Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #8

8. Teman semasa sekolah

Keesokan harinya.


Matahari pagi bersinar sejak pagi.


Kawasan Rouvin Ocean Resort Bali tampak jauh lebih ramai dibanding hari sebelumnya. Beberapa tamu berlalu-lalang menikmati fasilitas resort yang menghadap langsung ke Samudra Hindia, sementara di sisi lain sejumlah staf sibuk mempersiapkan rangkaian acara keluarga besar Rouvin yang akan berlangsung hingga malam nanti.


Madeleine berjalan menyusuri koridor utama sambil membawa tablet di tangannya.


Setelah kemarin, Laurent memutuskan memperpanjang masa tinggal tim Moreau International selama dua hari. Masih ada beberapa poin kerja sama yang harus ditinjau langsung di lapangan sebelum penandatanganan kontrak dilakukan.


Karena itulah, pagi ini Madeleine kembali berada di Rouvin Ocean Resort Bali sebagai perwakilan tim Moreau International untuk memastikan seluruh kebutuhan kerja sama berjalan sesuai rencana.


Sesekali ia berhenti untuk berdiskusi dengan staf operasional, mengecek dekorasi, hingga memastikan seluruh kebutuhan klien telah terpenuhi.


"Miss Madeleine."


Seorang staf menghampirinya.


"Mr. Laurent meminta Anda mengecek area beach lawn. Para kolega kita kabarnya sudah mulai berdatangan."


"Baik."


Madeleine mengangguk singkat sebelum kembali melangkah.


Di waktu yang hampir bersamaan...


Seorang laki-laki bertubuh tinggi berjalan dengan santainya, kemudian di belakangnya disusul seorang perempuan paruh baya yang tak lain sudah sejak lama menjadi pengasuh keluarganya itu menggandeng seorang gadis kecil berusia lima tahun yang sesekali berlari kecil sambil memegang boneka kelincinya.


Tak lupa, sebuah stroller juga dibawa oleh pengasuh itu sambil sesekali menuruti Nadien yang berjalan ke sana kemari.


"Kak Efren! Lihat laut!"


Efren memperhatikan adiknya itu, ia tersenyum sesekali untuk menanggapi ocehannya.


"Iya, gak usah lari-lari, pelan-pelan aja."


"Iyaaa!"


Setelah membalas ucapan kakaknya, anak perempuan itu tetap saja berlari untuk mendekati sebuah pagar pembatas pantai dengan pengasuhnya yang sigap mengikuti dari belakang.


Efren hanya mengembuskan napas panjang, tak heran lagi ia dengan kelakuan adiknya. Ia pun geleng-geleng kepala.


"Kalau kamu lari-lari terus kayak gitu, kasihan nanti Bi Lena encok ngikutin kamunya yang tiba-tiba entah udah di mana," ujar Efren masih memperhatikan sang adik. "Kakak aja suka pegel."


"Gak kok, Kakak. Nadien kuat!"


"Iya, kamu kuat. Yang capek itu orang-orang yang ngejar kamu."


Bi Lena hanya tertawa kecil sambil menggeleng.


"Gapapa, Tuan Efren. Namanya juga anak kecil."


Belum sempat Efren menjawab, sebuah suara laki-laki terdengar dari arah belakangnya.


"Fren?"


Efren spontan menoleh.


Raut wajahnya yang sejak tadi datar perlahan berubah.


"Rence?"


Laki-laki itu langsung menghampiri sepupunya dan menepuk pelan bahunya.


"Busett, gue kira lo masih di Manila."


Efren terkekeh.


"Harusnya emang di sana. Tapi Nadien udah lama minta diajak liburan."


"Nadien yang minta diajak liburan apa lo yang pengen main ke rumah pacar?" Terence menatap selidik sepupunya itu.


Efren hanya mendengus pelan. "Mulai lagi."


Terence terkekeh puas melihat ekspresi sepupunya. "Gue nanya serius."


"Ya gue serius juga jawabnya. Emang kebetulan gue sengaja juga mau ajak Nadien liburan, daripada di rumah terus. Yang ada, bakalan nanya soal Mommy Daddy terus kan, gue kadang bingung jawab apa lagi soalnya anak kecil suka gak ngerti. Lo pasti ngerti, bocil lo aja dua."


Terence mengangguk pelan, seolah percaya. "Terus Chelsea mana?"


Pertanyaan itu membuat senyum tipis di wajah Efren perlahan menghilang.


"Hm?"


"Gak ikut?"


Efren menggeleng singkat.


"Enggak."


"Cuma itu jawabannya?"


"Iya."


Terence memperhatikan sepupunya beberapa detik. Jawaban sesingkat itu... membuat dirinya menyimpulkan beberapa hal yang ditebaknya.


"Oke, gue gak bakal kepo."


Terence memilih tidak bertanya lebih jauh.


"Bagus." 


Efren tersenyum tipis.


"Eh, Uncle Jose sama Aunty Jisu udah datang belum?" tanya Efren mengalihkan pembicaraan. 


"Udah dari tadi pagi. Mereka lagi sama Uncle Juan dan Aunty Mireya di ballroom. Gue sama Keyna kabur bentar nemenin anak-anak."


"Papa!" 


Terence spontan menoleh.


Ansel berlari ke arahnya, dengan Keyna yang berada di belakang sembari menggendong Savero.


"Nah, tuh mereka."


Keyna tersenyum ketika ketika melihat Efren.


"Halo, Fren."


"Hai, Key. Itu gak niat mau nambah anak? Kayaknya Terence masih kurang."


Terence langsung melotot tajam pada sepupunya itu. "Mana ada ya! Lo sana nikah, ngerasain punya anak."


"Lah gue sekarang juga udah ngerasain punya anak. Seumuran tuh, sama anak pertama lo," balas Efren, ia kembali menoleh ke arah Nadien dan memperhatikan adiknya itu tengah asik bermain dengan pengasuhnya.


Sementara mereka berbincang, tak jauh dari sana... Madeleine baru saja tiba di area beach lawn sesuai instruksi Laurent.


Tablet masih berada di pelukannya ketika tanpa sengaja pandangannya mengarah ke sekelompok orang yang sedang berdiri tidak jauh dari bibir pantai.


Langkahnya perlahan terhenti.


"...Efren."


Keyna yang sejak tadi menggendong Savero itu pun tatapannya yang semula menyapu sekitar, lalu... kini berhenti pada satu sosok yang mencuri perhatiannya.


Kemudian... ia menoleh pada Efren, setelahnya pada suaminya sendiri.

Lihat selengkapnya