Maya

Dinda Kusuma Ati
Chapter #6

Kertas ujian yang lusuh

Sore hari yang teduh, Maya sedang mengepakkan sayapnya di taman suatu desa lainnya yang begitu teduh dan hangat. Hari itu adalah Hari Senin pagi, orang orang masih sibuk bekerja jadi taman indah itu masih dalam keadaan yang sunyi.

Maya pun terbang mengepakkan sayapnya dan tertidur di antara bunga bunga. Menikmati hidup tenang tanpa getaran getaran manusia.

Namun ketika hendak menutup mata, sebuah getaran aneh datang. Ia bukan getaran penuh gelap tapi getaran ceria seorang anak perempuan yang sedang melihat album album masa kecilnya.

"Aku begitu ceria dan dicintai semua orang ketika kecil ya, diriku ini kecil, lucu dan mungil sekali."

...

Lalu tiba tiba air mata gadis itu menetes, membasahi buku album itu.

Gadis itu diam, namun kini suara hatinya terdengar jelas penuh pilu.

"Tapi sepertinya mereka kini melihatku sebagai gadis yang angkuh dan dingin."

"Sepertinya aku sudah berubah menjadi monster."

...

"Uma dan Abu kini menjadi orang tua yang bijak, hangat kepada adik adik, tidak membuat adik adik kelelahan ataupun ketakutan."

"Aku turut berbahagia, sungguh berbahagia."

"Tapi aku sedih, apakah itu karena Uma dan Abu tahu bahwa membiarkan anak berjalan sendiri akan menjadikannya seperti robot yang kaku dan dingin? "

"Apakah karena mereka tahu bahwa menjadi keras kepada anak akan menjadikan anak mereka seperti aku? "

"Apakah, apakah karena sudah melihatku rusak dan jadi seperti ini?"

"Apakah aku sudah nampak seperti sebuah hasil karya kerajinan tangan yang rusak serta tak nyaman untuk dihadapi?"

"Uma, Abu, setiap hari aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa aku pernah benar benar dicintai."

"Tapi aku tetap saja selalu tidak yakin."

"Uma, Abu, kenapa?"

"Jika memang dulu agaknya ada yang salah dan kurang ketika kalian bertumbuh bersamaku sebab kalian masih di awal langkah menjadi orang tua, kenapa tidak dibenahi denganku saja?"

"Kan aku masih di sini."

...

Kini tangan halus itu mengelus lembut potret diri kecilnya yang sedang dalam pelukan hangat kedua orang tuanya.

"Uma, Abu ... Aku masih di depan mata kalian kan?"

"Tak bisakah aku menerima sorot mata teduh penuh kasih sayang itu lagi?"

"Tapi jika sorot mata itu nanti juga akan hadir, apakah aku masih bisa melihatnya? Apakah aku masih belum buta tertusuk luka?"

"Uma, Abu ... aku masih hidup dan juga bersama kalian kan ?"

Bahunya mulai bergetar, tangisannya mulai menggebu. Dengan terisak ia berbisik.

"Kenapa membenahi segalanya dengan hal yang lebih lembut hanya kepada yang lainnya?"

"Aku, aku di sini. Sendirian dengan bayanganku. Dengan rasa yang terus berbisik padaku bahwa aku adalah seorang anak yang telah rusak dalam ukuran moral anak baik yang disayang orang tuaku."

"Bukan lagi anak yang halus, lembut dan nyaman dipeluk."

"Tapi anak yang kasar, panas, tajam dan mengerikan untuk dilihat."

"Kenapa aku menjadi seperti ini?"

"Uma, Abu, aku ingin ditolong tapi aku juga sudah takut dengan pertolonganmu."

...

Gadis itu menangis penuh layu.

Lihat selengkapnya