Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #6

6. Ketemu mantan lagi

Sudah sekitar satu jam setengah Efren di rumah itu... apalagi setelah obrolan yang cukup serius bersama kedua orang tua Chelsea.


Kali ini, mereka sedang berada di dekat kolam renang yang ada di rumah Chelsea.


Setelah obrolan ringan beberapa menit yang lalu, Chelsea mengajak Efren pergi menjauh dari orang tuanya... ayahnya sendiri yang memintanya. Tak menunggu waktu lama, Chelsea pun langsung mengajak kekasihnya itu ke sini untuk menikmati waktu berdua.


Udara malam jelas terasa lebih sejuk.


Di tempat itu, terdapat sebuah taman juga yang cukup luas dengan berbagai tanaman tropis yang tertata rapi.


Kemudian di sisi kanannya, sebuah kolam renang memantulkan cahaya dari lampu yang menyala di tempat itu.


Suara gemercik pancuran kecil membuat suasana terasa tenang.


Chelsea berjalan lebih dulu hingga berdiri di tepi kolam. "Tadi kamu habis ngobrolin apa aja sih sama Ayah Ibu? Aku lihat pas aku dateng kok... kayak ada yang beda dari ekspresi wajah kalian. Habis ngomongin aku, ya?"


Efren berdiri di sampingnya. Ia bisa melihat pandangan laki-laki itu sesekali beralih padanya, namun beberapa kali kembali menghindar.


Chelsea yang menyadarinya pun semakin penasaran. "Kamu kenapa, sih? Dari tadi aneh."


Efren terdiam.


Chelsea memiringkan kepala. "Jangan bilang... Ayah tadi nanya yang aneh-aneh?"


Efren menggeleng. "Enggak."


"Ayah galak sama kamu? Ngusir?"


"Enggak kok, Ayah kamu baik."


"Ibu yang jutek?" Chelsea kembali bertanya.


Efren menggeleng lagi. "Enggak, Chels. Ayah sama Ibu kamu baik, mereka menerima kedatangan aku dengan sangat baik."


"Terus?" Chelsea tampak semakin penasaran.


Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.


Chelsea akhirnya berdiri tepat di depan Efren hingga pemuda itu mau tak mau hampir bertatapan dengannya.


"Fren, lihat aku!"


Seketika Efren menatap mata Chelsea.


"Ada apa?"


Chelsea mengernyit. "Ada apa kamu bilang? Aku tanya tadi kamu ngobrol apa aja sih sama Ayah dan Ibu kenapa gak mau jawab? Apa itu rahasia?"


Efren menggeleng. "Bukan. Kamu juga harus tahu hal itu. Tapi..."


Dahi Chelsea masih mengerut menatap laki-laki di depannya. "Tapi apa?"


Efren menunduk sebentar sebelum kemudian kembali menatap Chelsea. "Aku bingung mau bilang dari mana dulu ke kamu."


"Kenapa bingung? Bilang aja, aku bakalan dengerin," ucap Chelsea lembut, ia mengusap pelan bahu Efren. "Ayo cerita aja ke aku kalau kamu ada masalah. Gak boleh mendem sendirian." Ia menggeleng menatap Efren dengan perubahan ekspresi wajahnya yang kini malah menjadi sendu, air mata mulai terlihat di matanya.


Efren langsung menggeleng cepat, ia gelagapan karena Chelsea hampir salah paham. "Chels, bukan! Sebenernya... aku ngajak kamu ke sini karena niat utamanya memang aku mau ketemu sama orang tua kamu. Aku pengen mereka tahu, kalau aku serius sama kamu. Dan... apa kamu mau nikah sama aku, Chels?"


Chelsea langsung terdiam, ia terlihat terpaku dan bahkan... membeku. Tangannya menutup mulutnya sendiri, hingga... pandangannya perlahan beralih pada sisi kolam renang di depan sana.


Jantungnya berdegup cepat, setelah beberapa saat kemudian ia kembali menatap Efren.


"Y-Ya? Kamu bilang apa tadi?"


"Apa kamu mau menikah sama aku? Maaf aku gak romantis, bahkan... aku belum siapin cincin karena belum sempet," ucap Efren pelan, namun ia menatap lekat mata gadis itu. "Dan maaf kalau terlalu cepat."


Chelsea kembali menutup mulutnya sendiri, kali ini dengan mata yang juga terpejam.


Satu menit... Efren membiarkan itu. Ia mengerti, mungkin Chelsea syok mendengarnya.


Hingga kemudian... "Tunggu." Chelsea menengadahkan satu tangannya ke Efren.


"Kamu gak lagi bercanda?" tanyanya tak percaya.


"Buat apa aku bercanda? Aku bahkan udah di rumah kamu dan lebih dulu bicara ke orang tua kamu," ujar Efren. "Kamu gak mau ya?" Ia mengerjapkan mata pelan.


Chelsea buru-buru menggeleng. "Bukan... bukan gitu." Ia mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih belum beraturan.


"Aku cuma... benar-benar gak nyangka." Tatapannya kembali bertemu dengan Efren. "Aku bahkan gak pernah kepikiran kamu bakal ngomong ini sekarang."


Efren tersenyum. "Aku tahu. Makanya tadi aku bilang maaf kalau terlalu cepet."


Chelsea menunduk sebentar, jemarinya saling menggenggam gelisah. 


"Fren... aku sayang sama kamu." 


Kalimat itu membuat Efren sedikit mengangkat kepalanya. 


"Aku juga senang... karena ternyata kamu seserius itu sama hubungan kita."


"Tapi..."


Chelsea kembali menarik napas.


"Aku belum bisa."


Efren terdiam.


"Bukan karena aku gak yakin sama kamu, atau gak bisa ngebayangin masa depan aku sama kamu gimana nantinya."


Chelsea menggeleng pelan.


"Aku cuma... belum siap untuk menikah. Umur kita juga masih muda, kan? Baru dua puluh tiga."


Efren menatap gadis di depannya itu dengan seksama mendengarnya ucapannya tanpa menyela.


"Masih banyak hal yang ingin aku lakukan. Mengembangkan galeri aku lebih dari sekarang, dan... mengenal lebih banyak orang dari kalangan seni juga yang lainnya yang bisa menambah wawasan aku juga tentunya untuk ke depannya."


"Kamu masih bisa lakuin itu semua, walaupun nantinya... status kamu udah berubah. Aku juga gak akan melarang apa pun yang kamu mau dan inginkan, itu semua masih hak kamu."


Chelsea tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Masalahnya bukan cuma itu, Efren... Kamu denger kan tadi aku bilang? Usia kita masih cukup muda, baru dua puluh tiga. Menurut aku... di usia kita sekarang ini mungkin kita masih punya emosi dan ego yang besar. Walaupun aku tahu... tergantung gimana orangnya, tapi tetep aja kan... mencegah itu lebih baik daripada kita nanti sudah menjalaninya tapi..." Ia kembali menggeleng di akhir. "Dan aku gak mau egois mengambil keputusan secepat itu untuk menikah di usia sekarang."


Efren mengangguk pelan beberapa kali. Ia berusaha memahami maksud Chelsea. Sebenarnya... jauh di dalam hatinya, ia pun tidak pernah benar-benar berniat terburu-buru menikah. Namun, percakapan dengan Uncle dan Aunty beberapa waktu lalu terus menghantuinya.


"Sebenarnya... ada satu hal yang perlu kamu tahu."


Chelsea kembali mengangkat wajahnya menatap laki-laki itu. "Apa?" tanyanya lembut.


"Tapi... salah satu alasan kenapa aku tiba-tiba ngajak kamu menikah... karena Uncle sama Aunty mendesak aku."


Chelsea mengernyit pelan.


"Mereka bilang... kalau aku tetap memilih hidup sendiri dan belum membangun keluarga, mereka akan mengambil hak asuh Nadien."


Chelsea membelalak kecil.


"Apa?"


Efren mengangguk pelan. 


"Mereka bilang... Nadien butuh sosok orang tua yang lengkap. Mereka khawatir aku gak bisa membesarkan dia sendirian sambil ngurus semuanya."


Ia menundukkan pandangannya sesaat.

Lihat selengkapnya