Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #2

2. Pertemuan tak disengaja

Hampir dua bulan berlalu sejak pemakaman.


Malam itu ballroom hotel termewah di pusat Manila dipenuhi para petinggi perusahaan dari berbagai negara.


Crystal chandeliers menggantung megah di langit-langit ruangan. Alunan musik piano memenuhi sudut ballroom, sementara para tamu saling berbincang dengan gelas wine di tangan.


Hayes Group menjadi salah satu perusahaan yang diundang dalam jamuan kerja sama internasional tersebut, dan menjadi salah satu perusahaan yang paling dinantikan kehadirannya.


Bukan hanya karena reputasinya.


Melainkan karena untuk pertama kalinya, perusahaan tersebut hadir di bawah kepemimpinan direktur utama yang baru.


"Mr. Efren Nathaniel Hayes has arrived."


Suara MC terdengar pelan dari pintu masuk ballroom.


Beberapa pasang mata spontan beralih.


Seorang laki-laki bertubuh tinggi memasuki ruangan dengan setelan jas hitam yang dipotong sempurna. Langkahnya tenang, meski sorot matanya masih menyimpan lelah yang tak benar-benar hilang sejak kepergian kedua orang tuanya.


Di belakangnya, Arthur membawa beberapa dokumen kerja sama yang akan dibahas malam itu.


"Selamat malam, Mr. Efren Hayes."


"Turut berduka atas kepergian Mr. Matteo Hayes."


"Congratulations on your new position."


Satu per satu para petinggi perusahaan menghampiri untuk berjabat tangan.


Efren membalas dengan senyum profesional.


"Terima kasih."


Meski baru beberapa bulan menjabat sebagai President Director sekaligus pemilik Hayes Group, hampir seluruh keputusan perusahaan kini berada di tangannya.


Tidak mudah.


Namun, perusahaan yang dibangun kakek dan ayahnya selama puluhan tahun itu tak mungkin ia biarkan kehilangan arah.


"Pak Efren."


Arthur mendekat.


"Perwakilan dari Moreau International sudah tiba."


Efren mengangguk.


"Baik."


Ia berjalan menuju area VIP tempat beberapa CEO tengah berbincang.


"Mr. Hayes."


Seorang pria paruh baya berdiri sambil mengulurkan tangan.


"Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda."


Efren membalas jabatan tangannya.


"Saya juga."


Beberapa menit percakapan bisnis berlangsung.


Hingga... Beberapa menit percakapan bisnis berlangsung.


Pembahasan mengenai ekspansi pasar, peluang kerja sama hingga kondisi ekonomi Asia Tenggara menjadi topik utama malam itu.


"Kalau begitu, saya rasa kita bisa lanjutkan pembahasannya minggu depan di kantor kami," ujar CEO Moreau sambil kembali menjabat tangan Efren.


"Tentu. Saya akan menyesuaikan jadwal."


"Kami tunggu kabar baik dari Hayes Group."


Percakapan itu pun berakhir.


CEO tersebut kemudian berjalan menuju kelompok pengusaha lain yang telah menunggunya.


Sementara Efren memilih menjauh sejenak dari keramaian.


Ia mengembuskan napas pelan.


Baru saja belum lama ini ia memegang penuh kuasa atas perusahaan milik ayahnya yang kini... telah menjadi miliknya, namun sudah berkali-kali dan malam ini ia harus kembali bertemu puluhan orang dengan pembahasan yang berbeda-beda.


"Pak, saya ke meja registrasi sebentar."


Arthur menghampiri.


"Ada beberapa dokumen tambahan yang harus saya ambil."


Efren mengangguk.


"Silakan."


Karena ditinggal seorang diri, Efren berjalan menuju area hidangan.


Deretan minuman dan makanan penutup tersusun di atas meja panjang.


Efren mengambil segelas sparkling water.


Belum sempat ia beranjak—


Seseorang berdiri tepat di sebelahnya.


Seorang perempuan dengan blazer putih gading yang dipadukan rok hitam selutut.


Di salah satu tangannya terdapat tablet dan beberapa map tipis.


Tangannya yang lain berusaha menjangkau piring dessert yang berada sedikit lebih jauh.


Karena kedua tangannya hampir penuh, piring kecil itu beberapa kali bergeser tanpa berhasil ia raih.


Efren yang melihatnya spontan mengulurkan tangan.


Piring itu ia ambil, lalu meletakkannya di depan perempuan tersebut.


"Ini."


Perempuan itu menoleh.


"Terima ka—"


Kalimatnya terputus.


Begitu pula Efren.


Hingga keduanya menjadi sama-sama membeku.


"...Madeleine?"


Perempuan itu terlihat sama terkejutnya.


"...Efren."


Beberapa detik berlalu tanpa suara.


Mereka sama-sama tak menyangka akan kembali bertemu, kali ini bahkan... di tengah acara bisnis?


Efren memecah keheningan lebih dulu.


"Kamu..."


Tatapannya turun ke arah ID card yang menggantung di leher Madeleine.


MOREAU INTERNATIONAL


Lalu beralih pada tablet dan map yang sedari tadi dibawanya.


"Kamu kerja di Moreau?"


Madeleine mengangguk.


"Iya."


Efren sedikit mengernyit.


"Dulu bukannya kamu ambil jurusan Business Administration?"


"Iya. Aku lulus tahun lalu."

 

Madeleine tersenyum tipis.


"Sekarang aku jadi Executive secretary untuk Mr. Laurent Moreau."


Efren tampak benar-benar terkejut, namun ekspresi wajahnya berusaha ia atur sepenuhnya agar tidak terlihat.


"Executive secretary?"


"Iya."


Madeleine mengangguk.


"Baru hampir setahun."


Efren menatap ID card di leher perempuan itu. Tentu... ia tahu betul siapa Laurent Moreau.


CEO Moreau International.


Salah satu perusahaan terbesar yang memiliki jaringan bisnis di Eropa dan Asia.


Berarti... Madeleine kini berdiri di acara yang sama dengannya sebagai salah satu perwakilan perusahaan besar.


Efren mengangguk beberapa kali. "Selamat kalau gitu."


"Terima kasih. Kamu juga..."


Tatapan Madeleine mengarah pada pin kecil bertuliskan Presiden Director — Hayes Group yang terpasang di jas Efren.


Bukan ia tak tahu tentang itu, tentu saja ia sudah tahu hal itu sebelum mereka bertemu saat ini. Karena dirinya yang merupakan executive secretary dari direktur Moreau.


"Selamat atas jabatan barunya."


Efren tersenyum tipis.


"Terima kasih."


Sesaat kemudian...


Seorang pelayan melintas membawa nampan berisi beberapa gelas.

Lihat selengkapnya