenyataan lainnya saja jika ditarik lurus sudah sejelas ini, lantas kepada siapa aku meminta tolong apabila nanti aku mendapatkan ketidakadilan lagi?"
...
Kini nafas anak itu semakin berat, pembeli masih tak kunjung datang hingga akhirnya rasa sedih menariknya kembali menuju perenungan. Kini rintihan hatinya kembali menggema.
"Film? Kenapa menonton film saja berdosa? Itu hanya film kartun jenaka yang aku tonton untuk membuatku tersenyum dan tertawa bukan film yang buruk, aku bukan remaja yang terkena pergaulan bebas, aku masih menjaga diriku dengan sebaik baiknya."
"Teman temanku membeli ini itu dan aku hanya bisa melihatnya, aku menonton film untuk mengalihkan pikiran pedihku dari keinginan keinginan untuk merasakan hal yang sama dirasakan oleh teman temanku."
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu alasan apa yang mengantarkanku untuk layak pada kesakitan seperti ini."
"Tapi kenapa aku mendapatkannya? Kenapa aku diberikan? Apa dosaku melakukan ini semua? Apa dosaku atas tidak mengeluh, tetap berprestasi sambil menutupi kebutuhanku yang rumpang selama ini? "
"Kenapa?? Kenapa?"
...
Kini anak itu telah terdiam murung merenung dalam kebingungannya.
Pada keheningan itulah Maya mulai mendengar suara yang samar meluap dari sumber lain, suara itu berbunyi.
"Kenapa dia melakukan itu? Ketakutanku terwujud! Anakku tidak bisa aku cukupi? Aku tidak berhasil? Lalu sekarang nilai sekolahnya hancur? Bagaimana nanti masa depannya? Dia pasti berbohong dan mengada ada untuk menutupi nilai buruknya !"
Getar itu ternyata milik Sang Ayah yang tadi tak sengaja menancapkan tombak ke jantung kecil anaknya yang bahkan sedang berusaha untuk melengkapi dunianya sendiri yang penuh rumpang dengan segala keterbatasannya.
...
Maya pun mengambil jeda sejenak untuk mengepak jauh dari getaran mereka yang begitu pekat.
Dari kejauhan itu, Maya melihat dengan linglung, ia begitu bingung, "apakah jika ada dua hati yang terluka, hati yang dimiliki raga yang kecillah yang harus mengalah? "
"Kenapa anak kecil harus menanggung beban yang bergemuruh di hati orang dewasa? "
"Apakah karena ia lemah?"
"Apakah karena anak kecil itu belum bisa membela dirinya sendiri oleh karena itu dialah yang menampung beban lebih banyak? "
...
Maya mengamati anak laki laki kecil itu dari kejauhan.
Anak kecil itupun kembali menata warung kecilnya, kemudian ada seorang pembeli ibu ibu datang.
"Beli donatnya ya, kayak biasa aja."ucap ibu tersebut
Anak itupun langsung tersenyum dan bersemangat menyiapkan pesanannya.
Sambil menunggu, Sang ibu itu pun melihat dan mengamati usaha kecil itu lalu berkata.
"Dikasih papan nama kecil nak, biar bagus dan semakin menarik orang, sayang banget loh donat kamu ini enak empuk," ucap Ibu pembeli itu dengan lembut.
"Iya Bu, masih nabung untuk papan namanya. Minta tolong doakan nggeh supaya lancar," ucapnya sambil tersenyum kemudian memberikan pesanan itu.
Setelah pembayaran dan satu dua buah kalimat, ibu itupun akhirnya berpamitan untuk kembali ke rumah.
Karena warung kecilnya tidak sedang antri, anak itupun mencoba mencari papan nama yang dulu dia letakkan di meja ketika meminta tolong kepada bapaknya untuk dipasangkan di depan rumah.
Sudah beberapa bulan berlalu dari permintaan tolong yang diajukan itu, namun papan nama itu masih saja tergeletak di tempat yang sama.
Sang anak laki laki hanya melihat dengan nanar, ia berkata kepada dirinya sendiri, "yasudah, jangan sedih dulu, masih perlu mencari uang untuk besok dan mengerjakan tugas tugas sekolah."
...
Ia melihat kabut dalam kepala anak laki laki itu yang menahan tangis sambil isi kepalanya terputar terbayang sebagaimana nyamannya keadaan teman temannya yang tidak perlu mencari uang seperti dirinya.
Memori memori teman temannya yang berkata bahwa mereka akan mengajak orang tuanya ke toko yang baru buka karena mereka mengincar sebuah koleksi action figure yang bagus dan ada kemeja yang keren di toko. Lalu temannya yang lain yang dengan mudah tinggal memanggil dan meminta uang kepada orang tuanya hanya dengan menelfon dan merayu satu dua kalimat kemudian ia langsung bisa membeli barang yang baru saja ia lihat begitu lucu di toko.
Kemudian teman teman lainnya yang setiap minggu liburan dan diajak berkarya wisata dengan orang tuanya sedangkan dia hanya bisa mendengar cerita cerita saja lalu terdiam dan tersenyum berpura pura ceria ketika teman temannya menanyakan tentang keadaannya.
Semua kenangan berputar seperti sebuah cuplikan cuplikan sekilas yang begitu jelas mengusik kepala.
Ketika teman temannya yang bercerita tentang impian cita citanya, ia terbesit pula akan cita citanya tapi tidak hanya cita cita saja melainkan seluruh biaya yang perlu dia siapkan.
Ketika teman temannya mengajaknya untuk bersama sama membeli mainan, di dalam hati ia menghitung dan berpikir, "aku harus membuat donat seberapa banyak untuk bisa membeli ini?" Lalu lagi lagi berbohong kepada temannya dan berkata, "hmm iya keren ya, iya nanti aku pikir pikir dulu ya. "
...
Kemudian karena adanya waktu senggang, pikirannya pun kembali melesat cepat memaksanya menyapa semua kenangan pahit yang berusaha dia kubur dalam dalam.
Kembalilah muncul ingatan sendu ketika usaha donatnya dulu sedang sepi peminat sedangkan dia sedang memiliki banyak kebutuhan dan barang yang perlu diganti karena sudah rusak, ia masih teringat seberapa ketakutannya dia kala itu. Ia berusaha untuk mempromosikan donatnya tapi dia tidak tahu jalannya.
Kemudian pada saat itu ia meminta tolong ibunya, "ibu... Bisa tolong promosikan donatku? Kan ibu punya banyak teman."
Lalu sang ibu berkata, "Iya nanti, tapi ya tidak bisa kalau ibu mesti menawarkan seperti pedagang ke orang orang, ya siapa yang butuh donat baru ibu arahkan ke kamu. Ibu kan harus menjaga kehormatan ibu," Ucap sang Ibu dengan nada tingginya.
Kemudian ibunya pun menambahi, "lagipula kemarin saja ibu ingin meminjam uangmu tapi kamu tidak memberi. Sekarang minta bantuan ibu untuk promosi, seharusnya kamu tahu diri. Ini balasan dari Tuhan karena kamu tidak murah hati kepada orang tua, lihat sendiri kan kamu mendapatkan karma dengan cepat."