Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #7

7. Penyesalan dan ketakutan

Pagi datang begitu cepat.


Langit Bali masih diselimuti warna jingga pucat ketika Efren sudah berdiri di bibir pantai. Ombak bergulung pelan, menyapu pasir yang masih basah oleh air laut semalam. Angin pagi berembus sejuk, tetapi sama sekali tidak mampu meredakan sesak yang memenuhi dadanya.


Ia berdiri cukup lama.


Tatapannya lurus ke arah cakrawala, namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana.


Semalam...


Semuanya kembali memenuhi kepalanya tanpa ampun.


Pertemuan yang seharusnya hanya kebetulan, dan percakapan yang awalnya terasa canggung. Lalu... keputusan-keputusan bodoh yang lahir karena emosi dan alkohol.


Efren mengusap wajahnya kasar.


"Brengsek..."


Suara itu keluar lirih, ditujukan kepada dirinya sendiri.


Ia mengingat dengan jelas apa yang telah terjadi. Tidak ada sedikit pun bagian dari ingatannya yang hilang.


Justru itulah masalahnya.


Ia mengingat semuanya.


Termasuk bagaimana ia telah membiarkan emosinya menguasai akal sehat.


Tangannya mengepal kuat di dalam saku celana.


"Gue sama dia lakuin itu lagi?" gumamnya, kemudian menggeleng pelan berkali-kali. "Hal yang cuma dulu gue lakuin waktu gue sama dia masih menjalin hubungan dan baik-baik aja? Terus yang semalam artinya apa?" Ia memejamkan mata erat.


Beberapa jam sebelumnya, ia baru saja datang menemui kedua orang tua Chelsea di rumah kekasihnya itu untuk berbicara hal yang serius, begitu pun dengan Chelsea.


Namun, yang ia lakukan setelahnya... Efren kembali menggeleng.


"Gak, gue gak ada niat selingkuh sedikit pun. Itu bukan gue, dan gak ada hal yang belum selesai dari masa lalu," batinnya.


"Gue datang buat minta seseorang jadi istri gue, terus bisa-bisanya gue setelahnya ngelakuin hubungan sex sama orang lain?" lirihnya, ia menatap lurus ke arah depan. "Gak habis pikir."


Rasa bersalah itu sangat ada, dan justru datang dari bersamaan dari dua arah yang berbeda.


Pada Chelsea, juga... Madeleine.


Ia tahu, Chelsea tentu tidak pantas diperlakukan seperti itu.


Sementara Madeleine...


Perempuan itu mengapa harus datang lagi ke kehidupannya setelah bertahun-tahun mereka tak pernah saling tahu kabar masing-masing?


Kemunculannya yang beberapa kali di hadapan Efren dalam beberapa waktu ini, hampir... ah tidak, bahkan sudah mengacak-acak semuanya. Terlebih... semalam.


Efren membenci dirinya kali ini.


"Dalam hidup yang cuma sekali ini... kenapa harus banyak hal yang belum gue tuntasin juga?" gumamnya. "Kenapa makin ke sini makin banyak tuntutan, bahkan lebih dari tuntutan yang biasanya Daddy kasih buat gue," batinnya.


Efren mengembuskan napas panjang.


"Apa yang harus gue lakuin sekarang?"


Tak ada jawaban.


Hanya deburan ombak yang silih berganti memecah keheningan pagi.


Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa benar-benar tersesat.


Bukan karena ia kehilangan arah.


Melainkan, karena ia sendiri tidak lagi tahu... ke mana seharusnya ia melangkah.


Matanya memejam erat, merasakan udara pagi di panti itu.


"Aku harus apa, Mommy? Setelah kepergian kalian, aku hampir gila rasanya karena banyak hal yang belum aku mengerti dan harus belajar lagi... maaf kalau nantinya mungkin aku belum bisa menjaga adikku sepenuhnya."


Hingga suara lirih dan samar terdengar di telinganya. "Itu tidak masalah, Efren. Banyak yang menyayangi Nadien, untuk sementara kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan itu. Dan yang paling penting... kamu harus cukup memilih satu wanita dalam hidupmu, jangan kaitkan yang lain kalau kamu belum selesai dengan salah satunya."


Efren seketika membuka mata dan menoleh, mencari sumber suara itu. Namun... tidak ada siapa pun di dekatnya, dan sesaat kemudian ia melirik bulu-bulu di tangan dan kakinya yang sudah berdiri tegak.


•••


Sementara itu...


Di sisi lain dunia.


Madeleine terbangun dengan kepala yang masih terasa berat.


Sinar matahari yang menembus celah tirai membuatnya spontan menoleh ke arah jam digital di atas nakas.


08.17 WITA.


"...Astaga."


Ia langsung terduduk.


Rapat.


Hari ini ada rapat kerja sama penting dan bosnya pernah bilang jika rapat itu sudah jauh dipersiapkan bahkan semenjak tiga bulan yang lalu.


Madeleine segera turun dari tempat tidur. Kepalanya masih dipenuhi bayangan semalam, membuat gerakannya beberapa kali terhenti.


Ia memejamkan mata sesaat.


"Jangan dipikirin dulu."


Namun semakin mencoba mengabaikannya, semakin jelas potongan kejadian semalam muncul di benaknya.


Percakapan mereka, hingga tatapan Efren. Lalu... Madeleine menggigit bibir bawahnya pelan.


"Aku gak boleh hamil..."


Kalimat itu keluar hampir tanpa suara.


Namun, ia kembali melirik ke jam digital. "Tapi... udah jam segini." Ia terlihat ketakutan.


Dirinya tadi pulang ke kamarnya ini entah di jam berapa, yang jelas masih gelap. Ia tak sempat memeriksa jam, yang dirasakannya hanya kepalanya yang terasa begitu berat.


Madeleine segera meraih tasnya, mengenakan pakaian seadanya, lalu berdiri beberapa detik di depan cermin.


Ia menatap pantulan dirinya sendiri.

Rambut yang biasanya tertata rapi kini hanya disisir sekadarnya. Riasan wajah pun jauh lebih tipis dari biasanya.


"Aduh..." Ia mengembuskan napas pelan sebelum mengambil botol parfum mahal yang selalu dibawanya.


Beberapa kali semprotan memenuhi leher, pergelangan tangan, hingga pakaiannya.


Setidaknya...


Ia berharap aroma alkohol yang masih samar menempel di tubuhnya telah tertutup.


Tanpa membuang waktu lagi, Madeleine berlari keluar kamar.


Ketika tiba di area sebuah aula besar tempat rapat diadakan, Madeleine langsung disambut oleh seorang staf panitia yang tampak panik.


"Miss Madeleine! Kami sudah menghubungi Anda berkali-kali."


Madeleine spontan mengeluarkan ponselnya. 


Belasan panggilan tak terjawab. 


Puluhan pesan.


Jantungnya langsung berdegup semakin cepat.


Lihat selengkapnya