Suara ketikan memenuhi lantai dua kantor Hayes Group Philippines. Di balik dinding kaca ruang kerjanya, Efren Nathaniel Hayes masih sibuk menatap layar laptopnya untuk menyelesaikan laporan yang harus dikirim sebelum makan siang.
"Pak Efren, rapat mulai sepuluh menit lagi."
"Ya, saya menyusul."
Tanpa mengalihkan pandangan, Efren meraih cangkir kopinya yang mulai dingin. Ponselnya yang berada di samping laptop bergetar.
Chelsea 🤍
Udah makan belum? Jangan telat lagi, sebentar lagi jam makan siang.
Senyum tipis terukir di wajahnya.
Belum sempat membalas, suara televisi di luar ruangannya mendadak membuyarkan suasana dan beberapa orang di kantor itu.
BREAKING NEWS
Beberapa karyawan spontan menghentikan pekerjaan mereka. Sebagian berdiri menghadap televisi.
Efren tidak terlalu memedulikannya.
Hingga suara pembawa berita terdengar semakin jelas.
"Sebuah pesawat rute Vancouver-Manila dilaporkan mengalami kecelakaan dalam penerbangan internasional pagi ini."
Tangannya yang sejak tadi sibuk mengetik, mendadak berhenti di atas keyboard.
Dengan satu gerakan dan langkah cepatnya, ia menuju pintu utama ruangannya.
Ceklek!
Di depan ruangannya itu, beberapa karyawan tampak berkumpul.
"Ngapain kalian di situ? Gak kerja." Ia lalu maju beberapa langkah untuk melihat televisi.
Beberapa karyawan berbisik-bisik.
"Itu kan bukannya—"
"Astaga, iya! Pak direktur utama dan istrinya kan sedang menuju pulang dari Vancouver."
Efren menatap televisi. Tubuhnya membeku, dengan keringat dingin yang perlahan luruh...
"Pihak Philippine Airlines mengonfirmasi pesawat yang mengalami kecelakaan merupakan penerbangan PR117 dengan rute Vancouver menuju Manila."
Mendengar lanjutannya, Efren menggelengkan kepala. Ia tak akan percaya, dan kini... tubuhnya mulai bergetar.
Sekretaris ayahnya, yaitu Arthur mendekat padanya dan perlahan... menarik tubuhnya untuk menenangkan.
"Pak... Pak Efren yang tenang dulu. Saya sedang mencoba untuk memastikan, lebih baik jika kita berdoa supaya semua yang diduga itu tidak benar dan bukan Pak Direktur."
Tubuh Efren bergetar, ia yang masih mematung barusan pun langsung diajak duduk oleh Arthur. Efren... tak mampu berkata-kata lagi.
Ia mengusap rambutnya kasar.
Di lain sisi... ia tidak sadar, bila ponselnya yang masih berada di meja kerja ruangannya berbunyi berkali-kali.
Hingga...
Telepon di meja kerja Efren mendadak berbunyi nyaring.
Tring... Tring... Tring...
Arthur menoleh ke arah ruang kerja Efren.
"Itu telepon Pak Efren."
Efren masih bergeming, sesekali ia melihat siaran berita di televisi yang masih tersambung sejak tadi.
Tak lama kemudian, sambungan telepone itu kembali terputus.
Lagi.
Dan lagi.
Seolah orang di seberang sana tak ingin menyerah.
Arthur bergegas memasuki ruangan Efren, lalu mengangkat gagang telepon.
"Selamat siang, ruang Direktur Hayes Group. Dengan Arthur berbicara."
Suara napas yang memburu terdengar dari seberang sambungan.
"Arthur?"
"Iya, Pak."
"Ini Jose... Jose Valerio Rouvin."
Wajah Arthur berubah tegang.
"Pak Jose..."
"Efren mana? Dari tadi saya telepon ponselnya gak diangkat."
Arthur menoleh ke arah luar ruangan, ke tempat Efren masih terduduk lemas di hadapan televisi.
"Pak Efren ada di luar, Pak."
"Apa dia sudah tahu berita itu?"
Arthur terdiam sebentar sebelumnya akhirnya kembali menjawab. "Barusan, beliau baru tahu dari siaran televisi, Pak."
"Berarti kamu belum bilang apa-apa, kan?" Jose di seberang sana terdengar berusaha tenang, namun pasti... di lubuk hatinya sama sekali tidak seperti itu.
"Belum, Pak. Saya tadi hanya menyampaikan jika masih memastikan berita tersebut, untuk kelanjutannya... saya juga masih menunggu kabar lagi."
"Baik kalau begitu... nanti kalau dia mau, suruh telepon balik ke saya. Saya mau bicara penting, tapi tunggu dia tenang dulu tidak apa-apa."
Sambungan telepon terputus.
Dan setelah itu juga... Efren terlihat masuk ke ruangan itu saat Arthur hendak keluar.
"Gak... gak mungkin..." gumam Efren sambil menggeleng. Napasnya memburu. Ia menoleh pada Arthur yang baru saja meletakkan gagang telepon.
"Arthur..."
Suaranya terdengar lirih, nyaris tak terdengar.
"Itu... bukan pesawat Daddy dan Mommy, kan?"
Arthur terdiam.
Ia ingin menjawab tidak. Namun kata-kata terasa begitu sulit keluar.
"Pak..."
"Jawab."
Tatapan Efren berubah tajam, meski sorot matanya dipenuhi kepanikan.
"Jawab saya, Arthur."
Ingatannya kembali pada pesan terakhir sang Ibu pagi tadi.
"We're boarding now. See you tomorrow."
Tangannya perlahan mengepal.
"PR117..."
Suaranya nyaris berbisik.
"Itu... nomor penerbangan mereka."
Arthur melihat atasannya itu.
"Pak Jose tadi menelepon. Beliau tadi mencoba mencoba menghubungi Bapak berkali-kali, tapi ponsel Bapak tertinggal di meja."
"Uncle Jose bilang apa?"
"Untuk sementara, beliau juga masih sama memastikannya mengenai penerbangan itu, Pak. Begitu pun dengan saya."
Dengan langkah tergesa, Efren meraih ponselnya yang sudah dipenuhi panggilan tak terjawab beberapa saat lalu.
Beberapa panggilan tak terjawab dari Unclenya, Jose yang merupakan kakak pertama ibunya.
Beberapa panggilan tak terjawab yang juga dari Auntynya, Mireya yang merupakan kakak kedua ibunya.
Jarinya bergerak cepat untuk menekan nama kontak Unclenya itu.
Telepon berdering...
Belum sampai dering ketiga, panggilan itu langsung terhubung.
"Fren..."
Suara Unclenya terdengar serak, membuat jantung Efren semakin tak karuan.
•••
Beberapa minggu setelahnya...
Rumah keluarga Efren yang biasanya terlihat tenang kini dipenuhi pelayat.
Karangan berjajar memenuhi halaman depan. Mobil-mobil terparkir memenuhi sisi jalan, sementara orang-orang silih berganti memasuki rumah.
Keluarga Rouvin, yang merupakan keluarga besar dari ibunya... sudah berkumpul.
Jose Valerio Rouvin, kakak pertama Catalina Elise Rouvin berdiri di dekat pintu masuk, menyambut setiap tamu yang datang meski dengan wajah yang jelas terlihat sendu.
Tak jauh darinya, Mireya Isabelle Rouvin yang merupakan adik pertamanya bersama suaminya sesekali membantu mengarahkan para pelayat menuju ruang utama.
Di sudut ruangan, seorang perempuan yang tak lain Jisu istri dari Jose tampak menggendong Nadien yang sejak tadi tak berhenti memeluk lehernya.
"Nadien mau Mommy... Mommy lama sekali tidak pulang-pulang, Aunty..."
Suara kecil itu membuat Jisu sesekali terdiam. Ia pun mengusap lembut rambut keponakannya.
"Iya, Sayang... Nanti Mommy pulang..."
"Tapi kapan? Sudah hampir sebulan Mommy tidak menelepon Nadien lagi..."
Jisu menatap wajah keponakannya.
"Iya... nanti tunggu ya..." Ia melihat wajah Nadien dan mengusap kepala hingga membenarkan rambut anak perempuan yang kini wajahnya tampak sedih karena menanyakan sang ibu.
Beberapa hari sebelumnya...
Setelah berminggu-minggu proses pencarian dilakukan di lokasi kecelakaan, tim evakuasi akhirnya berhasil menemukan jasad para korban.
Proses identifikasi berlangsung cukup lama.
Hingga hasil uji DNA memastikan bahwa dua di antara korban tersebut adalah Matteo Leandro Hayes dan Catalina Elise Rouvin.
Jenazah keduanya kemudian dipulangkan ke Filipina dan langsung disemayamkan di rumah keluarga Hayes.
Di tengah ruang utama...
Dua peti berwarna cokelat tua berdiri berdampingan, dikelilingi rangkaian bunga lili putih dan krisan.
Efren berdiri tepat di hadapannya.
Ia kini memakai setelan hitam, matanya sembap namun tak lagi mengeluarkan air mata.
Entah sejak kapan...
Tangisnya seolah telah habis.
Tatapannya tak pernah lepas dari dua bingkai foto yang diletakkan di atas masing-masing peti.
Senyum ayahnya... Matteo Leandro Hayes.
Senyum ibunya... Catalina Elise Rouvin.
Senyum yang kini hanya bisa ia lihat melalui selembar foto.
Beberapa menit kemudian...
Suara notifikasi memecah keheningan.
Ponsel di genggaman Efren bergetar pelan.
Satu pesan masuk.
Madeleine Rose.
Nama itu membuat tatapannya terhenti.
Sudah bertahun-tahun...
Sejak hubungan mereka berakhir, tak pernah lagi ada percakapan di antara keduanya.
Tak ada ucapan ulang tahun selama beberapa tahun ini, atau hanya sekadar menanyakan kabar.