Beberapa hari kemudian...
Langit Bali sore itu tampak cerah.
Angin laut berembus pelan, membawa aroma khas air asin yang berpadu dengan suara debur ombak.
Setelah perjalanan dari Manila sejak siang tadi Efren memutuskan mengajak Chelsea berjalan sebentar di sepanjang bibir pantai yang letaknya tak jauh dari resort tempatnya menginap.
Efren dan Chelsea berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan, keduanya sama-sama melepas alas kaki dan membiarkan kaki mereka sesekali diterpa ombak yang bergantian.
Chelsea menghirup udara dalam-dalam.
"Aku kangen suasana kayak gini."
Mereka tentunya tak hanya berdua ke Bali, Nadien dan Bi Lena juga ikut. Namun, setelah tadi siang transit setelah perjalanan berjam-jam, Nadien si anak kecil itu masih tertidur pulas hingga sekarang.
Efren menoleh pada kekasihnya itu. "Kamu dari kecil sering main ke pantai kan."
Chelsea mengangguk pelan. "Sering banget. Kalau Kakak aku lagi gak sibuk, kami pasti selalu luangin waktu buat main ke pantai."
Ia memandang garis cakrawala yang mulai berwarna jingga. "Lari-lari di pantai itu seru. Tapi... aku juga suka ke sini kalau lagi mentok cari ide. Ayah juga sering bilang kalau memang lagi sulit cari ide... coba lihat ke laut, siapa tau tiba-tiba ada ide muncul tanpa ditebak."
Efren mengangkat sebelah alis. "Kenapa harus laut?"
"Karena laut itu gak pernah benar-benar sama, kamu gak tahu itu?" Chelsea menatap kekasihnya itu dan Efren langsung menggeleng.
Jemari tangan Chelsea menunjuk ombak yang terus bergulung. "Kelihatannya sama, kan? Padahal, setiap ombak yang ada di laut itu selalu berbeda. Kalau kamu perhatiin dengan baik... pasti lama-lama kamu bakalan sadar."
"Dan... sebuah inspirasi pun begitu."
Efren mendengarkan dan memperhatikan dengan baik yang dibicarakan kekasihnya itu, ia pun mengangguk pelan untuk memahaminya.
"Ayah kamu Om Adrian memang selalu punya cara menjelaskan sesuatu dengan baik dan menarik, sampai paham kalau itu memang terjadi."
Chelsea tertawa kecil. "Kadang aku juga baru paham maksudnya bertahun-tahun kemudian."
Ia menunduk sebentar, memperhatikan ombak yang membasahi ujung kakinya.
"Dulu waktu kecil aku suka mikir... paling Ayah lagi sok puitis."
Efren terkekeh pelan. "Terus sekarang?"
"Sekarang malah aku sendiri yang kadang suka ngomong begitu buat ingetin diriku sendiri sama... ke orang di galeri, bahkan... beberapa klien atau sekadar pengunjung."
Chelsea mengangkat bahu sambil tersenyum malu. "Lucu ya."
Efren menggeleng kecil. "Gak lucu. Malah Om Andrian berarti berhasil, karena apa yang beliau ajarin ke kamu ternyata masih kamu bawa sampai sekarang."
Chelsea kembali menatap ke arah depan. "Sejak galeri mulai berkembang, aku cuma punya waktu pulang sebentar. Kadang hanya dua hari, habis itu harus balik lagi ke Manila."
Ia tersenyum tipis. "Jadi waktu kamu ngajakin aku buat ke Bali... jujur aku agak speechles, karena gak pernahnya kamu juga gitu. Oke deh, jadi aku ada waktu pulang dikit... lumayan bisa ngeluangin waktu. Dan aku... juga ngerasa sekarang ini kayak liburan, jadi kita sama."
Efren terkekeh pelan. "Jadi kita kapan mau ke rumah kamu?"
Chelsea menoleh. "Kamu udah gak sabar pengen ketemu Bapak Adrian yang terhormat? Beliau juga udah nanyain kamu dari tadi."
Efren kembali terkekeh. "Masa sih? Biasanya agak galak, semenjak tahu aku pacarin anaknya."
Chelsea tertawa. "Itu cuma kedok Ayah kok, aslinya dia suka banget sama kamu. Jangan gampang percaya sama apa yang ditunjukin, dia gengsi aja dan menjaga image di depan cowok yang jadi pacar anak ceweknya..."
Mereka kemudian tertawa bersama, hingga...
"Ayo kalau gitu!"
Mereka beranjak dari duduk, Efren yang menggandeng tangan Chelsea untuk segera pergi dari pantai itu dan menuju rumah Chelsea yang tak begitu jauh dari sini.
"Kira-kira nanti kamu bakal ngobrolin apa aja sama Ayah dan Ibu?" Chelsea mendongak menatap kekasihnya saat kini mereka tengah berjalan.
Efren sempat menelan ludah sebelum akhirnya menjawab. "Nanti kamu akan tahu sendiri," jawabnya pelan, tak menatap Chelsea.
•••
Sekitar dua puluh menit kemudian...
Mobil yang dikendarai Efren akhirnya memasuki halaman sebuah rumah bergaya tropis modern yang tak lain rumah orang tua Chelsea.
Chelsea tersenyum begitu melihat pintu rumah yang sudah terbuka sejak tadi.
"Kayaknya Ibu udah nungguin."
Efren ikut menoleh.
Di teras, seorang pria terlihat berdiri sambil menatap ke arah mobil. Dan di sampingnya, seorang perempuan berwajah hangat melambaikan tangan lebih dulu.
"Chelsea!"
Chelsea langsung turun dari mobil.
"Ibu!"