Sore harinya, langit Bali mulai berubah menjadi jingga keemasan.
Pantulan cahaya matahari yang perlahan turun menyelimuti bibir pantai Rouvin Ocean Resort Bali dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding siang tadi.
Angin berembus pelan, membuat rambut Chelsea berkibar saat ia berjalan berdampingan dengan Efren. Bersama mereka juga ada Nadien yang terlihat tertidur pulas di stroller yang didorong Efren.
Siang tadi, Chelsea baru saja menghubungi Efren setelah hari kemarin mereka sama sekali tak saling bertukar kabar seperti biasanya.
"Baru lima menit duduk di stroller, udah langsung tidur."
Tak jauh di belakang mereka, ada Terence terlihat menggandeng anak pertamanya Ansel, sementara Savero ditaruh Keyna ke stroller yang didorongnya.
Tak salah, mereka memang janjian pergi ke sini bersama.
Terence sambil menggandeng putra pertamanya terlihat tak jauh dari mereka, ia melirik Nadien.
"Namanya juga anak kecil, Acel kalau udah naik stroller juga kalau dia udah ngantuk aja baru mau. Kalau gak ngantuk, mintanya digendong." Ia lalu terkekeh melihat anak perempuan yang tertidur di stroller sambil memeluk boneka kelinci.
"Iya, biarin aja. Nanti juga bangun, kan janjinya pengen jalan-jalan," ujar Chelsea, tersenyum melihat Nadien yang terlihat pulas sekali.
Mereka terus berjalan menyusuri bibir pantai.
Hingga...
Pandangan Chelsea tanpa sengaja menangkap sosok perempuan yang duduk sendirian di atas bean bag menghadap laut.
Rambut panjangnya dibiarkan terurai.
Di sampingnya hanya ada segelas minuman dan sebuah buku yang belum sempat dibuka.
Chelsea merasa wajah itu tidak asing baginya, beberapa detik kemudian ia baru mengingatnya.
"Itu..." Ia menoleh ke arah Efren.
"Bukannya temen SMA kamu yang waktu itu dateng ke makam?"
Langkah Efren ikut terhenti.
Pandangannya otomatis mengikuti arah yang ditunjuk Chelsea.
Madeleine.
Perempuan itu juga rupanya baru menyadari keberadaan mereka.
Tatapan mereka sempat bertemu. Namun, hanya satu detik.
Madeleine segera mengalihkan pandangannya kembali laut seolah tidak terjadi apa-apa.
Chelsea memperhatikan itu.
"Kok bisa ada di sini juga?" tanyanya pada Efren, ia menatap kekasihnya lebih seksama.
Lalu...
"Keyna sama Terence apa kenal juga?" tanyanya pada dua orang itu, karena merasa Efren terus diam.
Keyna menatap Chelsea sebentar, lalu beralih ke Terence.
"Kemarin habis ada rapat besar di aula resort, Chels. Mungkin dia jadi salah satu perwakilan." Terence kali ini membuka suara.
Chelsea mengangguk pelan.
"Oh..."
Jawaban itu terdengar biasa saja.
Namun entah mengapa, tatapannya kembali tanpa sadar mengarah kepada Madeleine yang masih duduk begitu tak jauh dari mereka.
Perempuan itu sama sekali tidak menoleh lagi, seolah benar-benar menikmati suara ombak di depannya.
"Ya udah, lanjut jalan aja, yuk," ajak Keyna.
Mereka kembali melangkah.
Efren tetap mendorong stroller Nadien di samping Chelsea.
Chelsea sesekali melirik ke arah Efren.
Laki-laki itu tampak lebih pendiam dari biasanya.
Tangannya memang masih mendorong stroller, namun pandangannya seperti kosong, seolah pikirannya sedang di tempat lain.
"Fren?"
"Kenapa, Chels?"
"Kamu kenapa?"
Efren langsung menoleh.
"Kenapa memangnya?"
Chelsea menggeleng kecil.
"Dari tadi diem aja."
Efren tersenyum tipis. "Gak kenapa-kenapa."
Chelsea tidak langsung percaya.
Ia mengenal Efren sudah dua tahun ini, dan itu cukup lama bukan?
Kalau laki-laki itu sedang menyembunyikan sesuatu, wajahnya selalu menjadi lebih tenang dari biasanya. Terlalu tenang, justru.
Chelsea memilih mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi. Mungkin... Efren memang hanya sedang lelah.
Di sisi lain...
Madeleine masih duduk di tempatnya.
Gelas berisi minuman dingin di sampingnya sudah mulai dipenuhi embun, sementara buku yang tadi ia bawa sejak awal belum juga sempat ia buka.
Tatapannya tetap lurus ke arah laut.
Namun pikirannya...
Sama sekali tidak berada di sana.
Tanpa sadar, pandangannya kembali bergeser ke arah rombongan yang kini berjalan semakin menjauh.
Ia melihat Chelsea berjalan di samping Efren.
Sesekali keduanya saling berbicara pelan.
Di depan mereka, stroller yang didorong Efren bergerak perlahan mengikuti langkahnya.
Nadien masih tertidur pulas.
Madeleine mengembuskan napas pelan.
"...Lucu banget."
Gumamannya nyaris tak terdengar, bahkan oleh dirinya sendiri.
Ia memaksa dirinya kembali menatap laut.
Namun hanya beberapa detik.
Tanpa sadar, matanya kembali mencari sosok kecil di dalam stroller itu.
Boneka kelinci yang dipeluk Nadien membuat sudut bibir Madeleine terangkat tipis.
"She's adorable..."
Ia tersenyum kecil.
Lalu senyum itu perlahan menghilang.
Ada rasa sesak yang kembali memenuhi dadanya.
"Aku ingin menyapanya lagi. Sekali saja, apa tidak bisa? Aku tak pernah rasanya melihat anak perempuan selucu itu."
Madeleine menundukkan kepalanya.
Ia sadar...
Semakin lama dirinya ia berada di sini, semakin sulit pula ia mengendalikan kenangan-kenangan yang selama bertahun-tahun berhasil ia simpan.
"Besok aku pulang."