Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #4

4. Perubahan agenda

Siang itu, ruang kerja Presiden Director Hayes Group masih tampak lengang.


Sinar matahari menembus jendela kaca setinggi langit-langit, memantulkan bayang gedung-gedung pusat bisnis Manila.


Di atas meja kerja Efren, beberapa map laporan telah terbuka sejak satu jam lalu.


Namun, tatapannya justru berhenti pada satu halaman tanpa benar-benar membacanya.


Ucapan Uncle dan Auntynya semalam masih terus terngiang.


"Kalau kamu sudah memiliki istri yang bersedia menjadi pendampingmu dan menerima Nadien sebagai bagian dari keluarganya..."


"Menikahlah, Efren."


Tok.


Tok.


"Pak."


Arthur masuk membawa tablet.


"Dokumen kerja sama dari Moreau sudah saya letakkan di meja."


Efren mengangguk singkat. "Terima kasih."


Arthur hendak keluar, namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Efren.


"Arthur."


"Ya, Pak?"


"Jadwal saya akhir pekan depan... apa ada yang kosong?"


Arthur membuka tablet di tangannya, dan... beberapa detik ia memeriksa agenda.


"Kebetulan... Sabtu dan Minggu kosong, Pak."


"Cuma itu ya, kalau lebih dari dua hari jadwal saya dikosongkan bagaimana?"


Arthur terlihat heran.


"Bapak ada rencana?"


Efren terdiam sesaat. "Saya kepikiran... mau liburan sebentar."


Arthur kembali memeriksa agenda di tabletnya. "Sebenarnya untuk satu minggu ke depannya, apabila Bapak ingin mengosongkan jadwal... masih aman, Pak. Namun untuk minggu depannya lagi... ada kunjungan investor."


Efren mengangguk. "Oke, kalau begitu saya akan ambil libur."


Arthur mencatat perubahan jadwal itu di tabletnya. "Kalau begitu saya kosongkan agenda Bapak mulai hari Jumat sore sampai... nanti akan saya sesuaikan kembali."


"Terima kasih, Arthur."


Arthur mengangguk. "Baik, Pak. Sama-sama. Kalau begitu saya permisi."


Setelah pintu ruang kerja kembali tertutup, Efren menyandarkan tubuhnya ke kursi.


Beberapa detik kemudian, ia mengambil ponselnya dan jemarinya berhenti pada satu nama.


Chelsea 🤍


Tanpa berpikir lebih lama, ia langsung menekan tombol panggil.


Hingga tak sampai tiga dering...


"Halo?"


Suara Chelsea terdengar cerita dari seberang.


"Fren?"


"Kamu lagi sibuk?"


"Enggak terlalu. Tadi cuma baru aja selesai meeting sama tim kurator."


Efren mengangguk pelan meski Chelsea tak bisa melihatnya.


"Aku ganggu, ya?"


"Enggak."


Chelsea terkekeh kecil.


"Kamu jarang banget telepon jam segini."


Efren tersenyum tipis.


"Aku cuma mau tanya sesuatu."


"Apa?"


"Akhir pekan depan... kamu ada acara?"


Chelsea berpikir sejenak.


"Sebentar..."


Terdengar suara keyboard ditekan beberapa kali.


"Hari Jumat masih ada meeting sampai siang."


"Sabtu sama Minggu kosong."


"Kenapa?"


Efren terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata. "Mau ikut ke Bali?"


Chelsea langsung terdiam.


"...Bali?"


"Iya."


"Kampung halaman kamu, kan?"


Chelsea mengerjapkan mata beberapa kali.


"Kok... tiba-tiba?"


"Pengin aja."


Efren menjawab tenang.


"Sekalian mau ngajak Nadien jalan."


Chelsea masih tampak bingung.


"Kamu serius?"


"Iya."


"Tapi... kenapa harus Bali?"


Efren menatap keluar jendela ruang kerjanya.


"Gak ada alasan khusus."


"Cuma rasanya... sudah lama aku gak benar-benar istirahat."


Chelsea tersenyum kecil.


"Itu alasan yang masuk akal."


"Lagipula..." lanjut Efren. "Bukannya Ayah kamu juga masih di Bali?"


"Iya. Ayah lagi di rumah sama Ibu juga."


Chelsea mengangguk.


"Kamu gak biasanya ngajak liburan di pertengahan bulan begini."


"Aku cuma pengen refreshing aja. Biar gak terlalu pusing sama kepikiran terus sama yang udah berlalu. Kalau di rumah terus... aku kadang masih kepikiran Mommy sama Daddy."


Chelsea terdiam beberapa saat.


Ia tahu... Efren memang terlihat jauh lebih sibuk sejak mengambil alih Hayes Group. Ditambah lagi kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu bersamaan bukanlah hal yang mudah.


"Aku ngerti."


Suara Chelsea terdengar lebih pelan.


"Kalau memang kamu butuh istirahat... oke, kita pergi. Aku bisa kok, sekalian pulang juga ke Bali. Udah cukup lama aku gak pulang, kangen juga sama Ibu lama gak nyamperin ke sini."


Sudut bibir Efren terangkat tipis.


"Makasih. Nanti... aku juga pengen ke rumah kamu, ketemu sama orang tua kamu."


Chelsea tampak berpikir sebentar. "Kamu... mau ke rumahku?"


Lihat selengkapnya