Maya

Dinda Kusuma Ati
Chapter #5

Haemon

Saat ini Maya pun pergi dari rumah meninggalkan Sang Ibu dengan seluruh badai kegamangannya itu dengan mengepakkan sayapnya menuju utara. 

Entah apa yang dia akan temui disana, Maya masih membawa sisa perasaan dilematis dari ibu dan anak yang saling mencintai tapi memilih terpisah itu. 

Dalam perjalanannya, Maya tetiba saja mendengar melodi piano yang begitu lembut dan indah. Harmoni itu pun menarik kepakan sayap Maya untuk mendekat. 

Namun ketika sudah dekat kepakan sayap Maya menuju sang sumber suara, kini yang bergema keras dalam satu ruangab adalah gema kegelisahan dan duka dari seorang anak laki laki yang tangannya tetap menyentuh hitam putih tuts piano dengan lembutnya sembari bahunya yang bergerak menyesuaikan irama. 

Beriringan dengan silih bergantinya tangga nada yang dimainkan, jantungnya itupun turut menggema suara, "wahai Tuhan? Kepada sesiapa kah hamba mencari tauladan?"

"Pada sesosok di timur aku melihat laki laki yang melihat perempuan yang dimilikinya sebagai pengganti ibu masa kecilnya, batinku terasa malu, ia berteriak berkata kepadaku bahwa aku tidak boleh menjadi bayi seperti itu."

"Lalu aku berpikir bahwa aku akan menoleh ke arah barat saja, di sana aku melihat seseorang laki laki yang menikah bagaikan seseorang yang mengajak perempuan untuk bekerja kelompok bersama sepanjang usia. Semuanya ditakar harus presisi dan seimbang. Hatiku kembali bergejolak menanyakan padaku dimana letak kemuliaan seorang lelaki apabila sama rata sejajar dengan perempuan dan apabila semuanya diaduk menjadi satu seperti demikian?"

"Lalu aku berpikir untuk menggeser sedikit ke atas saja pandanganku dari arah timur sebelumnya itu, menghadaplah aku di arah timur laut. Aku melihat seorang laki laki yang membantu dan mengayomi istrinya dengan tekad seorang ksatria namun aku lihat istrinya begitu tamak dan melihat dia sebagai tempat semua tuntutan hidup dikalungkan."

"Batinku kali ini bergejolak, berkata padaku bahwa aku tidak boleh membiarkan harga diriku terinjak injak menjadi seperti dia."

"Lalu aku berpikir lagi untuk menggeser sedikit pandanganku ke bawah dari tempat sebelumnya, barangkali kali ini aku melihat teladan yang membuat hatiku tenang dan merasa benar. Kini menghadaplah aku ke arah tenggara. Aku melihat seorang lelaki yang begitu mulia mendidik, membimbing, melindungi dan mengayomi istrinya. Dia pun juga tegas dalam menetapkan struktur dan meneguhkan kepemimpinannya."

"Namun aku lihat sorot mata istrinya menjadi layu, tiada berkembang isi kepalanya dan jiwa.yang ia terima dari Tuhannya. Perempuannya terlihat terantai pagar pagar yang ditetapkan suaminya."

"Lalu akhirnya aku termenung sendirian kembali bersama melodi ini."

"Oh Tuhan aku harus menghadap kemana?"

"Kini aku putuskan untuk membalikkan tubuhku untuk kembali menuju penjuru barat, pada arah pertama aku menghadap pada penjuru barat daya. Aku lihatlah seorang laki laki yang menberikan perlindungan, pendidikan, kasih sayang dan juga mengayomi istrinya, serta memberikan kebebasan karir kepada istrinya pula mendukungnya sepenuh hati."

"Tapi kini aku lihat percikan sorot mata yang merasa besar dari diri sang perempuan karena telah begitu aman sebab ia tahu kekasihnya begitu loyal mengasihi, serta rela mengorbankan diri. dia merasa bebas mandiri lalu mulailah ia menyimpan sedikit rasa lebih tinggi daripada sang suami."

"Aku menata nafasku sejenak, kini aku hanya memiliki satu arah lagi untuk aku lihat. Dengan berat hati aku menguatkan diriku agar berani menoleh ke arah barat laut."

"Ku lihatlah di sana, sosok suami yang juga loyal, tangguh, pelindung, memberikan kebebasan kepada istrinya tapi juga kuat untuk terus berkembang menjadi berdaya sehingga Sang Istri tidak melaluinya di posisi atas."

"Namun kini aku lihat pada sorot wajah sang istri yang merasa bangga namun merengek sedih ketika melihat keluarga lain bisa berkumpul lekat dalam kehangatan sedangkan suaminya dan dia hanya bisa meluangkan waktu di sela kesibukan mereka mengukir prestasi dan mencari nafkah untuk menghidupi keluarga serta menopang kedua cita cita mereka."

"Kini, akupun kembali pulang pada kenyataanku yang sekarang, bercumbu dengan pianoku yang tersayang."

"Sambil berusaha menjangkarkan diri agar tidak kembali melayang layang melihat penjuru angkasa."

"Namun tetap saja, tanganku bergerak dengan lembutnya, seirama dengan melodi yang aku mainkan namun kepalaku melayang mencari arah arah yang akan aku ambil sebagai arah sikapku berjalan."

"Lalu kembali lagi pada pertanyaan pertama."

"Wahai Tuhan, pada sesiapa kah hamba mencari tauladan?"

"Pada penjuru manakah hamba menjadi laki laki mulia yang Kau inginkan? "

"Tapi juga bisa melihat senyuman paling hidup dari perempuan yang aku cinta."

.... 

Laki laki itu kini menutup pintu pianonya dan berpamitan dengan nada lembut yang telah mendampingi jiwa dan kepenatan pikirannya yang sedari tadi melayang layang. 

Berjalanlah ia keluar, setelah ia selesai mengunci pintu dan hendak melangkah untuk berjalan melihat lihat sekitar, tetiba saja ada seorang gadis muda menabraknya. 

Dia melihat gadis itu, jantungnya berdegup kencang, dia pun memegangi dadanya. 

"Kenapa? Kenapa jantungku seperti ini? Apakah dia? Apakah dia perempuan yang aku doakan selama ini? Kenapa dia sudah datang? Padahal aku belum menemukan arah sikap yang aku yakini penuh kebenarannya." Ucapnya dalam hati. 


.. 

"Maaf kak, maaf aku tadi tidak fokus jadi tertabrak," ucap gadis itu. 

Ketika gadis itu mendongak dan memperlihatkan wajahnya, Maya pun turut terkejut. 

"Ini kan gadis yang tadi baru saja aku lihat meninggalkan ibunya!" ucap Maya di dalam hatinya.

Lalu Maya tertarik dan akhirnya berusaha melihat sebuah ikatan samar seperti benang berwarna merah yang mengikat jari kelingking Sang Gadis dan juga Sang laki laki ini. 

"Mereka? Mereka ditakdirkan?" ucap Maya dalam kebingungannya. 

Kini kedua jantung itupun berdetak sama kencangnya. Juga ketakutan yang sama besarnya diantara mereka berdua. 

... 

Pria itupun hanya tersenyum mengangguk, kemudian Sang Gadis pun memberikan senyum yang sama lalu meneruskan perjalanannya. 

Sang pria hanya menatap dari kejauhan, menahan badannya yang ingin berlari kencang lalu menggenggam tangan gadis itu dengan erat tapi apalah daya dia masih tidak memiliki kompas. 

"Memangnya mau aku ajak berlari ke arah mana jika aku nanti mengikatnya untuk bersamaku selamanya? "

"Bukankah sebaiknya aku melepasnya saja? "

Ucap laki laki itu sambil menahan perih yang berdegup seolah hendak meretakkan jantungnya. 

Lihat selengkapnya