Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #3

3. Satu hal penting

Keesokan harinya.


Sinar matahari pagi menembus jendela-jendela besar sebuah bangunan bergaya modern di kawasan Bonafacio Global City.


Di lantai pertama, beberapa pengunjung mulai berdatangan menikmati pameran seni yang baru dibuka sejak seminggu lalu.


Lukisan-lukisan kontemporer memenuhi dinding ruangan. Di sudut lain, beberapa patung abstrak dipajang dengan pencahayaan hangat yang membuat setiap karya tampak hidup.


"Miss Chelsea."


Seorang staf menghampiri sambil membawa tablet.


"Klien dari Hong Kong tadi sudah mengirim revisi daftar karya yang ingin dipinjam."


Chelsea mengangkat wajah dari meja kerjanya.


"Oke, kirim ke email saya dulu. Nanti saya cek satu-satu sebelum dikonfirmasi."


"Baik, Miss."


Staf itu kembali lagi.


Chelsea menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengembuskan napas panjang.


Baru pukul sembilan pagi.


Namun sejak satu jam lalu ia sudah berkeliling memastikan seluruh galeri siap menerima tamu.


Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi.


Nama yang muncul membuatnya tersenyum.


Efren 🤍


Tanpa menunggu lama, ia langsung mengangkat mengangkat panggilan telepon kekasihnya itu.


"Halo?"


"Udah di galeri?"


"Udah."


Chelsea tersenyum kecil sambil berjalan menuju jendela.


"Kamu sendiri?"


"Baru sampai kantor."


Suara Efren terdengar sedikit lelah.


Chelsea langsung menyadarinya.


"Kamu kurang tidur lagi?"


"Hm."


"Kebanyakan meeting?"


"Iya."


Chelsea terkekeh pelan.


"Kalau aku jadi Arthur mungkin aku udah nyuruh kamu pulang dari semalam."


Efren ikut tersenyum tipis.


"Arthur memang nyuruh."


"Terus?"


"Aku yang gak mau."


Chelsea menggeleng pelan sambil tersenyum kecil.


"Keras kepala."


"Sedikit."


"Sedikit katanya."


Percakapan mereka mengalir begitu saja.


Tak ada topik besar, maupun obrolan yang berat.


"Eh iya."


Chelsea tiba-tiba teringat sesuatu.


"Minggu depan kosong gak?"


"Kenapa?"


"Aku ada dua undangan pembukaan pameran. Kalau kamu sempat... temenin aku ya."


Efren lalu membuka agenda di laptopnya.


"Hari jumat malam masih kosong."


"Nah, berarti jadi."


Chelsea tersenyum puas.


"Nanti aku kirim dress code-nya."


"Oke."


Beberapa detik kemudian...


"Pak Direktur."


Arthur mengetuk pintu dari luar.


"Meeting dengan tim legal lima menit lagi."


Efren mengangkat kepalanya.


"Iya."


Ia kembali mendekatkan ponsel ke telinga.


"Aku masuk meeting dulu."


"Oke."


Chelsea tersenyum.


"Semangat kerja."


"Kamu juga."


Telepon pun terputus.


Chelsea menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum tersenyum kecil.


Ia memasukkannya ke dalam saku, lalu kembali berjalan menyusuri galeri untuk mengecek persiapan pameran berikutnya.


•••


Pagi itu suasana Westbridge International School Philippines dipenuhi suara tawa anak-anak.


Beberapa berlarian mengejar temannya di dalam kelas, sebagian lagi sibuk berebut krayon warna kesukaan.


"Nadien!"


Seorang anak perempuan berambut pendek melambaikan tangan.


"Ayo sini! Kita satu meja!"


Nadien yang baru selesai menyimpan tas kecilnya langsung berlari menghampiri.


"Iya!"


Mereka duduk berdampingan.


"Kamu anak baru ya?"


Nadien menggeleng. "Aku sudah beberapa hari kan di sini," ujarnya.


"Iya, aku tahu. Kamu pindahan dari kelas sebelah. Tapi kamu tetap anak baru, kan? Dan kamu pindahan dari Vancouver."


Nadien mengangguk semangat.


"Iya. Dulu aku memang sempat tinggal di Vancouver."


"Tapi sekarang aku sudah pindah lagi ke Manila."


Anak perempuan di sampingnya tampak penasaran.


"Memangnya di Vancouver seru?"


Nadien berpikir sebentar sebelum mengangguk kecil.


"Seru... tapi aku di sana hanya sebentar, sekitar dua tahun."


"Terus sekarang tinggal di sini?"


"Iya."


"Bareng Mama sama Papa kamu?"


Pertanyaan polos itu membuat senyum Nadien memudar sesaat.


Ia menunduk, memainkan ujung seragamnya.


"...Sekarang Nadien tinggal sama Kakak."


Anak perempuan itu mengernyitkan dahi.


"Memangnya Mama sama Papa kamu gak ikut tinggal ke sini? Mereka masih di Vancouver?"


Nadien menggeleng.


"Mereka sudah di surga, Dania."


Anak perempuan itu tampak mengerjapkan mata.


"Di surga?"


Nadien mengangguk kecil.


"Surga itu di mana?"


"Kakak bilang... itu rumah Tuhan."


"Kalau Mommy sama Daddy sudah di sana, mereka gak bisa pulang lagi."


"Terus kamu ketemu mereka kapan?"


Nadien mengangkat bahu polos.


"Nadien juga gak tahu."


"Kakak cuma bilang... kalau Nadien kangen sama Mommy dan Daddy, Nadien boleh doa sama Tuhan. Nanti, Mommy sama Daddy akan dengar. Atau... Nadien bisa datang ke rumah baru Mommy dan Daddy."


"Rumah baru?" Dania tampak berpikir.


Nadien langsung mengangguk. "Iya, mereka punya rumah baru. Rumahnya terbuat dari tanah, Dania."


Dania mendengar itu terperangah. "Semua rumah kan begitu, Nadien?"


Nadien mengangguk mantap.


"Iya. Waktu Nadien ke sana, rumah Mommy sama Daddy panjang... terus di atasnya banyak bunga."


Dania masih tampak bingung.


"Rumahnya gak ada pintunya?"


Nadien menggeleng polos.


"Gak tahu. Nadien juga tidak pernah masuk."


"Terus Mommy sama Daddy kamu makannya gimana?"


Nadien kembali mengangkat bahu.


"Nadien juga tidak tahu."


"Kakak cuma bilang mereka sekarang tinggal sama Tuhan."


Dania terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum.


"Kalau begitu... nanti kalau Mommy sama Daddy kamu pulang dari rumah Tuhan, bilang ya. Biar kita main bareng."


Nadien ikut tersenyum lebar.


"Iya!"


"Anak-anak!"


Suara guru kelas tiba-tiba terdengar dari depan ruangan.


"Sekarang semuanya duduk yang rapi, ya. Kita mau mulai belajar."


"Baik, Miss!" sahut anak-anak serempak.


Nadien segera merapikan posisi duduknya di samping Dania, sementara percakapan polos mereka pun berhenti begitu saja.


"Nadien!" bisik Dania di sampingnya.


Nadien kembali menoleh. 


"Kakak kamu umur berapa? Apa dia sepantaran dengan kita?"


Nadien langsung menggeleng. "Bukan. Kakak aku sudah bekerja di perusahaan Daddy. Sekarang Kakak menggantikan Daddy setelah Daddy pulang ke rumah Tuhan."


Dania mengangguk beberapa kali. "Ohhh... kirain masih sepantaran dengan kita." Wajahnya nampak kecewa.


"Nadien, Dania! Perhatikan ke sini."


Guru mereka melihat ke arah Nadien dan Dania, membuat keduanya sontak kembali fokus memperhatikan ke arah depan.


"Dania ajak bicara apa ke Nadien?"


Dania langsung menggeleng cepat. "Bukan apa-apa, Bu. Hanya bertanya tentang orang tua."


"Bukannya orang tua Nadien sudah meninggal?" celetuk salah satu teman mereka.


Nadien langsung menoleh menatap anak itu, juga guru mereka yang berada di depan.


"Jaden!" Sang guru menegur pelan membuat Jaden kembali menoleh ke depan.


"Bukannya benar, Bu? Orang tua dia sudah mati."


•••


Malam itu, The Peninsula Manila dipenuhi deretan tamu undangan yang hadir. Aula utama dipenuhi kolektor seni, kurator, seniman, hingga beberapa tokoh bisnis yang menjadi sponsor pameran amal internasional. 


Di depan pintu masuk, sebuah spanduk besar bertuliskan...


Art Beyond Borders Charity Exhibition


Lampu-lampu hangat menerangi setiap sudut galeri sementara alunan musik string quartet mengiringi para tamu yang mulai berdatangan.


"Fren."


Chelsea merapikan dasi kupu-kupu kecil di jas kekasihnya sambil tersenyum.


"Kamu tegang?"

Lihat selengkapnya