Maya

Dinda Kusuma Ati
Chapter #4

Antigone

Keesokan harinya Maya mengepakkan sayapnya berkeliling kota, tetiba saja ia melihat seorang perempuan yang hatinya memanjatkan doa dengan ratapan kesedihan.

Setiap doanya terdengar seperti harapan namun selalu didampingi lekat perasaan keputusasaan.

Suaranya berasal dari serambi kanan jantungnya yang penuh akan harapan.

"Tuhan ... karuniakanlah padaku pernikahan yang teduh dan nyaman untuk tempatku pulang."

Kemudian doa indah itu langsung disusul dengan pertanyaan yang juga tumbuh di serambi kiri jantungnya, "tapi apakah iya bener bener ada? Apakah aku akan aman? Apakah laki laki yang tidak melelahkan itu benar benar ada? Apakah ada pernikahan yang tidak menghancurkan atau memeras perempuan? Apakah aku aman dengan doaku? Haruskah aku tarik doaku karena itu doa yang berbahaya?"

Kemudian di susul lagi dengan kekuatan dari balik serambi kanan jantungnya yang berkata "Tapi hatiku, selalu ingin memanjatkannya."

Suara suara doa seperti itu selalu terpancar dari raga seorang perempuan muda. Maya pun mengikuti perempuan itu sampai ke rumahnya.

...

Namun karena Maya tidak bisa hinggap pada kendaraan perempuan itu, Maya pun sampai di rumah perempuan itu dengan sedikit terlambat

Ketika Maya menghinggapkan dirinya pada celah jendela rumah itu, Sang Perempuan telah menangis dan sedang beradu mulut dengan ibunya.

Kalimat pertama yang di dengar Maya begitu bertentangan dengan apa yang Maya dengar ketika di jalan.

Perempuan itu berkata, "aku tidak peduli pada apapun yang Ibu katakan, aku tidak akan mau menikah! "

Sang Ibu pun meledak keras, "Mau jadi apa kamu tidak menikah? Mau jadi perawan tua kamu?"

Sang perempuan itupun menimpali, "Ya! Jadi perawan tua yang sibuk bekerja sendiri lalu meninggal! Kalau bisa cepat meninggal saja! Buat apa lagi di sini, hidup hambar cuma isinya perjuangan tanpa kasih dan ketulusan yang hangat! "

Belum sempat Ibunya kembali menimpali, Perempuan itu menegaskan dengan kalimatnya yang bertubi tubi, seolah dia sudah tidak tahan lagi menahan semua jerit batinnya dan tidak mau lagi menerima apapun keyakinan yang dipaksa untuk dia kenakan.

"Aku tidak mau menikah bu, dan apapun yang ibu lakukan atau apapun yang terjadi juga tidak akan merubah keputusanku! Jika ibu keberatan atau malu dengan keputusanku, bilang saja! Aku akan pergi jauh dari rumah sampai Ibu lupa ibu punya anak perempuan yang memalukan! "

Sang Ibu terkejut setengah mati, anak perempuannya itu memang dia kenal jarang sekali meledak tapi keputusannya jarang sekali bisa dibengkokkan.

Akhirnya sang Ibu pun merendah dan bertanya, "kenapa kamu bisa begini anakku? Ibu sudah berusaha keras untuk keluarga ini, apakah kamu tidak melihatnya? "

"Justru karena aku melihatnya bu! Aku sangat melihatnya! Ibu menangani semuanya! Apakah menurut ibu itu adalah suatu hal yang keren karena Ibu menjadi perempuan yang kokoh di tengah ombak? "

"Ya bu, ibu adalah perempuan yang mandiri, kokoh sekuat baja. Tapi ibu keras sekali, ibu keras sekali padaku, pada anak perempuan ibu sendiri."

"Aku harus bersekolah keras, aku harus melakukan ini itu, pandai memasak, mencuci, mengurus dan memperhatikan adik adikku, bertanggung jawab atas mereka, tidak memikirkan sedih lelah dan kebutuhan hidupku sendiri, hidup rasanya hanya berkorban dan berkorban, entah aku ini manusia atau sapi perah?"

"Ibu keras sekali pada anak perempuan mu, ibu keras padaku! Aku anak perempuan sulungmu! Tapi seolah aku adalah perpanjangan tanganmu bu! Aku tidak merasa dirangkul sebagai anak aku merasa Ibu menganggapku perpanjangan tanganmu yang harus dituntut banyak."

"Menjadi keras, menjadi baja, kalau bisa lebih gila daripada ibu!"

"Bu! Aku tidak mau menjadi seperti ibu apalagi lebih tahan banting daripada ibu! Jangan paksa dan keras keras padaku lagi bu! "

...

Sang anak perempuan itu pun kini terduduk lemas, menunduk ke bawah, kini air matanya menetes deras.

"Ibu keras padaku, sedangkan adik adik Ibu biarkan saja hidup sesenang mereka, apalagi adik laki lakiku! Setiap kali aku menyuruhnya aku diserang oleh ayah dan Ibu seolah aku adalah kakak yang kurang ajar? Setiap kalo aku menegurnya, alih alih ayah ibu mengerti kemarahanku, ibu semakin menuduhku sebagai seorang kakak yang keji dan gagal! Padahal aku meminta apa? Hanya bantuan untuk hal sederhana yang seharusnya jadi dasar kemampuan hidup dia saja!"

"Semua anak anak ibu, ibu anggap sebagai anak kecil terkecuali aku!"

Kini anak itu merendahkan ledakan kata katanya, dengan suaranya yang kini tenang itu, kepedihan Sang anak perempuan itu semakin menusuk.

"Ibu sangat sangat keras padaku, Ibu menuntutku jauh lebih keras bahkan daripada bagaimana Ibu meminta seorang lelaki dewasa untuk bertanggung jawab kepada rumah tangganya sendiri! "

"Lelaki dikatakan tercipta kuat, lantas mengapa yang menanggung banyak beban justru anak perempuannya? Kenapa bukan dia bu? "

"Apa karena aku lemah di sini jadi Ibu bisa mengeluarkan segala kelelahan emosi ibu padaku? "

Sang Ibu hanya terkejut dan menitihkan air matanya, kini Sang Ibu mulai menangis bersama anak perempuanya.

"Nak, memang jadi perempuan seharusnya begitu," ucap Sang Ibu.

Namun tidak lama setelah ucapan letihnya itu, Sang Anak kembali meledak.

"Ibu ! Hukum mana yang melenceng segila itu bu! Agama yang aku cari sendiri terlepas dari dogma dogma gila di budaya kita itu tidak seperti itu!"

"Buka mata ibu! "

"Tuhan gila mana yang menyuruh perempuan hidup sekeras itu sedangkan Tuhan sendiri menciptakan perempuan dalam keadaan rapuh, kondisi emosional dan hormon yang tidak stabil, siklus menstruasinya, keadaannya yang nanti mengandung anak, nifas dan menyusui?"

"Tuhan gila mana yang bodoh dan membebankan hal seberat itu pada ciptaannya yang penuh rapuh dan kelembutan bu!"

"Itu hanya kegilaan orang orang yang menyusup pada agama supaya merasa benar dan bisa mendoktrin orang orang bu! Kitab Suci yang aku baca meminta laki laki untuk melindungi perempuan dan menjadi bahu kokohnya bukan malah bersandar di balik tulang rusuknya bu!"

Sang Anak masih berusaha mengatur nafasnya, Ibu pun masih diam terisak dengan tangisnya.

Lihat selengkapnya